Renungan YOHANES 10:11-18 “YESUS GEMBALA YANG BAIK”

Foto : Ilustrasi

*Pada perikop teks kotbah ini, Tuhan Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang baik yang bersedia memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Ia tidak akan pernah meninggalkan domba-Nya saat bahaya datang. Ia menjaga keselamatan mereka dengan nyawa-Nya sendiri. Mengapa Ia melakukan hal itu? Yaaa…! Karena, Ia mengasihi mereka. Sebagai gembala yang baik, Tuhan Yesus mengenal domba-domba-Nya dan mereka pun mengenal Dia.

Penjelasan Teks

** Sebagai perikop teks, kotbah ini terdiri dari 3 bagian tekanan yakni: a). Syarat menjadi gembala yang baik yakni ”si gembala yang baik, ia mengenal domba-dombanya”. b). Perilaku gembala yang baik di hadapan (di tengah-tengah) domba-domba/jemaatNya bahwa sebagai gembala yang baik, ia selalu memperhatikan/menyapa domba-dombanya/jemaatnya. c). “Posisi, fungsi, status dan sikap si gembala (sebagai gembala) di tengah-tengah umatNya”.

(a). Syarat menjadi gembala yang baik yakni si gembala yang baik, ia mengenal domba-dombanya. Saat Tuhan Yesus menyatakan Diri-Nya: “Akulah gembala yang baik,” ini berarti Yesus menyatakan ada kwalitas tertentu yang dimiliki oleh Sang Gembala tersebut sehingga ia disebut sebagai “Gembala yang Baik.” Kwalitas dari seorang gembala yang baik:

Pertama, ”Ia memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya”. Pada bagian ini Tuhan Yesus mengkontraskan gembala yang baik dengan mereka yang hanyalah seorang upahan. Para upahan ini bukan pemilik domba dan mereka tidak memperhatikan domba-domba tersebut (ay. 13). Bahkan ketika ada serigala datang, mereka akan meninggalkan domba-domba itu lalu lari karena yang mereka perhatikan ialah diri mereka sendiri (ay. 12).

Lain halnya dengan gembala yang baik, karena gembala yang baik justru memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Yang menjadi fokus dari gembala yang baik ialah domba-dombanya dan bukan diri mereka sendiri. Itulah sebabnya ketika serigala datang maka gembala tersebut akan memberikan nyawanya sebagai pengganti agar domba-dombanya tidak dimangsa.

Inilah juga yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia mati menggantikan hukuman dosa kita di atas kayu salib. Kita yang seharusnya binasa karena dosa-dosa kita, namun Tuhan Yesus memberikan Diri-Nya untuk menanggung dosa-dosa kita. Jadi, ketika Tuhan Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik,” maknanya ialah “Tuhan Yesus memberikan nyawa-Nya supaya kita memiliki hidup yang kekal.”

Kedua, Ia mengenal domba-domba-Nya. Di ayat yang ke-14, Yesus menegaskan bahwa sebagai gembala yang baik, Ia memiliki kualitas yang unik yakni Ia mengenal domba-domba-Nya. Biarpun domba-domba kelihatannya hampir sama semuanya namun gembala yang baik dapat melihat perbedaan antara domba yang satu dengan domba yang lain.

Hal ini menunjukkan ada pengenalan yang dalam dari Sang Gembala terhadap domba-dombanya sehingga ia dapat mengenal setiap dombanya. Selain itu, di ay. 14 juga ada bagian yang indah yakni ada frasa “dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Ini berarti seharusnyalah domba-domba mengenal gembalanya, mengenal suara gembalanya.

“Akulah gembala yang baik,” merupakan panggilan dari Tuhan Yesus untuk kita selalu berdekat dengan-Nya, semakin mengenal Sang Gembala Agung kita. Seperti Raja Daud berkata: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1)

(b). Perilaku gembala yang baik di hadapan (di tengah-tengah) domba-domba/jemaatNya bahwa sebagai gembala yang baik, ia selalu memperhatikan/menyapa domba-dombanya/jemaatnya.

Pernyataan Yesus di ay. 11: “Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”, dan jika ayat 11 ini dibaca bersama dengan ayat sebelumnya maka kita paham bahwa pemberian nyawa itu dimaksudkan “supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Kata “mempunyai hidup” juga dapat berarti: “si gembala harus berdaya mengusahakan kehidupan yang nyata sesuai waktu saat ini.” Kata “berlimpah-limpah,” artinya melebihi beberapa ukuran/agka atau pangkat, kebutuhan; lebih dari yang perlu; lebih unggul.

Artinya bahwa makna di dalam Tuhan Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita diberi daya untuk mengusahakan hidup dalam kehidupan yang nyata sesuai waktu saat ini, bahkan daya itu memampukan kita (sigembala) dapat menghasilkan yang unggul melebihi ukuran-ukuran yang ada. Apa yang unggul dari segala ukuran yang ada? Yakni si gembala dapat mengusahakan hidup yang berkualitas seperti sifat-sifat domba dan kwalitas itu lahir dari pengenalan akan suara Sang Gembala.

Demikian halnya dengan domba-domba, dapat memiliki sifat menjadi lemah-lembut, menjadi multi fungsi (“mulai dari bulu, daging hingga tanduknya”), menjadi jinak dan peka terhadap suara gembalanya. Respon dan sifat yang dihasilkan/nampakkan domba-domba, ini sangat bergantung pada pengaruh positif/negatif gembalanya. Walau begitu, ada gembala lain (gembala upahan) yang berbeda kwalitasnya dengan gembala sejati yaitu jika gembala sejati siap melindungi bahkan dengan nyawanya sebagai taruhan, seorang gembala upahan meninggalkan domba-dombanya lalu lari ketika melihat serigala datang.

Tentu ada pertanyaan: ”siapa gembala upahan itu?” Di masa yang lebih kompleks ini, ada banyak bentuk gembala upahan. Mereka diberi kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya tetapi persoalannya adalah pada kwalitas kasihnya. Kwalitas kasih Tuhan Yesus muncul dari relasi-Nya dengan Bapa yang mengasihi-Nya. Ini semacam rangkaian kasih yang dimulai dari Bapa kepada Anak dan dari Anak kepada gembalaan-Nya.

(c). Posisi, fungsi, status dan sikap si gembala (sebagai gembala) di tengah-tengah umatNya Gembala sejati, pasti berbeda dengan pencuri. Pencuri tidak pernah peduli pada kesejahteraan para domba. Pencuri hanya berusaha untuk mengambil dan merampok apa yang bisa dia rampas dari para domba.

Gembala sejati, ia berusaha untuk memberi apa pun yang perlu Dia beri agar para domba-Nya sejahtera. Semua pemimpin (politik, iman, masyarakat, dll) harus meneladani ini. Bila masa pemberitaan teks ini menurut konteksnya, para pemimpin (politik/pemerintah, agama, pemimpin di masyarakat luas) saat itu di Israel adalah para perampok.

Mereka tidak memperkenalkan pengharapan sejati di dalam Allah, mereka mengajarkan tradisi kosong yang tidak mengaitkan orang yang mendengarnya kepada kasih akan Allah. Yesus mengingatkan di dalam ay. 12 bahwa pencuri yang hanya mementingkan diri akan lari jika bahaya datang.

Gembala yang palsu akan mencari keamanan sendiri, sedangkan Sang Gembala yang sejati akan memberikan nyawa-Nya. Karena para gembala palsu itulah maka Israel tercerai berai. Serigala datang dan mereka semua tercerai berai. Tercerai berai ini istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan keadaan Israel yang tanpa gembala (1 Raj. 22:36-37, Za. 13:7) ataupun keadaan Israel yang dibuang ke Babel (Yeh. 34:5-8).

Binatang buas memangsa domba-domba adalah gambaran dari pembuangan Israel. Gembala sejati rela berada di dalam keadaan seperti ini, rela menanggung pembuangan Israel, rela menanggung murka Allah kepada Israel supaya Israel dapat kembali dikumpulkan menjadi satu umat.

Setelah dibuang, Israel sangat rindu dipulihkan kembali menjadi satu. Setelah pulih dari pembuangan Israel akan bersatu, tidak lagi terpecah (tidak lagi dibagi Utara dan Selatan). Israel akan menjadi gabungan yang sempurna dari 12 suku (simbol kesatuan Israel), simbol pengharapan baru setelah pembuangan.

Yang akan menyatukan kembali Israel ialah Anak Daud, Yesus Kristus (Yoh. 11:52). Yesus Kristus akan menyatukan seluruh umat Tuhan dengan kematian-Nya (Yoh. 10:14-15) untuk membawa seluruh umat itu ke dalam pengenalan akan Bapa dan Anak-Nya. Pengenalan yang dimaksud di dalam Injil Yohanes bukan sekadar tahu di dalam pikiran. Pengenalan berarti mengasihi, memberikan komitmen, menikmati, dan memberi diri seutuhnya ke dalam sebuah relasi.

Keutuhan umat Tuhan yang diikat oleh kasih, komitmen, sukacita di dalam Tuhan, satu, dan tidak terpecah, inilah yang akan diberikan oleh Kristus sebagai Sang Gembala bagi seluruh Israel. Sama seperti Dia diikat dengan kasih, komitmen, sukacita, dan segenap hati berelasi dengan Bapa-Nya, demikian Dia memberikan kasih, komitmen, sukacita, dan dedikasi relasi itu kepada kita domba-domba-Nya.

Dia memberikannya dengan cara menyerahkan nyawa-Nya. Kematian-Nya mendamaikan kita dengan Allah. Kematian-Nya mematikan ego dan kejahatan kita. Kematian-Nya menjadi dasar bagi komitmen, kasih, dan relasi kita dengan Allah. Inilah yang Dia kerjakan bagi domba-domba-Nya. Di dalam ayat 16 bahkan dikatakan bahwa Dia menyatukan domba-domba lain yang bukan dari kandang Israel. Dia menyatukan seluruh umat Tuhan di seluruh dunia. Anak-anak Tuhanlah yang akan Kristus satukan, bukan hanya Israel (Yoh. 11:52).

Kesatuan seluruh umat inilah yang menyenangkan hati Bapa di surga (ay. 17). Bapa di surga mengasihi Kristus bukan karena Dia mati, tetapi karena kerelaan-Nya membayar apa yang diperlukan untuk kesatuan umat-Nya. Sang Gembala sejati, meskipun Dia harus dipukul sampai mati, akhirnya berhasil menyatukan kembali anak-anak Tuhan di seluruh dunia sepanjang zaman.

Israel menjadi satu umat yang sangat besar. Israel tidak lagi terdiri dari satu bangsa, tetapi berbagai bangsa. Israel bukan lagi daerah kecil di sekitar Palestina, tetapi memenuhi seluruh bumi. Seluruh bumi ditundukkan oleh manusia yang tunduk kepada Tuhan, dikepalai oleh Satu Gembala yang rela taat sampai mati demi menjalankan kehendak Bapa.

Di dalam ayat 18 Yesus mengatakan bahwa Dia memberikan nyawa-Nya menurut kehendak-Nya sendiri, bukan karena paksaan. Inilah pernyataan kasih Kristus. Dia tidak terpaksa mati bagi domba-domba-Nya, Dia rela mati bagi domba-domba-Nya. Pengorbanan-Nya dijalankan-Nya di dalam kasih yang sempurna.

Karena kasih-Nya yang besar bagi kita semua Dia bertekun di dalam penderitaan dan menghadapi kematian. Dia rela mati karena kasih. Bukan karena terpaksa, tetapi karena dorongan kasih. Tugas dan kerelaan menjadi satu di dalam Kristus. Ketaatan dan gairah ingin menjalankan menjadi satu. Keharusan dan kasih menjadi satu di dalam salib Kristus.

Beberapa pesan pada Kotbah

*** (a). Melalui khotbah minggu ini, kita diingatkan paling tidak pada 2 hal.
Pertama, Yesuslah gembala yang sesungguhnya dan satu-satunya dalam hidup kita. Hal ini penting dikatakan sebab dalam dunia ini, sadar atau tidak sadar, sering kita bersandar pada “banyak gembala dalam hidup kita” dan tidak menjadikan Yesus sebagai Gembala yang baik itu.

Katakan misalnya, ada pihak tertentu (orang kaya dengan kekayaannya, penguasa dengan kekuasaannya…dll) berlaku sebagai pemegang kendali (mempunyai kuasa) menjadi gembala sehingga menyingkirkan Yesus Gembala Agung itu. “Pemberian sementara mereka,” bisa saja penting dan kita harapkan. Namun, bersediakah mereka mengasihi kita dengan berkorban tanpa pamrih? Maukah (bersedia mati bagi kita)? Yesus Gembala yangBaik melakukan ini bagi kita.

Tuhan Yesus Gembala yang baik bersedia dan bahkan telah mati agar kita dombanya selamat, tidak binasa melankan memperoleh kehidupan yang penuh bahagia yakni kehidupan kekal. Yesus juga mengetahui semua musuh kita, dan Yesus pasti menolong kita. Kedua, hendaknya kita menyiapkan diri/memberlakukan diri kita sebagai domba, sehingga Yesus sungguh-sungguh menjadi gembala kita. Tentang hal ini tiga hal dapat kita lakukan. (1) menjadikan diri kita sebagai domba yang patuh, (2) penyerahan diri, sebab Dialah yang mengetahui segala sesuatu, (3) meminta petunjuk. Dalam menghadapi banyak pilihan ini bisa jadi kita tidak tahu mana yang baik, karena itu selalulah meminta petunjuk Tuhan.

***(b). Cara berpikir yang sering membuat kekacauan di dalam jemaat Tuhan ialah karena umat sering mengedepankan ego, ingin menang sendiri, ingin membuat yang lain menjadi pelayan diri sendiri, dirinya yang paling penting, yang lain lain harus melayani saya. Perpecahan pasti terjadi jika semua orang ingin menjadi tuan atas semua. Tuhan tidak ingin hal ini terjadi.

Jika kita masih membesarkan diri dan menganggap diri lebih penting dari yang lain, maka kesatuan jemaat tidak mungkin terjadi. Karena sifat Kristus yang mengosongkan diri tidak ada di dalam sifat-sifat seperti ini, maka biarlah kita terlebih dahulu melihat tuntutan Tuhan kepada kita di dalam komunitas. Jika lebih dari satu orang ingin menjadi yang utama, pastilah perpecahan terjadi. Jadi, biarlah kita belajar untuk mengingat apa yang diinginkan oleh Allah.

Dia ingin menyatukan seluruh umat-Nya untuk menyembah Dia. Yesus Kristus datang untuk menggenapi apa yang diinginkan Allah Bapa-Nya dan membayar dengan nyawa-Nya. Biarlah kita memiliki kerinduan yang sama untuk satu komunitas yang benar-benar mencerminkan kerelaan berkorban dari Kristus. Sama seperti Kristus hidup, demikian kita juga harus hidup.

***(c). Kasih Sang Gembala meluap, melebih batas kelompok (ay. 16). Selain domba-domba gembalaan, Tuhan Yesus juga menyebut ada domba-domba lain dari luar kandang gembalaan-Nya yang harus dituntun-Nya dan domba-domba itu akan menjadi satu sebagai kawanan gembalaan-Nya. Jika selama ini, kita yang hidup dalam gembalaan-Nya merasa hidup ini hanya untuk kelompok kita, maka ayat ini akan mengagetkan kita.

Mereka “yang lain”, dari ”kandang” yang berbeda, ternyata juga adalah kepunyaan-Nya, yang dituntun-Nya agar mereka mendengar suara-Nya! Ini berita sukacita kedua yang kita dapatkan dari teks ini. Pertama, kita diberi daya untuk mengusahakan hidup dalam kehidupan yang nyata sesuai waktu saat ini, bahkan daya itu memampukan kita untuk menghasilkan yang unggul melebihi ukuran-ukuran yang ada.

Kedua, Sang Gembala meyakinkan kita bahwa mereka “yang lain” juga adalah kepunyaan-Nya, dan dengan begitu mereka juga diberi daya yang sama dengan kita. Kalau begitu, apakah masih ada alasan kita untuk tidak bersemangat hidup dan memelihara kehidupan bersama yang lain? Tuhan menolong kita untuk meyakini hidup yang berikan-Nya tidak lepas dari
pemeliharaan-Nya. Amin

“Selamat mempersiapkan diri pada pelayanan firman di minggu jubilate, tatap semangat dan selalu bertekun dalam doa. (***)

You might also like