Kilas Balik Putra Putri Suku Anak Dalam, Mengenyam Pendidikan Zaman Milenia yang Serba Kekurangan

0
482

Tebo, Independennews.com — Menelisik keberpihakan zaman milenia bagi putra putri suku Talang Mamak di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Dalam perjalanan bangsa Indonesia yang sudah meraih Kemerdekaan 73 Tahun silam, Pada usianya sudah panjang ini tentunya seluruh masyarakat disiantero bumi persada nusantara ini seharusnya telah menikmati seluruh aspek pembangunan.

Namun berbeda dengan masyarakat suku talang mamak yang kebiasaan tradisi hidup masyarakatnya tinggal di Hutan. Dunia perkotaan sesuatu dunia yang asing bagi masyarakat suku talang mamak. Seperti halnya dalam penuturan beberapa pelajar asal suku talang mamak yang mencoba mengenyam pendidikan di dunia yang sangat asing ( Perkotaan-red)

“Demi menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, kami sebagai generasi penerus suku talang mamak harus berjuang di dunia yang sangat asing bagi kami, sebab sebelumnya, kami hidup di hutan jauh dari keramaian dan pembangunan yang belum pernah kami sentuh. Kebiasan hidup dikota membuat kami merasa semakin tersisihkan, Kami harus rela hidup seadanya serta meninggalkan orang tua kami demi meraih pendidikan yang kami cita citakan, mungkinkah dengan mengenyam pendidikan setingkat SLTA mampu merubah keadaan yang selama ini kami rasakan pahit,” tutur Supri Siswa SMK Al-Khariyah Kabupaten Tebo kepada independennews.com.

Semangat putra putri suku Talang Mamak dalam mengenyam pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi setingkat (SLTA- menurut mereka-red) terlihat jelas dalam rahut wajah para siswa ini. Program pemerintah dengan pencanangan wajib belajar 9 tahun sungguh sesuatu sinar surya bagi generasi suku anak dalam ini.

“Program ini sudah mulai masuk kepada masyarakat suku talang mamak, yang akan mewujubkan kami untuk meraih pendidikan walau hidup paspasan di dunia yang sangat asing bagi kami (Dunia Perkotaan-red), mudah mudahan ini menjadi jalan bagi masyarakat talang mamak yang biasanya hidup dihutan, bisa berobah kebiasaan hidupnya untuk tinggal di kota,” tutur Supri, siswa yang duduk dibangku kelas 3 SMK ini

Masyarakat suku talang mamak, hidup disebuah Hutan di Dusun Semerantihan, Desa Suo suo, Kecamatan sumay. Sementara mata pencaharian Masyarakat suku talang mamak yakni Buah Jernang, Karet dan Hasil Hutan lainnya.

“Orang tua yang berpenghasilan seadanya membuat para pelajar asal suku talang mamak, hidup dikota seadanya menghantui perjalanan panjang dalam mengenyam pendidikan para pelajar suku talang mamak.” ujar Supri yang mengaku bercita cita jadi seorang prajurit Tentara ( TNI-red)

Salah seorang pemerhati sosial, Rapiin Ketua Divi Sosial Lembaga Oksigen Tebo didampingi ketua Lembaga oksigen Budi Kurniawan kepada independennews.com belum lama ini mengatakan, bahwa saat ini putra putri Suku Anak Dalam atau Suku Talang Mamak dalam mengenyam pendidikan hidup seadanya. Hal ini disebabkan bahwa mata pencaharian para orang tua suku talang mamak hanya berpenghasilan minim atau jauh dari hidup layak atau hidup dibawah garis kemiskinan.

Menurutnya, Zaman milenia ini, sangat tidak berpihak bagi masyarakat suku anak dalam. Mereka hidup diantara hutan belantara, jauh dari sentuhan berbagai pembangunan. Negara kita merdeka sudah menginjakkan kaki pada usia senja, nilai usia 73 tahun bukanlah sesuatu umur yang pendek bagi bangsa ini, semestinya seluruh umat manusia yang berdiam di bumi nusantara, jika tidak bisa hidup mewah, paling tidak bisa hidup paspasan. Zaman telah berubah seiring berjalannya waktu, sementara hidup masyarakat suku talang mamak jauh terbelakang dari yang terbelakang.

Meski demikian masyarakat talang mamak tidak pernah menuntut sesuatu dari pemerintah, saat ini kami sedang berupaya agar biaya sekolah putra putri suku anak dalam bisa dipenuhi.

“Bertahan hidup seadanya dikota ( dunia yang sangat asing bagi masyarakat suku anak dalam- red), tak jadi soal, ini semua tak terlepas dari mata pencaharian suku talang mamak yang sangat minim, kami menyadari hal itu, sehinggga menyadarkan kami harus rela makan seadanya di kota,” cetusnya

Kata Rapiin, walau hidup seadanya, kami berharap para pelajar suku talang mamak tetap konsen dan berjuang sekuat tenaga untuk menyelesaikan study. Sementara itu, biaya sekolah mereka sedang diupayakan olehLSM oksigen.” tutur Rapiin.(TIM/Bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.