Pendahuluan
1. Makna memperingati hari kematian Tuhan Yesus adalah momen merayakan jalan penghubung antara Allah dan manusia (surga dan dunia).
Bila kematian Tuhan Yesus dianggap sebagai kebodohan bagi dunia ini (orang Yunani) dan kesia-siaan menurut orang Yahudi, namun dalam kematianNya, Tuhan Yesus menyatakan kasihNya yang besar kepada manusia (1 Korintus 1:18-31).
Tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang mampu menjembatani (menyambung) hubungan Allah dengan manusia, yang oleh sebab itu harus ada pribadi yang tidak berdosa menggantikan manusia dan pribadi itu ialah Allah sendiri yang hadir dalam rupa daging Yesus Kristus (baca: Yoh. 14:6).
Inilah yang dijelaskan dalam teks perikop ini bahwa Yesus telah membuka jalan bagi manusia dalam kuasaNya sebagai imam.
Sehubungan dengan itu, dalam konteks (berita) PL, keturunan Harun bertugas menjadi imam besar di bait suci untuk menyerahkan korban perdamaian yang dilaksanakan sekali setahun.
Imam besar akan masuk ke bilik tirai bait suci untuk memohon pengampunan dosa. Dan korban yang dipersembahkan hanya sebagai gambaran simbol ketaatan manusia dalam melakukan perintah Allah, tidak berarti imam yang memiliki kuasa sebagai juru damai antara manusia dengan Allah.
Korban persembahan itu pun tidak mampu untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Baca Ibrani 10:4, “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan menghapuskan dosa”.
2. Beberapa hal dapat dijelaskan yakni:
a). “Hanya Yesus jalan menuju keselamatan” (ay. 16-18). Di ay. 15 ditegaskan bahwa Roh Kudus telah membuat perjanjian baru.
Penulis surat Ibrani mengatakan bahwa “Ia telah menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka”. Artinya, karena hati orang percaya telah dimateraikan oleh firman-Nya maka dalam hal ini perubahan yang diutamakan adalah dalam diri orang percaya itu adalah melalui hatinya.
Kalau di dalam pemahaman Taurat semua dosa itu seolah-olah menumpuk terus menerus dan dibalas dengan kebaikan yang lebih besar termasuk ketaatan pada aturan pemberian korban persembahan itu, maka melalui perjanjian baru ini, pemahamannya berubah total.
Allah mau mengampuni semua kesalahan manusia, tidak diperhitungkan lagi, timbunannya hilang bersih, melupakan dosa dan kesalahan yang lalu-lalu, sepanjang mengakui bahwa Allah telah menempatkan Roh Kudus di dalam hatinya, menjadi manusia baru, manusia yang berbeda dengan sebelumnya.
Hal ini terjadi secara otomatis ketika seseorang mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juruselamatnya, maka pada saat yang sama hati orang tersebut diubah diperbaharui serta bersamaan Roh Kudus diam dan berkuasa di dalam hatinya.
Pernyataan ini juga merupakan penggenapan nubuat Nabi Yeremia 31:33, “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka. Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.”
Hal yang dimaksudkan adalah kita tidak perlu lagi mengulang-ulang mengakui dosa-dosa yang lalu dan membawa persembahan sebab penebusan sudah sempurna dan lengkap.
Melalui persembahan tubuh Kristus yang mati dan menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita, maka tidak diperlukan lagi korban-korban dan persembahan lain untuk memperoleh pengampunan.
Melalui darah dan jalan Kristus Yesus, kita orang-orang percaya telah dibersihkan, dimurnikan, dan dipersiapkan untuk persekutuan abadi dengan Allah.
Korban tubuh Yesus sudah sangat sempurna, tidak bercacat, dan hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 10:10). Ini jelas merupakan kemenangan sejati manusia dalam melawan kuasa dosa, kuasa iblis, dan konsekuensinya yakni kematian.
b). “Keberanian menghadap Imam Besar” (ay. 19-21) Sebagaimana bait Allah di Yerusalem terdiri dari tiga bagian, yakni pelataran luar tempat umat datang untuk beribadah termasuk menyampaian korban persembahannya.
Bagian tengah merupakan tempat para imam dan suku Lewi yang dianggap sebagai bagian pengurus Bait Allah. Kemudian ada ruang maha suci tempat Imam Besar menyampaikan doa dan persembahan umatnya.
Umat Israel tidak dapat dengan bebas memasuki kedua wilayah tersebut yang didasarkan atas keberdosaan mereka. Ruang maha kudus itu ditutup dengan tirai agar tidak seorang pun umat Israel dapat masuk bahkan melihat ke dalam.
Dalam hal ini ada tirai penghalang dan membuat jarak antara umat dengan Imam yang mewakili Allah. Imam Besar umat Yahudi juga hanya masuk ke dalam ruang tersebut sekali setahun di Hari Penebusan, saat ia mempersembahan korban persembahan untuk penebusan dosa-dosa umatnya.
Akan tetapi ketika Yesus mati, oleh kuasa Roh Kudus, tirai di Bait Allah itu kemudian robek terbelah dua (Mat 27:51; Luk 23:45) dan membuat batas dan jarak antara Allah dengan manusia tidak ada lagi.
Tirai penghalang itu hilang melalui penderitaan dan kematian Yesus, sehingga manusia dapat menghampiri Allah ke dalam ruang maha kudus setiap saat, tanpa memerlukan Imam Besar yang lain selain Kristus Yesus sendiri.
Dengan terkoyaknya trai itu, kita orang percaya telah menjadi imam-imam dan bagian dari suku Lewi dengan “tubuh yang dibasuh dengan air”, yang membuat kita orang-orang yang dipanggil khusus dan dikuduskan.
Oleh karena itu orang percaya dengan penuh rasa syukur dan penuh keyakinan bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni melalui percikan darah dan kematian Tuhan Yesus, dengan mengaku Ia sebagai Penebus dan Juruselamatnya.
Bahkan dalam ayat lain dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah sendiri yakni tempat Roh Kudus bersemayam dalam memandu hidup kita setiap saat. Inilah yang dimaksudkan merupakan jalan yang baru dan yang hidup (dalam pengertian hidup senantiasa dalam kekekalan sebagai Pengantara – Ibr 7:25) bagi kita melalui tabir yaitu Tuhan Tubuh Yesus sendiri.
Melalui tabir yang terkoyak saat ini kita menurut peraturan Melkisedek mempunyai seorang Imam Besar Agung yakni Tuhan Yesus sebagai kepala Rumah Allah, atau Kepala Gereja dan Umat Allah, dan setiap orang dapat menghampiri-Nya dengan rasa syukur dan penuh keyakinan (Roma 5:2; Ef 3:12; Kol 1:22).
Orang percaya dengan penuh syukur senantiasa dapat menghampiri Allah melalui Kristus melalui penyembahan dan doa, di segala tempat dan waktu, tanpa ada keterikatan untuk datang ke Jerusalem atau tempat mistik lainnya, sebab Allah kita adalah Allah Mahahadir.
Imam Besar Agung kita yaitu Yesus Kristus juga adalah Allah Mahahadir dan sekaligus bertakhta di sorga, yang membuktikan karya penyelamatan-Nya sudah sempurna. Dan kalau pun kita saat ini memiliki pendeta dan hamba Tuhan sebagai imam, mereka adalah yang dipanggil khusus untuk melaksanakan amanat agung dan tugas-tugas kejemaatan sebagai konsekuensi adanya gereja sebagai tubuh Kristus.
Dengan demikian, telah tersedia tempat maha kudus surgawi bagi orang percaya, dan untuk itu diperlukan hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan imamat rajani bagi mereka.
c). “Menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas (ay. 22-23) Kita memiliki keistimewaan setelah hidup baru di dalam Kristus.
Beberapa keistimewaan tersebut adalah: Pertama, kita memiliki jalan masuk kepada Allah melalui Kristus dan dapat begitu dekat kepada-Nya tanpa melalui cara yang rumit bertele-tele dan perantaraan manusia lainnya (ayat 22);
Kedua, kita dapat bertumbuh dalam iman melalui hubungan yang lebih dalam dengan memanfaatkan kebebasan menghadap Dia (ayat 23). Menghadap dalam hal ini pengertiannya adalah “datang kepada” atau menghampiri. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bisa langsung datang kepada Allah? Kita tidak mungkin datang dengan hati yang penuh kebencian atau motivasi atau kecendrungan yang tidak benar; melainkan kita harus datang dengan hati yang tulus ikhlas dan bersifat pribadi, dengan maksud untuk memuji dan memuliakan Dia.
Kita dapat mengukur dan mengetahui motivasi kita benar atau tidak, jika kita menanyakan dengan jujur dan mengevaluasi tujuan kita ketika datang menghadap dan meminta atau menyembah dan berdoa.
Dasar kita melakukan evaluasi adalah firman Tuhan (Ibr 4:2) dan ketekunan kita menjaga kehidupan sehari-hari yang berkenan kepada-Nya.
Hal kedua yang dinyatakan adalah perlunya keyakinan iman yang teguh. Iman dalam hal ini adalah keteguhan dan kepastian bahwa kita telah diselamatkan dan adanya jaminan kekal berlandaskan pada korban penebusan Yesus yang sempurna, dan adanya kuasa Roh Kudus yang diam di dalam hati kita.
Orang percaya mendapat kehormatan dapat datang dengan penuh keberanian, bebas dari rasa bersalah, tanpa keraguan, dengan keyakinan menyampaikan isi hatinya dan bahwa Ia akan mendengar dan menjawab permohonan kita.
Maka dalam hal ini kesungguhan menghampiri Allah dan iman melalui Yesus Kristus menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kepastian ini juga memampukan kita merubah keraguan dan tantangan menjadi peluang untuk memperoleh kasih karunia dan pertolongan yang lebih besar, sehingga hidup kita semakin berkenan dan dipakai oleh Tuhan.
Iman adalah percaya dan berpengharapan pada kebaikan Allah melalui Tuhan Yesus dan meggantungkan segala hal pada-Nya (Ibr 4:16; 11:6), dan kesempatan itulah yang harus dimanfaatkan setiap orang dengan percaya dan datang kepada Tuhan Yesus.
Dengan dasar perjanjian baru yang disampaikan tadi, hati dan kesadaran kita juga sudah dibersihkan seluruhnya, dalam hal ini bukan sebagian-sebagian atau bersifat sementara (band. Ibr 9:14).
Melalui kesadaran yang sudah dibersihkan, dengan membayangkan “tubuh kita sudah dibersihkan dengan air yang murni” jsebagai gambaran diri kita yang dibersihkan, maka kita dapat menghampiri Allah dengan kekudusan.
Ini juga sama seperti baptisan sebagai tanda pembersihan tubuh bagian luar, demikianlah Kristus melakukan pembersihan pada sisi dalam hati kita, sebagai pembersihan atas dosa-dosa kita (Kis 22:16).
Sekali “tubuh” kita sudah dibersihkan dan dibasuh dengan air yang murni melalui pembaptisan iman percaya, dan hati kita disucikan dan dibersihkan dari yang jahat melalui pengakuan Roh Kudus yang menguasai hati kita, maka kita bebas datang kepada-Nya tanpa perantara.
Firman Tuhan nas minggu ini meneguhkan, kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia (band. 1Kor 1:9; Ibr 3:1, 6; 7:19).
d). “Saling memperhatikan dalam kasih” (ay. 24-25). Dua keistimewaan sebagai buah hidup baru di dalam Kristus telah disampaikan di atas. Ada dua buah tambahan lagi yakni kita dapat menikmati saling dukung dan kasih dari sesama orang percaya (ay. 24); dan terakhir, kita dapat beribadah bersama sesame orang percaya dengan sukacita (ay. 25).
Yesus Kristus sebagai Kepala Rumah (Umat) Allah dan Kepala Gereja tidak menghendaki satu pun anak-anaknya yang terhilang. Latar belakang dan perjalanan hidup setiap orang tidaklah sama, demikian pula dengan kesiapan dalam menghadapi tantangan dan pergumulan hidup.
Dalam kehidupan ini kita berhadapan dengan pelbagai pencobaan dan perjuangan hidup, bahkan kadang kala dengan ketidakadilan dan penganiayaan. Mereka yang membenci Kekristenan akan terus melakukan upaya-upaya hal itu.
Kita juga tidak perlu langsung menghakimi sebab setiap orang mudah jatuh dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu juga dalam Doa Bapa Kami kita selalu menaikkan permohonan, jauhkanlah pencobaan dari kami.
Tetapi itu semua mendorong semangat kita untuk bersekutu dengan sesama orang percaya, berusaha lebih keras lagi untuk dapat bersatu dalam iman dan perbuatan, membangun semakin kuat dalam menghadapi tantangan yang kita hadapi.
Dari sisi lain kita juga akan menghadapi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan pokok iman kita. Maka nas minggu ini mengingatkan bahwa menjauhkan atau menghindari pertemuan-pertemuan ibadah sama saja dengan mengabaikan pentingnya orang Kristen untuk saling menolong.
Kita berkumpul untuk berbagi dan saling menguatkan satu sama lain di dalam Tuhan. Kesediaan kita untuk berkumpul dan saling menasihati dan mengajar, mewujudkan kasih dan perbuatan baik terhadap sesama dan orang yang belum percaya membuktikan iman kita hidup dan menyadari kita adalah bagian dari rencana Tuhan dalam membangun kerajaan-Nya yang lebih luas.
Dalam kitab Galatia dikatakan, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal 6:2). Dengan hati yang sudah dibersihkan kita seyogiayanya semakin memahami dan peka akan kehendak-Nya, sehingga jangan menafsirkan pertemuan ibadah itu hanya datang pada ibadah hari minggu saja.
Melalui persekutuan orang percaya dalam ibadah dan hubungan pribadi yang erat diharapkan adanya sinergi yang lebih baik dalam meninggikan nama Tuhan Yesus.
Setiap orang percaya harus berpegang teguh pada tugas dan pengharapan ini. Kita tidak boleh mudah terombang-ambing oleh berbagai pergumulan yang dapat meruntuhkan iman kita.
Keengganan bersekutu dapat menimbulkan iman yang merosot dan memudar. Sebaliknya ketekunan dalam beribadah akan menghasilkan disiplin yang baik. Orang Kristen dipanggil bukan untuk menjadi pribadi yang individual. Allah memberikan gereja untuk tempat kita saling berbagi dan menguatkan.
Sikap ini juga harus dikaitkan dengan berpikiran bahwa hari Tuhan akan segera datang, yakni dalam pengertian “kecil” bersifat pribadi atau dalam pengertian besar yakni akhir zaman, meski pada nas ini lebih tepat tentang nubuatan hancurnya kota Yerusalem dan Bait Allah oleh serangan Nero dan Kaisar Titus di tahun 70 M setelah Tuhan Yesus naik ke sorga.
Akan tetapi Yesus Kristus tetap akan datang kembali untuk menjemput kita orang-orang yang setia dan menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Ia yang akan menyediakan tempat bagi kita yang setia, dan untuk itulah kita peringati kematian-Nya pada Jumat Agung ini.
Penutup
1. Beberapa pokok pesan pada kotbah:
a) Atas kebaikan dan anugerah Allah di dalam Kristus dosa-dosa kita sudah ditebus dengan kematian-Nya. Penderitaan yang Dia alami melalui jalan menjadi manusia biasa, merubah hal pokok bagi kita dalam menebus setiap dosa dan kesalahan kita.
Kita tidak perlu lagi membawa korban persembahan berulang-ulang, karena kita sudah disucikan dengan darah-Nya. Surga Mahakudus terbuka bagi kita orang percaya. Kita juga dinyatakan harus dengan berani menghampiri takhta-Nya menyampaikan segala keluh kesah dan penderitaan, bahkan seluruh pengharapan kita.
Tidak diperlukan lagi imam lain manusia biasa sebab Yesus Kristus telah menjadi Imam Besar Agung kita. Dengan iman yang teguh, kita melangkah di setiap saat dan tempat mengisi kehidupan ini dengan melakukan perbuatan kasih sebagai penggenapan janji-janji sorgawi yang akan kita terima.
Mari kita melupakan dosa masa lalu dengan tetap mengikut Yesus dan mengabdikan hidup kita bagi Dia dan melayani-Nya, dengan tetap berpengharapan teguh bahwa Ia akan kembali untuk menjemput kita yang dipilih-Nya. Dengan demikianlah kita memperingati kematian-Nya dan sekaligus menghormati apa yang sudah dilakukan-Nya bagi hidup kita.
Jelasnya, hidup yang kita rayakan hari ini ialah hidup dengan sikap saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (ay. 24). Dan patut menjadi fokus kita ialah bagaimana tindakan kasih itu bisa nyata di tengah-tengah komunitas kita.
Tindakan kasih mewujud dalam sikap saling menasihati satu sama lain sehingga tercipta komunitas yang sehat dimana pertumbuhan iman yang utuh dimungkinkan terjadi. Kita satu sama lain terhubung oleh kasih-Nya. Gereja adalah komunitas hidup yang didasari tindakan saling memperhatikan satu dengan yang lain dalam kasih.
b) Yesus adalah Anak Allah (Anak yang kekal). Sebagai Anak Allah, Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa melalui ketabahan-Nya untuk menderita bahkan mati disalib sebagai kurban penghapus dosa (Yoh. 18 – 19). Sebagai Anak Allah, Yesus lebih tinggi dari nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Ia pun lebih tinggi dari malaikat atau Musa sendiri.
Namun Ia taat pada Bapa untuk menjadi kurban penghapus dosa. Yesus adalah juga Imam Agung yang lebih tinggi daripada imam-imam dalam PL (ay. 21), dengan perantaraan Yesus, orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari dosa dan dari ketakutan dan kematian. Sebagai Imam Agung, Yesus memberikan kepada kita keselamatan sejati yang tidak dapat diberikan oleh upacara-upacara persembahan kurban dan upacara-upacara lainnya di dalam agama Yahudi. Upacara-upacara itu hanya dapat memberikan gambaran dari keselamatan sejati itu saja, lain tidak.
c) Jadi kalau hari ini kita memperingati karya keselamatan Allah yang sempurna di dalam kematian Kristus di kayu salib. Dalam kesetiaan dan ketaatan-Nya pada Bapa, Ia tabah menghadapi derita salib. Hal ini seharusnya membawa kita untuk setia dan taat pada Allah dalam hidup ini sekalipun di dalam pergumulan dan penderitaan yang mungkin kita hadapi.
Hari ini kita memperingati kebaikan dan kemurahan Allah yang paling besar bagi semua orang karena Yesus mati bukan saja untuk orang-orang Kristen, tetapi juga untuk mereka yang di luar kekristenan bahkan yang membenci kristen sekalipun, Ia mati untuk mereka yang di dalam gereja tetapi juga untuk mereka yang di dalam penjara, untuk mereka yang kaya tetapi juga untuk mereka yang miskin.
Karena itu hendaklah peringatan ini mendorong kita juga untuk mengasihi dan berbuat baik kepada semua orang (ay. 24). Jadi, marilah ikut dan datang ke datang Perjamuan Kudus-Nya dengan hati yang murni dan penuh syukur atas keselamatan sempurna yang dianugerahkan-Nya kepada kita.
Selamat memperingati Jumat Agung, selamat memperingati kemurahan Allah terbesar bagi kita semua, kiranya Tuhan menolong kita juga untuk bermurah hati kepada sesama. Amin.
Evangelium Parningotan Ari Hamamate Ni Tuhan Yesus
Jumat Agung, 29 Maret 2024
Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd