Menilik Makna Natal, “NATAL dan Kesederhanan “

0
516

Poto Ilustrasi

Bayangkan, jika seorang remaja perempuan datang dan mengatakan, “Saya hamil…”. Dan saat Anda bertanya, “Siapa yang melakukannya?”. Remaja perempuan ini pun dengan yakin menjawab: “Bukan siapa-siapa! Ini adalah perbuatan Allah sendiri!” Anda percaya?

Berat bagi Maria untuk menjelaskan kehamilannya yang tidak biasa kepada Yusuf, sang calon suami. Berat untuk meyakinkan banyak orang di sekelilingnya bahwa kehamilannya bukan perbuatan Yusuf. Bagi lingkungan Maria, hukumnya hanya satu untuk hamil di luar nikah: rajam dengan batu sampai mati. Ini berat!

Berat bagi Yusuf untuk menerima kenyataan bahwa tunangannya hamil sebelum mereka menikah. Lebih berat lagi bagi Yusuf untuk menerima tanggung jawab sebagai “orang tua” Mesias. Layakkah Yusuf? Ia merasa tidak layak!

Berat bagi Maria dan Yusuf untuk berjalan atau menunggangi keledai sejauh 109 KM dari Galilea ke Yudea. Medan padang pasir yang berat, ancaman binatang buas maupun perampok yang senantiasa mengincar. Apalagi Maria dalam keadaan hamil besar. Berat! Sungguh berat!

Berat untuk menerima kenyataan bahwa hanya kandang yang tersedia. Hanya palungan dan lampin yang dapat digunakan. Apakah tidak ada yang lebih baik dari semua ini? Berat untuk dipikirkan, apalagi diterima.

Berat pagi para gembala untuk meninggalkan ternaknya di padang demi menjumpai Sang Bayi kudus. Bagaimana kalau ternak mereka dicuri atau diterkam binantang buas? Ini pun berat!

Berat bagi para majus dari timur yang harus menempuh perjalanan lebih kurang 996,8 km dengan mengendarai unta ke Yerusalem dengan hanya berpatokan pada bintang. Berapa waktu yang diperlukan? Berapa besar resiko maupun biaya yang harus ditanggung?

Berat bagi Maria dan Yusuf mendengar ancaman bahwa Herodes membunuh semua bayi yang berusia dua tahun ke bawah. Banyak bayi di sekitarnya yang telah dibunuh. Banyak tangis pilu para ibu. Tidak ada pilihan lain, sekali lagi harus melakukan perjalan panjang 613 Km, dari Israel ke Mesir. Berat! Sangat berat!

Jika ada yang berpikir bahwa natal adalah pesta-pesta meriah, acara yang spektakular, baju-baju baru model teranyar, bingkisan-bingkisan yang fantastis, konsumsi yang lezat, dekorasi yang menimbulkan decak kagum,… harap berpikir lagi… Natal itu berat! Sangat berat!

Ada banyak orang yang hidupnya berat. Tanpa makan dan minum; tanpa pakaian dan tempat tinggal; terbaring di rumah sakit; terkurung di penjara; mengembara sebagai orang asing; dalam kesepian dan kesendrian di hari tua; tanpa kepastian…

Ada sebagian orang yang terpaksa harus tinggal di tenda-tenda pengungsian akibat bencana. Atau hunian sementara yang kepanasan ketika siang, kedinginan ketika malam, dan kebanjiran ketika turun hujan. Ada beberapa orang yang merayakan natal tanpa orang-orang tercinta, karena tahun ini mereka harus berpulang ke haribaan-Nya. Natal ini berat bagi mereka!

Bagaimana memahami Allah dalam tindakkan-tindakan-Nya? Natal itu ringan dan menyenangkan, atau berat dan menyusahkan?

Dua teolog besar, Martin Luther dan Karl Barth memiliki tekanan yang berbeda tentang Allah. Barth memberikan tekanan utama pada transendensi Allah, Allah yang “jauh” di sana, yang sulit dimengerti. Berbeda dengan Luther yang memberikan tekanan pada kondesendensi (turunnya Allah ke dunia). Barth terang-terang mengakui prinsip kalvinis, “yang terbatas tak mampu menampung yang tak terbatas” – Finitum non capax infiniti. Ini pun berat

Jika ada yang berpikir bahwa natal itu menyenangkan, pikirkanlah kembali! Natal itu berat! Sungguh berat!

Salam adven

Dikutip dari berbagai Sumber..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here