Renungan Yesaya 6 : 1-8 ” Maha Kudus, Maha Kudus, Allah Maha Kudus

Foto : Ilustrasi

Renungan ini merupakan pengalaman panggilan Allah kepada Yesaya di mana melalui pengalaman itu sangat memotivasi nabi Yesaya menyampaikan suara kenabian di tengah dinamika dan mekanisme politik antar bangsa pada masanya.

Dalam rangka menghadapi perubahan dan tantangan jaman, khususnya di bidang sosial dan di bidang politik suara kenabian Yesaya penting untuk membenarkan perilaku dan sikap etis normatif setiap orang kepada sesamanya.

Tantangan jaman dimaksud sebagaimana dihadapi oleh masyarakat saat pemberitaan Yesaya ialah munculnya kelompok kapitalis berkuasa yang pengaruhnya menguasai tidak hanya bidang ekonomi tetapi juga bidang politik pemerintahan, akibatnya penindasan, ketidakadilan, perhatian melakukan keadilan kepada para yatim, yang miskin, para janda dan lain sebagainya menjadi terabaikan.

Dalam kehidupan masyarakat luas, kesejangan kehidupan semakin meningkat, ramah tamah tidak ada lagi, komunikasi yang akrab menjadi mahal, semua orang tidak memperdulikan penyembahan dan ibadah yang benar di bait suci.

Di tengah suasana kacau seperti inilah, Allah menyatakan kekudusanNya: “kekhudusan dalam tanggungjawabNya untuk menyelematkan keadaan umatNya yang kacau, yakni dengan mengutus utusanNya yakni Yesaya.

Kekudusan ini juga terjadi melalui menghukum siapa saja umatNya yang tidak mau melakukan pertobatan”. Allah telah memilih Israel menjadi umatNya, menjadi umat yang kudus, oleh karena itu masa depan umatNya ada di tangan Allah. Cita-cita Allah kepada umatNya yakni menjadikan mereka sebagai umat yang kudus dan bangsa yang diberkati.

Ayt 1-4, peristiwa penglihatan dan wahyu Allah kepada Yesaya ini terjadi “dalam tahun kematian Uzia Yesaya menerima panggilan Allah menjadi nabi, ayt 1”. Panggilan Allah kepada Yesaya terjadi saat kematian raja Yosia, ini memberi indikasi bahwa dalam kehidupan umat Allah, masa kepemimpinan raja Yosialah umat Allah paling merasakan kemakmuran, tidak hanya kemakmuran bidang pembangunan pisik/ infrastruktur masyarakat, keamanan rakyat melalui takluknya umat pemberontak yakni Filistin dan bangsa di sekitarnya.

Semua kemakmuran dan kesejahteraan ini terjadi hanya semata-mata berkat Tuhan, yakni hanya oleh kekhudusanNya yang telah memilih umatNya Israel. Namun, semua situasi baik ini, akhirnya menjadi percuma karena Yosia jatuh kepada kesombongan, bahkan kesombongannya yang paling terbesar adalah kuasanya sebagai raja melampaui kuasa Allah sendiri (Yes 2:7).

Atas sikap seperti ini, ia bahkan merampas jubah imam di bait suci dan merendahkan wibawa pelayanan imam di sana, juga merampas persembahan umat kepada Allah dengan propaganda sendiri sebagai alasan menguatkan perilaku itu. Perilaku seperti inilah yang oleh Allah sendiri dianggap sebagai cacian yang paling mendukakaan hati Allah.

Dalam konteks inilah penglihatan Yesaya atas kemuliaan Allah: ”aku melihat kemuliaan Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang…”. Kemuliaan Tuhan yang menyatakan kudusanNya yakni tanggungjawab atas pemulihan umatNya yang mengutus nabi Yesaya. Jadi yang menjamin kekudusan dalam renungan nats ini adalah kehadiran Allah ke tengah umatnya yakni menjamin keselamatan umatNya.

Ayat 5-8, Yesaya sesuai kesaksiannya, melihat kemuliaan Allah (realisasi tanggungjawab Allah): ia membandingkan realisasi tanggungjwab dirinya di banding realisasi tanggungjwab Allah. Suatu perbandingan yang amat jauh, sehingga ia mengatakan: “celakalah aku….aku binasa, sebab aku ini orang yang najis bibir”. Pengenalan dan pengakuan hati yang tulus.

Ungkapan setelah melihat perbuatan Allah sebagai makna yang paling hakiki dari maksudnya dari kekudusan Allah. Itu makanya, secara tegas diungkapkan Yersaya ayt 6-7: “seorang dari pada utasan Allah (Serapim) terbang mendapatkan Yesaya yang ditangannya ada bara, yang diambilnya dengan jepit dari atas mezbah, dan menyentuhkannya ke mulut/bibirku …”. Motif panggilan inilah yang memaksa nabi Yesaya kemudian mengiakan panggilan Allah agar ia mau diutus dan jawaban Yesaya, “ini aku, utuslah aku…”

Pekerjaan yang hendak dilakukan Yesaya adalah “menyampaikan perkataan Allah kepada penguasa yang dengan sengaja mendegilkan hati dan pikiran mereka, yang dengan sengaja membutakan mata mereka melihat segala sesuatu”. Menyampaikan perkataan Allah kepada raja dan rakyat yang tidak mau bertobat, pada hal perkataan Allah yang mereka terima dapat mengantarkan kehidupan mereka ke situasi yang lebih baik. Karena sikap seperti ini, Allah sendiri justru yang mengunci pikiran, mulut dan hati mereka untuk bahkan semakin tertutup, tindakan Allah inilah justru sebagai hukuman bagi mereka agar mereka akhirnya binasa.

Yesaya mempertanyakan tindakan Allah ini (ay 11a), “baca:…sampai kapan keadaan seperti ini terjadi, ya Tuhan ?” Jawab Allah (ay 11b) ”sampai kota ini lengang…dst! Dari jawaban ini jelaslah bahwa makna “Kekudusan (habadiaon)” menekankan kudus, suci, tidak bernoda, sanctus, holly).

Dikatakan: “kudus, kuduslah Tuhan Yes 6:3,

You might also like