Renungan 2 Kronika 18: 13 “KEJUJURAN MENUNJUKKAN KEBENARAN YANG MURNI.”

Foto : Ilustrasi

2 Tawarikh 18 : 13 “Tetapi Mikha menjawab: “Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Allahku, itulah yang akan kukatakan.”

Ayat renungan hari ini merupakan perkataan Nabi Mikha mememenuhi permintaan raja Israel yakni raja Ahab (disampaikan melalui suruhannya), agar nabi Mikha berkata tentang nubuatan yang baik-baik saja tentangnya.

Namun, pada sikapnya tentang apa yang dikehendaki oleh Ahab mengenai nubuatan dimakdsud itu, Mikha kuat pada pendiriannya mengatakan: “Demi Tuhan yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Allahku, itulah yang akan kukatakan.”

Jalan cerita yang melatarbelakangi renungan ini sangat menarik diperhatikan (disimak). Mari tekun membacanya!
Pada masanya, Raja Ahab (raja Israel) adalah raja yang tidak percaya kepada Allah. Ia tidak hidup dalam takut akan Tuhan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ia tidak mau mendengarkan firman Tuhan.

Ahab sangat tidak menghendaki (tidak senang) pada semua nabi yang memberitakan kebenaran karena memang semua nabi selalu menubuatkan yang buruk tentang dirinya (18:7,17).

Raja Ahab lebih suka kepada nabi-nabi palsu yang meramalkan hal-hal yang baik tentang dia, istilah sekarang Ahab gambaran seorang suka dipuja-puja walau faktanya hasil kerjanya jahat/tidak baik (18:12).

Sebagai seorang nabi yang benar, Mikha tetap memberitakan firman Tuhan, walaupun hidupnya terancam oleh mara bahaya dan penderitaan, terutama bahaya karena dampak sikap tidak suka Ahab padanya (18:13).

Ternyata benar! Konsekuensi dari memberitakan firman yang benar di tengah angkatan yang bengkok itu tidak menyenangkan. Mikha pun kena tampar oleh Zedekia bin Kenaana (18:23). Selanjutnya, Raja Ahab menangkap Mikha dan memasukkannya ke dalam penjara dengan makanan dan minuman yang serba sedikit (18:26).

Yang bahkan lebih mengherangkan lagi ialah bahwa raja Ahab (yang tidak mau menerima firman Tuhan), ia merasa bahwa ia dapat menghindari malapetaka yang dinubuatkan oleh Nabi Mikha tentang dirinya. Ia mencoba melakukan trik untuk mengelabui tentara orang Aram yakni Yosafat.

Ahab meminta Raja Yosafat untuk masuk pertempuran dengan memakai pakaian kebesaran raja, sedangkan ia menyamar menjadi orang biasa. *Raja Yosafat segera menjadi target orang Aram karena ia dikira sebagai raja Israel. Syukur bahwa Yosafat berseru kepada Tuhan, dan Tuhan menolongnya.

*Allah membujuk tentara Aram untuk pergi menjauhi Ahab. Panglima pasukan melihat bahwa dia bukan raja Israel, maka mereka undur dari padanya. Namun, tanpa diduga, seseorang menarik panah dan menembakkannya secara sembarangan saja, dan panah itu pas mengenai raja Israel yakni Ahab (18:29-33). Nubuat Mikha tentang raja Ahab pun digenapi, raja Ahab pun mati seketika.

Bingkai cerita (renungan):

Konfirasi raja Ahab (Israel) bersama raja Yosafat (Aram), keduanya mempertimbangkan untuk berperang melawan Ramot-Gilead. Untuk rencana ini, Ahab mengumpulkan 400 nabi untuk menolongnya mengambil keputusan/kebijkan perang.

Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk Ahab sendiri menjadi nabi dan tentu saja karena ditunjuk Ahab menjadi nabi, tentu saja ke 400 orang nabi tunjukan raja ini akan selalu mengatakan apa yang menyenangkan telinga sang raja (Ahab).

Masing-masing dari nabi (400 orang) itu menjawab bahwa Ahab harus berperang, dengan mengatakan, *“Allah akan menyerahkan (Ramot-Gilead) ke dalam tangan raja” (2 Taw. 18:5). Pikiran/firasat raja Yosafat (yang masih waras/sehat) bertanya dalam dirinya, *“apakah masih ada nabi lain yang telah dipilih Allah untuk memberikan petunjuk-Nya” Dasar sikap/karakter Ahab menjawab dengan sombong/ogah-ogahannya, karena nabi Allah yang bernama Mikha

Tidak pernah . . . menubuatkan yang baik tentang [dirinya], melainkan selalu malapetaka”* (ay.7). Dan memang, Mikha pun menubuatkan bahwa mereka tidak akan menang, dan bangsa Israel akan “bercerai-berai di gunung-gunung” (ay.16). Bahkan Ahap pun akan mati di tengah perang, yang ternyata nubuatan Ahab pun terbukti.

Lalu, peran renungan hari ini bagi kita, ialah:
a). Sering kita orang Kristen jaman ini seperti sikap/karakteri raja Ahab yang cenderung sering menghindari nasihat yang bijak apabila itu tidak menyenangkan telinga kita. Bagi Ahab, mendengarkan 400 nabi yang selalu mengatakan apa yang menyenangkan di hatinya, walau nasihat itu tidak ada dasar/fondasinya (laporan asal bapak senang saja!), bahwa nasihat seperti itu ternyata akan berakibat fatal (ay. 34). Kiranya kita selalu rindu mencari dan mau mendengarkan suara/nasehat kebenaran, firman Allah dalam Alkitab, walaupun suara itu bertentangan dengan kemauan dan pemikiran kita sendiri.

b). Orang yang lebih percaya kepada diri sendiri, …ia sering berpikir bahwa ia dapat mengandalkan dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan ini tanpa firman Allah. Padahal, tanpa firman Allah, hidupnya dapat tersesat dan menuju kebinasaan seperti Raja Ahab. Adalah baik bila kita mempercayai bahwa firman Allah itu selalu baik bagi diri kita, walaupun arah nasehat/petunjuk firman Allah tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

c). Pribadi yang awalnya punya cita-cita baik, namun (karena bertemu orang yang salah), hidupnya berakhir secara sia-sia. Situasi seperti inilah yang terjadi pada Yosafat, mulanya ia raja yang takut akan Tuhan. Ia menjauhkan bukit pengurbanan dan tiang berhala, ia juga memerintahkan beberapa pegawai untuk mengajarkan Taurat di semua kota di Yehuda/Aram. Karena sikapnya itu, Allah pun membuat ia disegani oleh negeri-negeri di sekelilingnya. Sayang, ketika semakin kaya dan semakin terhormat, Yosafat pun memilih besan yang salah, yakni Ahab yang fasik. Bahkan, ia bergabung dengan sekutu yang salah pula (Ahazia), raja Israel yang fasik perbuatannya. Jadi, jika ada perkataan dalam pergaulan mengatakan, “tunjukkan temanmu, maka aku bisa menunjukkan masa depanmu.” Pesan perkataan ini menasehati kita bahwa “orang-orang di sekitar kita dapat mendukung kita naik atau sebaliknya/menyeret kita turun”. Jadi, pastikan dengan siapa kita berteman, dengan pribadi yang bijak, yang bukan orang yang bebal, …agar kehidupan kita tidak menjadi malang. Atau, jika engkau tidak ingin kehidupanmu semakin kacau, jangan kehendaki bergaul dengan mereka yang telah mengacaukan kehidupan dirinya (kehidupan mereka) sendiri.

Konsekuensi dari ketaatan bukan hanya bisa tidak menyenangkan, melainkan bisa juga buruk sekali Amin

(St G Sibagariang)

You might also like