Yunus 2,6
Di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.
Jonah 2:6 (NIV)
To the roots of the mountains I sank down; the earth beneath barred me in forever. But you, LORD my God, brought my life up from the pit.
Jona 2:7 (toba)
Nunga mangungkor ahu sahat tu bona ni angka dolok, ransangransang ni tano on pe nunga tarsordak humaliang ahu ro di salelenglelengna. Alai dipanangkok ho ngolungku sian godung ale Jahowa Debatangku.
Kitab Yunus mencatat, paling tidak ada 7 mujizat Allah dalam kisah Yunus, yakni: “mengirim angin ribut (1:4); mengatur undian sehingga Yunus kena undi (1:7); meneduhkan laut (1:15); mengatur hingga seekor ikan besar menelan Yunus (1:17); memelihara Yunus tetap hidup di perut ikan selama 3 hari (1:17); membawa ikan itu menuju daratan, dan memuntahkan Yunus ke darat (2:10).” Jarang penafsir kitab Yunus melihat bahwa ”pertobatan Yunus” (2:7, renungan hari ini) sebagai satu mujizat terpenting dari kitab Yunus. Mengapa dikategorikan sebagai mujijat kisah pertobatan Yunus? Sebab, ”dalam pelariannya menjauhi Tuhan, seharusnya Yunus binasa/mati.” Sebab dalam pelariannya, Yunus jelas merupakan orang yang sangat keras kepala (ist. Batak: sijogal baut/sijogal rukkung). Adalah satu mujijat , jika Tuhan akhirnya memberi kesempatan kepada Yunus dan mengubahkan hatinya. Seperti Tuhan tidak menghendaki penduduk Niniwe binasa, Tuhan juga menyayangi nabi yang memberontak dan melawan panggilanNya. Dalam kesusahan Yunus, ternyata Allah bersamanya dan setia menjaganya. Ketika jiwanya letih lesu dan terancam maut (2:6-7), doa Yunus tetap didengar Tuhan. Keberadaan Allah hanya sejauh doa. Bagi penulis renungan ini, peristiwa pertobatan Yunus, jelas merupakan sebuah mujizat besar (dan mujiat yang setiap hari selalu terjadi kepada kita), yaitu pemeliharaan Allah atas umat-Nya. Dia selalu menjagai agar kita tidak murtad dan binasa/mati. Sebab tidak ada satu orang pun dari antara kita yang sanggup memelihara iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan (baca: Ibrani 6:4-10 ; Roma 5:9).
Mari mengingat (merenungkan) peristiwa kehidupan kita, bahwa ketika kehidupan kita berjalan dengan normal, hubungan kita dengan Tuhan mungkin berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Kita menganggap segala berkat-Nya adalah hal yang wajar-wajar saja. Namun, ketika jalan kehidupan tidak seperti yang diharapkan, barulah kita berpaling kepada Tuhan, lalu berteriak meminta pertolongan-Nya. Demikian dengan Ynus, setelah ia mengalami pengalaman buruk akibat badai yang menerpa kapalnya saat melarikan diri dari hadapan Tuhan, dari dalam perut ikan, Yunus menaikkan doanya. Ratapan, keluhan dan ucapan syukur ia naikkan karena terluput dari kematian. Dalam ratapan yang ia naikkan, Yunus menyadari keberadaannya yang susah dan terbuang di dasar lautan, terkepung oleh arus air. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dirinya, namun ia berharap masih dapat melihat bait Allah (2-6). Ia menyadari bahwa keselamatan yang ia terima berasal dari Tuhan semata (9). Yunus menyadari bahwa di mana pun dan dalam kondisi apa pun, Allah pasti akan mendengarkan seruannya. Bagi Tuhan, tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat diampuni, dan tidak ada kesulitan hidup yang terlalu sulit. Inilah yang menjadi keyakinan Yunus sehingga ia berani menaikkan doa di hadapan Allah yang ia layani. Pada akhirnya, Tuhan membawa Yunus kepada panggilan-Nya. Jadi, renungan hari ini merupakan doa Yunus (dari dalam perut ikan) memohon kelepasannya dari kematian dan ucapan syukurnya sesudah itu. Nyatanya di dalam perut ikan besar itu ”ternyata Yunus masih hidup lalu berseru kepada Tuhan.” Sekalipun ia merasa bahwa dirinya secara praktis sudah mati, Tuhan mendengar doanya dan menyelamatkan nyawanya.
Nah…! Penguatan renungan hari ini kepada kita ialah:
a). Orang percaya hendaknya jangan putus asa dalam situasi yang sangat buruk pun. Seperti Yunus, kita harus berseru kepada Allah mohon kemurahan dan pertolongan-Nya serta menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya.
b). Dalam relasi dengan Tuhan, kita akan sungguh-sungguh mencari wajah-Nya ketika kita diperhadapkan pada persoalan yang sulit, bahkan harus sampai pada pergumulan antara hidup dan mati. Dalam keadaan genting demikian, belas kasihan Tuhan tetap dicurahkan kepada kita umat pilihan-Nya.
c). Dalam kondisi apa pun yang kita alami, datanglah kepada Tuhan melalui doa-doa kita (tetap semangat dan tetap bertekun dalam doa, jangan sepele dan lengah dalam doa). Tidak ada kesulitan yang terlalu sulit untuk diselesaikan-Nya. Dan, tidak ada dosa yang terlalu besar sehingga Ia tidak dapat mengampuninya. Nikmatilah relasi dalam pengenalan kita akan Tuhan. Terutama, apabila pergumulan yang kita alami saat ini ternyata membawa kita kembali memandang kepada Allah, maka bersyukurlah untuk itu.
d). Sikap Yunus adalah cerminan riil sikap kita, tidak peduli jika musuhnya yang berdosa binasa, tetapi berteriak memohon pertolongan ketika dirinya sendiri terancam bahaya. Mari mengubah sikap hati/iman yang keliru seperti ini! Amin
Tetap semangat dan selalu bertekun dalam doa
By : Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd