UNICEF, Poltekkes, dan Pemprov NTT Perkuat Peran Dosen dalam Edukasi Imunisasi

Independennews.com | NTT – Upaya melindungi anak-anak dari berbagai penyakit berbahaya terus diperkuat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan organisasi internasional dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui Workshop Peningkatan Kapasitas Peran Dosen dalam Mendukung Imunisasi Rutin Berbasis Gender yang digelar di Hotel Aston Kupang, Selasa (10/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Indriyani, M.Kes; Kepala Kantor Lapangan UNICEF NTT, Yudishtira Yewangoe; Health Officer UNICEF Dr. Alfian R. Munthe, MPH; Wakil Direktur II Poltekkes Kemenkes Kupang, Dr. Karolus Ngambut, SKM, M.Kes; serta Kabid P2P/Program Imunisasi Maria Elisabeth Anggreini, S.Farm., Apt., MPH.

Turut hadir pula tim fasilitator yang terdiri dari Dr. Aemilianus Mau, S.Kep., Ns., M.Kep; Ignasensia D. Mirong, SST., M.Kes; M. Huru, SST., M.Kes; serta Margareta Teli, S.Kep., Ns., MScPH., Ph.D.

Workshop yang berlangsung selama 10–11 Maret 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara UNICEF, Poltekkes Kemenkes Kupang, dan Pemerintah Provinsi NTT. Kegiatan ini melibatkan dosen dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya FKM dan FKKH Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Citra Bangsa, STIKES Maranatha Kupang, dan STIKES Nusantara Kupang.

Workshop ini menjadi ruang dialog sekaligus penguatan kapasitas akademisi untuk memperdalam pemahaman tentang pentingnya imunisasi anak serta mengintegrasikan pendekatan berbasis gender dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi di masyarakat.

Cakupan Imunisasi Masih Rendah

Data tahun 2025 menunjukkan bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap pada balita di NTT baru mencapai 63,4 persen, masih jauh dari target nasional sebesar 95 persen.

Dari seluruh kabupaten/kota di NTT, hanya Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan yang berhasil mencapai cakupan imunisasi di atas 80 persen. Sementara beberapa daerah lainnya masih menunjukkan angka yang cukup rendah, seperti Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sumba Barat Daya yang baru mencapai sekitar 46 persen.

Kondisi ini menunjukkan masih adanya berbagai tantangan dalam akses layanan kesehatan dasar, terutama di wilayah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau.

Selain itu, faktor sosial budaya, keterbatasan fasilitas kesehatan, hingga rendahnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya imunisasi turut memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi.

Di beberapa wilayah bahkan masih ditemukan anak-anak yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali atau dikenal sebagai “zero-dose children.”

Pentingnya Pendekatan Gender

Workshop ini juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis gender dalam program imunisasi.

Dalam banyak keluarga, keputusan terkait kesehatan anak sering kali dipengaruhi oleh norma sosial yang menempatkan ayah sebagai pengambil keputusan utama.

Karena itu, peningkatan pemahaman ayah mengenai manfaat imunisasi dinilai sangat penting agar mereka dapat memberikan dukungan terhadap kesehatan anak.

Di sisi lain, ibu sebagai pengasuh utama juga perlu diberdayakan agar lebih aktif memastikan anak mendapatkan imunisasi secara lengkap.

Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi sekaligus mengatasi berbagai persepsi keliru yang masih berkembang di masyarakat.

Peran Strategis Akademisi

Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang yang diwakili oleh Wakil Direktur II, Dr. Karolus Ngambut, SKM, M.Kes, menegaskan bahwa dosen memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkan di ruang kelas mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran kesehatan keluarga.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para dosen dapat memperkuat pemahaman mengenai perspektif gender dan kesetaraan keluarga dalam program kesehatan, serta mampu mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi kesehatan yang efektif agar pesan mengenai manfaat imunisasi dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

UNICEF Dorong Kolaborasi Pendidikan

Sementara itu, Kepala Kantor Lapangan UNICEF NTT, Yudishtira Yewangoe, menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu cara paling efektif dalam melindungi anak-anak dari berbagai penyakit berbahaya.

Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi sangat penting dalam memperkuat edukasi kesehatan di masyarakat.

“UNICEF percaya bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat memperkuat upaya edukasi kesehatan. Para dosen memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir generasi muda dan masyarakat mengenai pentingnya imunisasi,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas komitmen berbagai pihak di NTT yang terus bekerja sama dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.

Komitmen Pemprov NTT

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Indriyani, M.Kes, menegaskan bahwa pemerintah daerah sangat mendukung kolaborasi antara lembaga pendidikan, organisasi internasional, dan sektor kesehatan.

Menurutnya, tantangan kesehatan di NTT masih cukup besar sehingga dibutuhkan kerja sama berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi dan kesehatan keluarga.

“Pemerintah Provinsi NTT sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Kami percaya bahwa keterlibatan akademisi akan memberikan kontribusi besar dalam memperkuat edukasi kesehatan hingga ke masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan berbagai inovasi serta strategi komunikasi kesehatan yang lebih efektif dan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat di NTT.

Melalui kolaborasi antara UNICEF, perguruan tinggi kesehatan, dan Pemerintah Provinsi NTT, diharapkan program imunisasi di NTT dapat menjangkau lebih banyak anak.

Dengan sinergi yang terus diperkuat, harapan untuk mewujudkan generasi NTT yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas semakin nyata.

(MARCHELINO)

You might also like