Renungan Amsal 15: 25, PUNYA KEKAYAAN: MILIKI SIKAP HATI YANG TAKUT AKAN TUHAN

Foto : Ilustrasi

Amsal 15,25
Rumah orang congkak dirombak TUHAN, tetapi batas tanah seorang janda dijadikan-Nya tetap.

Proverbs 15,25
The LORD tears down the house of the proud, but he sets the widow’s boundary stones in place.

Poda 15,25
Siap do bagas ni halak na jungkat bahenon ni Jahowa, alai hot do ianggo talutuk ni boruboru na mabalu dihajongjongkon.

Pada renungan ini, nasehat Amsal mengajarkan kepada kita agar memiliki hikmat dalam hal kelimpahan materi (harta kekayaan) yang kita miliki, artinya agar ”hendaknya kita tidak fokus pada pencapaian jumlah materi, melainkan pada kondisi sikap hati kita.” Meskipun sederhana, bagaimana pun memiliki sikap hati yang takut akan Tuhan, ini jauh lebih baik dibandingkan memiliki sangat berlimpah/banyak harta tetapi disertai kecemasan, kebencian dan egois (16-17). Orang yang bijak di dalam Tuhan, ia dipenuhi kesabaran, kejujuran, ketekunan, dan senantiasa menggunakan akal budinya untuk melakukan kehendak Allah (18-24), ”hatinya mengarah kepada Allah dan kebenaran-Nya (ay.25).

Seturut dengan hal ini, pengejaran akan materi dan kesuksesan hidup tanpa disadari, keinginan itu dapat mengikis kedamaian dalam hidup kita. Tidak heran, kita selalu merasa kurang dalam meraih pencapaian hidup di dunia ini. Rasa cemas, takut, dan khawatir perlahan-lahan mengalahkan kedamaian di dalam hati dan hidup kita. Kita mulai khawatir saat hasil pekerjaan kita tidak memenuhi standar kesuksesan hidup di dunia ini. Kita takut direndahkan, kita takut menjadi miskin, dan kita takut ditolak oleh dunia ini. Semua itu tanpa sadar membuat kita kehilangan kedamaian, bahkan tidak menutup kemungkinan kita kehilangan kemuliaan Allah. Sebanyak apa pun harta kekayaan yang kita miliki, tidak akan berarti jika hidup kita berujung pada maut. Takut akan Allah adalah kunci utama untuk menjadi bijak dalam segala hal, termasuk dalam hal harta kekayaan. Intinya, apakah langkah-langkah yang kita lakukan dalam memenuhi kebutuhan, mengejar impian, dan meraih kesuksesan hidup sudah didasarkan pada hati yang takut akan Tuhan? Kedamaian hidup tidak dapat dibeli dengan harta kekayaan, berapa pun jumlahnya! Kedamaian sejati hanya terletak pada hati yang takut akan Tuhan.

Renungan hari ini berkata, Rumah orang congkak dirombak TUHAN, tetapi batas tanah seorang janda dijadikan-Nya tetap. Perlu mendapat perhatian sekarang, yakni penggalan kalimat pertama (lih. terj. Bhs Inggris: The LORD tears down the house of the proud, diterj, ke bahasa Indonesia, Rumah orang congkak dirombak TUHAN). Pada penggalan kalimat pertama renungan ini, perhatian kita tertuju pada kata ”proud”. Arti kata ini ialah “bangga”. Sementara pada ay. 25 renungan hari ini, kata ini diterjemahkan sebagai ”congkak”. Tentu seturut dengan konteks kehidupan (dialami), sebagaimana ditekankan renungan hari ini bahwa sesuai arti “proud” (bangga): “kebanggaan bisa memiliki arti yang baik” (sangat normal dan sangat boleh berbangga hati atas sesuatu capaian apapun itu). Misalnya, bangga akan prestasi (capaian) anak-anak, bangga dalam pekerjaan, …bangga dalam semua hal. Namun, ketika Alkitab berbicara soal pride (bangga), bisa terjadi perbedaan dan memiliki kiasan yang sangat negatif, yaitu kecongkakan atau tinggi hati (membanggakan diri sendiri). Artinya, menganggap pikiran sendiri lebih tinggi dari pikiran orang lain, kepentingan sendiri menjadi lebih penting dari kepentingan orang lain, capaian sendiri menjadi lebih super dari capaian orang lain, pangkat/jabatan sendiri yang harus/wajib dan paling dihormati (tinggi) dari pangkat/jabaan orang lain …dan lain-lain sebagainya! Sikap ini jelas menjadi sangat egois artinya sifat/sikap, kelakuan yang terlalu ingin mendominasi. Selangkah lagi, …roh egois inilah yang akhirnya berkata, “Aku tidak membutuhkan Tuhan Allah.” Dan sesugguhnya, sikap egois inilah sebagai akar dari semua dosa. Ini sebabnya, pernyataan renungan ini disambung (mendapat kekuatan maknanya, batas tanah seorang janda dijadikan-Nya tetap.

Jadi bagaimana kita hari ini, atau bagaimana seharusnya respon kita terhadap godaan dan bahaya tinggi hati (cogkak/bangga sepihak) ini? Beberapa saran dari nasehat Amsal bagi kita, yakni:

a) Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, ada banyak realitas kehidupan yang bertolak belakang kita ingkinkan, alami dan temui. Misalnya, orang bijak membawa kehidupan vs orang bodoh membawa kepada kematian (24). Tidak satu pun dari kita suka dikritik. Jika kita tidak belajar disiplin, kita hanya merusak diri sendiri (32). Itu sebabnya kita seyogianya hidup takut akan Tuhan (25-33). Inilah instruksi untuk menjadi bijaksana. Salomo mengatakan, “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN daripada banyak harta dengan disertai kecemasan” (Ams. 15:16).

b). Sungguh! Secara eksplisit dan implisit, pengamsal menyatakan bahwa hari-hari orang yang berkesusahan adalah buruk semuanya. Akan tetapi hari-hari orang yang gembira hatinya selalu bersukacita dan berpesta. Ia juga mengatakan bahwa lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan daripada banyak harta dengan disertai kecemasan. Ia juga mengemukakan bahwa lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.

c). Semuanya dimulai dari hati. Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan. Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta. Hati yang seperti apakah yang anda miliki? Tidak hanya hari ini, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan kita! Amsal menyatakan: keduanya ada perbedaan. Hidup orang beriman mestilah hidup dengan hati yang penuh syukur karena tahu bahwa Tuhan selalu memberikan pengharapan kepada kita. 1 Petrus 3:8-12, ”Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”Hidup yang menjadi berkat dan memberi berkat itulah yang patut kita miliki dalam hidup kita oleh karena pertama-tama kita sudah menerima berkat yang dari Tuhan.”

Hidup orang Kristen yang dipenuhi hikmat iman (beriman) pastilah mengaminkan ini, ”Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian” (Amsal 15:16-17). Rumah orang congkak dirombak TUHAN, tetapi batas tanah seorang janda dijadikan-Nya tetap. Amin

Tetaplah semangat dan selalu bertekun dalam doa

By : Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTH, MPd

You might also like