Pancasila Sebuah Ontologi Ketuhanan

0
200

Pancasila merupakan gagasan filosofis dalam upaya membangun sebuah bangsa. Ia terbentuk atas seikat nilai-nilai yang tumbuh dalam ruang berfikir dan berperilaku manusia Indonesia. Ia digali dari sebuah endapan nilai terdalam.

Mari kita sejenak melihat apa itu Ontologi Ketuhanan. Ontologi berasal dari kata otos dan logos. Otos bermakna eksistensi atau keberadaan, sedangkan logos bermakna ilmu. Jadi ontologi secara sederhana dimaknai sebagai ilmu tentang keberadaan, atau ilmu tentang hakikat atau arti terdalam atas sebuah objek tertentu. Jika dikaitkan dengan Ketuhanan dalam Pancasila maka disini kita hendak bertanya tentang hakikat-hakikat Ketuhanan, makna Ketuhanan yang terkandung dalam Falsafah Pancasila.

Untuk itu maka kita melihat ke dalam sila yang terkandung di dalamnya. Dari 5 sila yang ada, terdapat 5 nilai yang bisa kita lihat: Nilai Ketuhanan, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, Nilai Musyawarah (demokrasi), dan terakhir kita temukan Nilai Keadilan Sosial.

Nilai Ketuhanan dan Nilai Kemanusiaan menarik untuk dicermati. Apa yang kita maksudkan dengan nilai ketuhanan itu sendiri? Apakah menuju pada wujud Tuhan?

Ketuhanan bukan merujuk pada wujud Tuhan, melainkan pada sebuah pengakuan terhadap eksistensi Tuhan dalam alam berfikir manusia yang terdalam. Coba kita lihat, ia bukan wujud Tuhan, tetapi pengakuan dalam diri kita selaku manusia atas eksistensi Tuhan. Jadi bisa kita bedakan tegas bahwa wujud Tuhan berbeda dengan pengakuan terhadap Tuhan.

Wujud Tuhan yang sesungguhnya tidak bisa kita ketahui. Yang mengetahui wujud Tuhan hanya Tuhan sendiri. Dia mengetahui menurut pengetahuanNya bukan pengetahuan kita.

Ketuhanan adalah sebuah kesadaran, pengakuan sadar atas rasa bertuhan dalam diri manusia. Mengakui kehadiran Tuhan dalam rasa yang paling dalam. Disinilah kita mencoba menengok ke dalam dasar hati kita yang terdalam, masih adakah Tuhan kita rasakan dalam diri kita? Sudahkah kita merasakan kehadiranNya, sehingga kita mampu melihat, bertindak, berperilaku dan bahkan berfikir untuk selalu membawa dan menyertakanNya?

Nietzsche (1844-1900) sang filsuf Jerman dengan lantang menyatakan “Gott is tot” atau “Tuhan telah mati”. Mungkin sebuah kritik atas konsep hidup manusia yang telah dan tengah membunuh tuhan. Iya tentunya bukan wujud Tuhan dalam kategori ontologis (Tuhan yang sejati), tetapi dalam ranah epistemologi. Tuhan dalam akal dan jiwa manusia yang sengaja atau tidak telah hilang atau mati. Jiwa tak berTuhan karena kita telah mengganti Tuhan dalam jiwa kita kecintaan atas wujud kebendaan duniawi. Tuhan yang telah kita hilangkan dalam lembaran putih jiwa kita. Manusia yang berjalan tak berTuhan. Sebuah otokritik atas hilangnya kesadaran bertuhan dalam jiwa manusia.

Disinilah agama memperkenalkan konsep relasi Ketuhanan dalam jiwa manusia terdalam (hablumminallah). Sebuah konsep tentang visi manusia yang dikehendaki, yaitu manusia monoteistik sebagai bentuk ideal. Manusia yang selalu membawa Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap gerak dan detak hidupnya.
Manusia tauhid yang mengakui hanya Tuhan dalam hidupnya & membedakan dengan selain diriNya. Selain Tuhan Yang Tunggal yaitu Allah, semuanya dalam bentuk berpasangan.

Manusia dan juga alam semesta yang diciptakan olehNya dalam bentuk yang berpasangan:
Laki-laki dan Perempuan, Pagi dan Malam, Bulan dan Matahari, Lautan dan daratan, Dunia dan akhirat, bahagia dan sedih, semuanya berpasangan dalam bentuk dualitas makhluk. Tuhan tidak berpasangan, Dia sendiri tanpa ada yang menyamaiNya.

Disinilah hakikat Nilai Ketuhanan itu terjadi, sebuah ontologi Ketuhanan dalam Falsafah Pancasila. Manusia ideal yang mengakui Tuhan Yang Tunggal, dan menempatkanNya dalam setiap olah fikir dan gerak manusia.

Gagasan manusia bertuhan menjelaskan sebuah prinsip pengakuan menyeluruh atas jejak kehendak Tuhan dalam diri. Manusia bertuhan dalam spiritualisme Suhrawardi (1154 – 1191 M), adalah limpahan Cahaya Tuhan yang memasuki ruang jiwa batiniyah manusia. Tuhan adalah Cahaya di atas cahaya (Qs.[24]:35), pusat ketertundukan kosmos. Dia memancarkan limpahan cahaya kepada semua entitas alam baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Jiwa manusia yang terang hakikatnya menerima terpaan cahaya rahman dan rahim Tuhan; karena ia selalu berupaya mendekatiNya. Dekati sumber cahaya itu agar kita tampil bercahaya. Ketika ia berada menjauh dari sumber cahayaNya, maka cahaya Tuhan akan semakin mengecil dan akhirnya menghilang dari dirinya.

Manusia yang selalu menunjukkan kosmos Ketuhanan dalam gerak refleksinya, sesuai dengan hadits Qudsi:

“Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan” (HR Bukhari).

Totalitas penghambaan makhluk kepada Tuhan, dimana setiap sudut hatinya adalah wujud refleksi cahaya Tuhan. Ia melangkah dan berbuat adalah perwujudan penghambaan kepadaNya.

Dalam teorema Ibn Arabi (1165-1240 M) manusia adalah fenomen kehadiran Tuhan yang ingin dikenal oleh makhluk. Manusia hanyalah citra atau imago Tuhan di bumi. Bahwa eksistensi manusia dan makhluk sesungguhnya mengarah kepada sesuatu yang lebih besar, yaitu eksistensi kehadiran Tuhan itu sendiri.

Disinilah eksistensi manusia yang sesungguhnya. Ia tidak hadir atas dirinya sendiri, karena ia hanyalah bentuk dari citra dan bayang-bayang Tuhan. Manusia yang bergerak tidak pernah dapat lepas dari jangkauanNya. Dinamika idealita kehadiran manusia yang sesungguhnya adalah semu, karena ia hanyalah bayangan yang kelak menghilang. Ia bukan sebuah entitas yang kekal, karena ada dan hadirnya ia disebabkan oleh ada dan hadirnya Tuhan.

Pancasila yang mengadopsi gagasan spiritualisme Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan prinsip manusia ideal, manusia yang selalu meletakkan kosmos hidupnya dalam lingkar Ketuhanan.

Penulis adalah Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia.
Dosen tidak tetap Universitas Esa Unggul & STKIP Arrahmaniyah Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.