Kejadian 12:2
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Genesis 12:2
“I will make you into a great nation, and I will bless you; I will make your name great, and you will be a blessing
1 Musa 12:2
Hubahen pe ho gabe bangso na bolon, jala pasupasuonku ma ho, jala pabalgaonku goarmu, asa gabe pasupasu ho
Abraham dipanggil Allah menjadi berkat. Panggilan Abraham (Bapa semua bangsa) sekaligus menjadi panggilan kepada kita semua menjadi umat Tuhan. Panggilan orang percaya menjadi berkat, ini menggema dan menuntun kita sekarang agar saat ini kita mewujudkannya. Abraham dan keluarganya keluar dari kampung halamannya, kemudian menempuh perjalanan yang panjang lantaran dua hal di dengarnya dari Allah. Yakni, keturunannya akan menjadi bagaikan bintang-bintang di langit dan kedua, menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Berkat Tuhan itu bagi Abraham nilainya melampaui yang telah miliki selama itu. Menjadi berkat itu melampaui kepentingan kenyamanannya. Melebihi keluarga. Lebih utama dari kampung halaman dan melampaui keterikatan pada kepercayaan lama.
Perintah Allah kepada Abraham mengujinya, apakah ia mempercayai Allah lebih dari yang dapat ia lihat, atau lebih mencintai tanah kelahirannya, teman-teman terkasihnya dan segala kenyamanannya. Ternyata Abram menuruti saja kehendak Allah, tanpa menyisakan ruang untuk menempatkan keraguan dalam hatinya terhadap wewenang Ilahi. Padahal, tidak ada jaminan yang tampak jelas selain mengandalkan kepercayaan kepada Allah. Dalam perjalanan kehidupan Abram selanjutnya, Alkitab memberi informasikepada kita bahwa iman Abraham terus berkembang. Ketika Allah mengatakan bahwa anak kandungnya sendiri yang akan menjadi ahli warisnya, bahkan keturunannya akan menjadi banyak seperti bintang di langit (Kejadian 15:4-5); Abrahampun tetap percaya, sehingga Tuhan memperhitungkannya sebagai kebenaran.
Bila renungan hari ini menekankan kepada kita, Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Maka pelajaran (penguatan) yang dapat kita petik yakni:
a). Walaupun tidak ada dasar untuk berharap, kita harus tetap percaya kepada apa yang Tuhan janjikan. Bahwa meskipun kenyataan hidup menunjukkan kemustahilan, kita tidak boleh menjadi lemah, melainkan terus percaya bahwa Allah berkuasa melaksanakan apa yang telah difirmankanNya.
b). Merespon perintah atau janji yang Tuhan sampaikan kepada kita, ini merupakan nasehat/cerminan penting dari Abraham dapat menjadi bekrat. Ketika setiap perintahNya kita lakukan dengan tepat, itu menunjukan bahwa perjalanan iman kita semakin berkembang dan kuat. Jika kondisi seperti ini dapat kita pertahankan, percayalah, iblis akan kesulitan untuk menjatuhkan kita. Sebaliknya, kita akan menjadi orang percaya yang semakin diberkati Tuhan dan menjadi berkat buat banyak orang. Untuk itu, tetaplah percaya akan janji Tuhan apapun keadaan sulit yang kita alami. Percayalah, DIA tidak pernah ingkar janji. DIA adalah Tuhan yang selalu menyertai, mencukupi, menyembuhkan, bahkan yang selalu melakukan kebaikan demi kebaikan kepada kita.
c). Sering kali hidup sebagai orang percaya menuntut kita berlaku seolah “absurd” (konyol). Meninggalkan apa yang kelihatan demi apa yang tidak kelihatan. Rela mengalami penderitaan dengan berharap menerima kemuliaan yang masih menjadi harapan. Syukur karena Allah senantiasa menggenapi janji-Nya. Seperti rancangan dan penyertaan yang diberikan-Nya kepada Abram, Allah juga menyediakan rancangan yang baik bagi kehidupan kita. Tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan selain memainkan peran kita seturut kehendak-Nya. Dengan cara demikian kita diajar untuk terus bergantung pada penyertaan Allah dan membawa hati supaya senantiasa berfokus kepada-Nya.
d). Abraham bersedia pergi dari kampung halamannya. Ia rela berpisah dengan kerabat keluarga. Ia bersedia memutuskan dirinya dari kepercayaan lama. Dan untuk itu semua, ia melakukan perjalanan jauh, berbahaya dan melelahkan. Ia berani keluar dari zona nyaman. Disinilah terkandung hal penting untuk menjadi berkat (meneladani langkah kehidupan Abraham) yakni mau menempatkan rencana dan masa depan hidupnya sesuai keinginan Allah. Kemana Allah meminta Abraham pergi, ke sana ia melangkah. Hidupnya tidak “semaunya saja”. Terarah. Berorientasi pada yang diarahkan Tuhan. Selain itu, menjadi berkat, Abraham menempatkan masa depan hidupnya bermakna bagi orang lain. Menjadi berkat berlawanan dengan sikap egois. Egois berarti hanya untuk dirinya, dan tertutup memikirkan orang lain. Menjadi berkat berarti apa yang dimilikinya bermanfaat bagi orang lain. Kita yang saat ini bersedia membantu mereka yang terkena musibah alam. Adalah orang beriman yang mengalahkan keegoisan. Abraham tidak hidup untuk hari itu, satu-dua hari. Melainkan merancang masa depan kehidupan manusia yang lebih baik. Memikirkan pengelolaan hidup untuk masa depan, orang seperti inilah berlawanan dengan orang yang hidupnya sekedar memikirkan jangka pendek (bnd istilah hidup secara pragmatis).
Tuhan kiranya memberkati kita untuk kemudian kita menjadi berkat! Amin
Tetaplah semangat dan selalu bertekun dalam doa
By : Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd