Firman Tuhan 1 SAMUEL 8:4-11 “TUHAN MENGUATKAN UMATNYA”

Foto : Ilustrasi

Kepemimpinan adalah sebuah tugas yang tidak mudah, karena memiliki banyak tantangan dan pendapat dari orang lain. Terlebih memimpin manusia, memiliki rintangan berat karena akan melahirkan unsur suka dan tidak suka. Sering sekali selera yang dipimpin menjadi boomerang bagi pemimpin.

Anggota yang dipimpin akan menuntut kepemimpinan seorang pemimpin itu seperti yang mereka inginkan. Demikian pengalaman bangsa Israel, menjelang berakhirnya kepemimpinan Samuel atas mereka.

Untuk menjadi penerus Samuel memimpin Israel, para tetua bangsa itu menuntut sistem kepemimpinan bangsa Israel berubah dari hakim menjadi raja. Para tetua Israel tidak menginginkan anak Samuel melanjutkan kepemimpinan akan bangsa itu karena alasan moral.

Selanjutnya, seiring perjalanan waktu, Samuel menjadi tua. Ia digantikan oleh kedua anaknya, yakni Yoel dan Abia. Mereka menjadi hakim di Bersyeba. Namun sayang, keduanya tidak hidup seperti ayah mereka. Keduanya lebih senang mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan.

Terhadap hal ini, bangsa Israel menjadi sangat kecewa. Oleh sebab itu, berkumpullah tua-tua Israel menghadap Samuel. Mereka meminta Samuel mengangkat raja atas mereka. Dan permintaan ini sangat mengesalkan hati Samuel. Ia kemudian berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuk. Setelah itu, Samuel memberi pertimbangan-pertimbangan kepada bangsa Israel seandainya mereka mempunyai seorang raja (ay. 10-18).

Situasi akan sangat berbeda dibanding jika mereka tetap hanya mempunyai hakim. Namun, mereka tetap mendesak Samuel untuk mengangkat raja atas mereka. Mereka menjadi tidak bisa berpikir jernih lagi hanya karena persoalan kelakukan buruk hakim baru pengganti Samuel.

Faktanya, kepemimpinan bangsa Israel sejak semula sampai saat itu adalah sistem kepemimpinan Teokrasi, artinya Tuhanlah pemimpin mereka. Para bapa leluhur Israel, Musa, para Hakim memimpin bangsa Israel dengan senantiasa mengutamakan (mengedepankan) Tuhan dalam kepemimpinan mereka.

Namun ketika mereka sudah tinggal di tanah Kanaan dan karena mereka melihat bangsa lain mempunyai raja, mereka pun mau seperti itu (ingin seperti bangsa lain yang mempunyai raja). Menjadi orang beriman tentulah tidak lagi perlu memusingkan dan memperdebatkan tentang hal-hal yang kecil. Tuhanlah yang mengatur hidup kita hari lepas hari.

Penjelasan/Pendalaman Teks Kotbah

2). Tuntuan bangsa Israel; Jawaban/respon Samuel atas tuntutan itu ; respon Allah atas permintaan umatNya”

Di 1 Samuel 8, diinformasikan tentang kondisi politik yang memecah-belah bangsa Israel jaman Samuel. Saat Samuel sudah tua (ay 4-5), para tetua Israel mendesak/menuntut Samuel, “beri kami seorang raja untuk memerintah kami!” (ay. 6). Artinya, bangsa Israel saat itu bertransisi dari masyarakat kesukuan menjadi monarki (abad 11-awal abad ke-10 SM). Alkitab menggambarkan keadaan para pemimpin (hakim) Isarel, bangkit dari waktu ke waktu untuk memimpin kelompok-kelompok Israel, umumnya ke medan perang, yang berpuncak pada sosok Samuel. Sebagaimana dicatat, “Pada masa itu tidak ada raja di Israel; seluruh bangsa berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-hakim 17:6).
Meneruskan tradisi kepemimpinan Hakim-hakim di Israel, dan untuk suksesi (pewarisan) kepemimpinan itu, diindikasi bahwa Samuel telah mengangkat anak-anaknya sebagai hakim, “namun anak-anaknya tidak mengikuti jejaknya, tapi dikesampingkan demi keuntungan; mereka menerima suap dan memutarbalikkan keadilan” (ay. 1-3). Selain peluang yang diciptakan oleh kekosongan kekuasaan sementara saat itu, bangsa Israel (ada kemungkinan besar) telah mengalami kekacauan internal akibat persaingan koalisi dalam masyarakat kesukuan. Para tua-tua Israel datang kepada Samuel dan berkata kepada Samuel, “Engkau sudah tua… angkatlah bagi kami seorang raja untuk memerintah kami, seperti bangsa-bangsa lain”.

Para tua-tua Israel menginginkan monarki (berarti sistem pemerintahan yang lebih dapat diandalkan) yang lebih kuat, sistem pemerintahan yang lebih adil daripada yang mungkin terjadi di bawah kepemimpinan putra-putra Samuel yang jahat. Ada kemungkinan bahwa para tetua Israel, mereka mewakili segmen elit masyarakat yang juga akan mendapatkan keuntungan di bawah monarki. Bagi mereka, memiliki seorang raja akan menciptakan kemungkinan keuntungan pribadi yang signifikan, sebuah masyarakat dimana kekuasaan dan sumber daya dikonsolidasikan di tangan segelintir orang. Dan permohonan para tua-tua itu mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang sifat manusia (adanya kecenderungan untuk mencari bentuk otoritas dan kendali yang nyata, bahkan dengan mengorbankan prinsip-prinsip spiritual). Bangsa Israel menginginkan seorang raja seperti bangsa-bangsa di sekitarnya, yang dapat mereka lihat dan sentuh, yang dapat memimpin mereka berperang dan mengamankan perbatasan mereka.

Namun, karena menginginkan seorang raja manusia, mereka mengabaikan kedaulatan Allah. Mereka gagal menyadari bahwa kekuatan dan keamanan sejati mereka datang bukan dari para penguasa dunia, namun dari Yang Mahakuasa yang telah membawa mereka keluar dari Mesir, memimpin mereka melewati padang gurun, dan mengukuhkan mereka sebagai umat pilihan. Dan, Samuel yang memahami pentingnya permintaan mereka, memperingatkan orang-orang tentang konsekuensi pilihan mereka. Dia merinci bagaimana seorang raja manusia akan mengeksploitasi sumber daya mereka, mewajibkan putra-putra mereka untuk mengabdi, dan menundukkan mereka sesuai keinginannya. Dia memperingatkan mereka bahwa mereka akan menjadi budak raja yang mereka inginkan.

Meskipun Samuel telah memperingatkan, rakyat tetap menuntut seorang raja. Mereka lebih menghargai kekuasaan dan prestise duniawi dibandingkan pemeliharaan ilahi yang telah menopang mereka selama beberapa generasi. Dan teks kotbah ini merupakan petunjuk lebih lanjut mengenai siapa sebenarnya yang tertarik pada seorang raja atau bahkan mengapa, dengan berbagai pendapat yang menyatakan bahwa “para tua-tua bangsa Israel” (8:4), “rakyat yang meminta seorang raja ” (8:10), “bangsa Israel” (8:22), atau sekadar “rakyat” (8:19, 21). Satu-satunya alasan yang mendasari perubahan sosial yang dramatis ini adalah: mereka menginginkan seseorang untuk memerintah mereka, mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa lain, dan mereka ingin seorang raja mendahului mereka untuk berperang. Dan bisa saja ktika itu, tidak semua umat Israel setuju dengan gagasan monarki. Hal ini menjadi jelas dalam perbedaan pendapat yang kontras dan tajam antara posisi bangsa yang tampaknya bersatu dan tanggapan negatif yang jelas dari Samuel dan Allah. Setelah mendengar permintaan orang-orang tersebut, diinformasikan bahwa “hal tersebut membuat Samuel tidak senang” dan bahwa “Samuel berdoa kepada Tuhan,” doa yang mungkin karena kekhawatirannya. Lalu, Allah menghibur Samuel dengan mengatakan, Jangan khawatir, ini bukan tentang kamu. Lihatlah apa yang telah Aku lakukan bagi mereka di masa lalu, dan lihatlah bagaimana mereka menolak Aku.’ Tuhan melanjutkan firman-Nya, “Sekarang, dengarkanlah suara mereka; hanya saja engkau harus memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh dan menunjukkan kepada mereka jalan raja…” (ay. 9). Allah menguatkan Samuel dengan mengatakan bahwa bukanlah Samuel yang mereka tolak, tapi Dialah yang ditolak oleh umat Israel. Lalu Tuhan menyampaikan konsekuensi dari permintaan mereka (ay. 11-16).

Pesan Perikop Teks pada Kotbah

3).Dari penjelasan di atas, beberapa hal menjadi renungan (pesan) kotbah ini kepada kita saat ini:
a). Penolakan Israel terhadap peranan Tuhan secara langsung, sikap ini ternyata mewaris juga menjadi sikap manusia sampai saat ini. Manusia lebih mengandalkan kekuasaan dan kebesaran manusia daripada mengandalkan Tuhan. Mereka berpikir bahwa kekuasaan manusia lebih menjamin hidup mereka. Jaminan hidup sejati bukan datang dari manusia, tapi datang dari Tuhan. Karena itu pemazmur berkata: “Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan” (Mzm. 146:3). Karena itu, manusia diberi kebebasan untuk memilih, termasuk memilih kehidupan yang mengandalkan Tuhan atau menolak-Nya. Terserah, kita mau pilih yang mana. Bahwa kesediaan untuk dipimpin oleh Tuhan dan tidak menolakNya dalam hidup kita, tentulah itu patut kita lakukan dalam hidup kita orang beriman. Rasa iri menyebabkan orang Israel ingin dipimpin oleh manusia. Tuhan menegaskan kepada Samuel; bukan engkau yang mereka tolak. Akulah yang mereka tolak.

b). Kotbah ini juga menekankan bahwa kondisi manusia dan kecenderungannya untuk mencari keamanan dalam otoritas duniawi, melalui kotbah ini, kita menyaksikan momen penting dalam sejarah Israel. Bahwa masyarakat, yang tidak puas dengan kepemimpinan mereka saat itu di bawah hakim yang ditunjuk oleh Tuhan, mereka datang kepada nabi Samuel dengan permintaan: “tunjuklah bagi kami seorang raja untuk memerintah kami seperti semua bangsa”. Bangsa Israel berpikir tentang mengganti orangnya, bukan mengganti struktur atau sistem pemerintahan yang ada. Sistem yang sebenarnya sudah baik karena dalam sistem tersebut tidak ada orang yang dituankan dan tidak ada orang yang dijadikan hamba. Semua sama di hadapan Allah. Kedudukan hakim hanyalah wakil Allah untuk membimbing umat hidup dalam jalan-Nya. Demikian dalam kehidupan kita sendiri, kita mungkin tergoda untuk menaruh kepercayaan kita pada institusi, pemimpin, atau harta benda. Kita mungkin mencari validasi dan keamanan dalam hal-hal dunia ini. Namun marilah kita ingat bahwa semua kerajaan di bumi hanya sementara, sedangkan kerajaan Allah bersifat kekal. Mari mau dipimpin oleh pemimpin agung yang sesungguhnya yakni Allah. Pemimpin yang tidak akan pernah berjalan dalam ketidakbenaran.

c). Hidup sebagai orang yang bersedia dipimpin oleh Tuhan tidaklah mudah. Kadang kehidupan yang keras, penuh pergumulan yang kita hadapi. Dalam keadaan seperti itu, patutkah kita lari dari Tuhan? Penulis kitab menekankan makna tantangan sebagai orang beriman, namun jangan itu menjadikan engkau mengingkari kuasa Tuhan dalam hidupmu, seberat apapun yang kamu alami. Namun, makin kuat berteguhlah; “tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah” (Ibrani 6:11-12)

d). Belajar dari kisah kisah perikop kotbah ini, marilah kita berhati-hati terhadap persoalan yang sedang kita hadapi. Kalut dan kusutnya persoalan dapat mengaburkan jernihnya kebenaran. Jangan sampai persoalan tersebut membuat kita gelap mata dan tidak bisa melihat segala sesuatunya secara jernih! Tetaplah tenang, lihatlah segala sesuatu secara jernih dan jadilah bijaksana! Menjadi pemimpin suatu bangsa yang besar memang tidak mudah. Dia bukan hanya tahu yang benar, dapat berkata dan melakukan yang benar di dalam kehidupannya. Sebab itu penting bagi kita untuk mendoakan para pemimpin bangsa kita, kiranya bukan hanya dipandang baik oleh rakyat, tetapi juga baik di hadapan Allah. Baik pribadinya, gaya hidup maupun keluarganya yang menjadi sorotan bagi orang-orang yang dipimpinnya dapat menjadi berkat.

Akhirnya, Allah pasti menguatkan hambanNya di tengah keluhan Samuel, Allah mengatakan bahwa bukan Samuel yang ditolak melainkan Allah. Allah berkata demikian agar Samuel tidak putus asa. Demikian juga kita, di tengah-tengah pergumulan kita Allah punya banyak cara untuk menolong dan menguatkan kita. Maka kita hendaklah berpengharapan yang hidup kepada Allah. Amin

You might also like