Independennews.com | Kupang — Senyum ramah Charlie Paulus mengiringi langkahnya keluar dari ruang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Bank NTT, Rabu (12/11/2025). Di tengah kerumunan wartawan, Direktur Utama Bank NTT yang baru disahkan itu tampak tenang namun penuh semangat. Ia kini resmi memimpin salah satu lembaga keuangan kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bagi Charlie, jabatan ini bukan sekadar posisi strategis di dunia perbankan, melainkan amanah besar untuk membangun ekonomi rakyat NTT dari akar rumput.
“Saya ingin Bank NTT benar-benar menjadi banknya rakyat NTT — bank yang tumbuh bersama masyarakat, bukan di atas masyarakat,” ujarnya dengan nada tegas namun bersahabat.
Dorong Kredit Produktif dan UMKM
Dalam visinya, Charlie menaruh perhatian besar pada penguatan sektor produktif, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ia menilai struktur kredit Bank NTT selama ini masih didominasi kredit konsumtif, sehingga perlu ada pergeseran menuju pembiayaan sektor produktif yang lebih berdampak langsung bagi ekonomi daerah.
“Kredit konsumsi kita tinggi sekali, tapi kredit produktif masih rendah. Itu yang akan kita ubah. Ekonomi daerah akan kuat kalau produktivitas masyarakatnya tumbuh,” ungkapnya.
Salah satu program unggulan yang segera dijalankan adalah “Women Entrepreneur”, yakni inisiatif pembiayaan bagi perempuan pengusaha di sektor kuliner, kerajinan tangan, dan pariwisata. Charlie menilai potensi wirausaha perempuan di NTT sangat besar, namun belum mendapatkan akses permodalan yang memadai.
“Kami ingin membantu mereka berkembang. Pengalaman kami menunjukkan, kredit perempuan justru memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan laki-laki,” katanya sambil tersenyum.
Dekat dengan Daerah, Hadir untuk Masyarakat
Tidak ingin hanya memimpin dari balik meja, Charlie berkomitmen turun langsung ke kabupaten dan kota di seluruh NTT untuk mendengarkan langsung kisah, tantangan, dan harapan para pelaku UMKM.
“Setiap kabupaten punya potensi berbeda. Ada yang unggul di tenun, ada di kuliner, ada di wisata. Tugas kami adalah hadir, mendengarkan, dan membantu,” tuturnya.
Ia juga berencana memperkuat sinergi dengan program pemerintah provinsi melalui inisiatif One Village One Product (OVOP). Bank NTT diharapkan menjadi mitra utama pemerintah daerah dan masyarakat desa dalam menggerakkan ekonomi lokal serta membuka lapangan kerja baru.
Transformasi dan Target Kinerja
Dengan strategi baru yang berorientasi pada keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat, Charlie menargetkan laba Bank NTT tahun depan mencapai Rp260 miliar, atau meningkat hampir 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan Bank NTT tidak hanya diukur dari laba, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dan kesejahteraan karyawan.
“Saya percaya, kesuksesan Bank NTT bukan diukur dari angka semata, tetapi dari seberapa banyak kita membantu masyarakat dan memberi nilai tambah bagi daerah,” ujarnya.
Sosok yang dikenal sederhana ini menutup pernyataannya dengan refleksi pribadi yang menggambarkan ketulusan seorang pemimpin daerah:
“Untuk pribadi, saya merasa sudah cukup. Tapi saya ingin waktu dan tenaga saya bermanfaat bagi lebih banyak orang. Itulah yang membuat hidup punya arti.”
Dengan kepemimpinan baru di tangan Charlie Paulus, Bank NTT diharapkan tidak hanya menjadi bank pembangunan daerah, tetapi juga simbol optimisme baru bagi ekonomi Nusa Tenggara Timur — bank yang hadir, mendengar, dan tumbuh bersama rakyatnya.
(Tim Redaksi | Marchellino)