Dialog Antar Umat Beragama HKBP dan NU, Ephorus HKBP : Menjaga Keberagaman Indonesia

0
218

Independennews.com, Batam – Geraja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Nahdlatul Ulama menggelar dialog antar umat beragama dengan tema menjaga keberagaman Indonesia, Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (28/5/21) bertempat di Sopo Marpikkir Jakarta.

Dialog antar umat beragama ini dihadiri para petinggi dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia diantarannya Ketua PB NU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., Sekjen PBNU Dr. H. Ahmad Helmy Faishal Zaini, Ephorus HKBP Pdt. DR Robinson Butarbutar, Sth., Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, Pdt. Mangatur Manurung, S.Th, Walikota Bekasi (jika ada) Dr. H. Rahmat Effendi, dan Para tamu undangan dari PBNU dan HKBP.

Mengawali persentasinya dalam dialog antar umat beragama ini, Ephorus Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. DR Robinson Butarbutar, Sth menyampaikan salam Horas, Assalamualaikum, Syalom!

“Pertemuan hari ini sungguh penting bagi masa depan kerjasama dua organisasi
keagamaan terbesar di Indonesia, jika bukan di Asia Tenggara: Nahdlatul Ulama saudara kami umat Muslim, dan Huria Kristen Batak Protestan sebagai gereja Protestan terbesar di Indonesia,” ujarnya dalam siaran tertulis yang diterima redaksi independennews.com.

Menurutnya Indonesia adalah negara yang berdasarkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita tidak pernah bisa lepas dari Tuhan yang mengatur kehidupan bangsa kita. Dan Tuhan juga telah memberikan kekayaan yang luar biasa kepada bangsa besar ini, yaitu keberagaman.

“Kita tidak boleh lupa bahwa Indonesia adalah negara besar, yang terdiri lebih dari 17 ribu pulau, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Dua pertiga wilayah kita terdiri dari air, dan dari ribuan pulau, kita memiliki bahasa dan grup etnis yang beragam pula.

Dalam era revolusi industri keempat ini, Robinson melihat bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman yang datang dalam berbagai bentuk.

“Saat ini kita sedang menghadapi bahaya covid-19 yang mengubah sebagian besar tatanan masyarakat terutama dalam pola berinteraksi, dan sebagai gereja kita
mengalami perubahan dalam peribadahan dan ritual,” ujar Robinson dalam persentasi di acara dialog tersebut.

Ia juga menilai beberapa ancaman dikarenakan negara ini berada dalam “Ring of Fire” yang membuatnya rentan terhadap bencana.

“Ancaman berikutnya datang dari perang siber. Kita sekarang sedang menghadapi konteks dunia yang sedang terancam oleh intoleransi, radikalisme, dan terorisme,” imbuhnya.

Perkembangan dan perubahan dalam sisi ekonomi dikatakan Robinson juga sedang menjadi fokus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Tidak bisa kita pungkiri, salah satu alasan utama dalam mudahnya anak-anak bangsa terpapar intoleransi dan radikalisasi adalah faktor pendidikan dan ekonomi,” kata Robinson.

Robinson juga mengatakan bahwa sesuai visi HKBP yakni untuk menjadi berkat bagi dunia yakni membangun dan mengembangkan kerja sama antar gereja dan dialog antar agama.

“Dialog hari ini kita harapkan menjadi milestone untuk HKBP dan NU menghadapi berbagai tantangan di atas. HKBP memiliki visi untuk menjadi berkat bagi dunia. Dan salah satu cara mencapai visi tersebut adalah dengan memiliki misi HKBP, yaitu Membangun dan mengembangkan kerja sama antar gereja dan dialog lintas agama,”ujarnya

Robin juga menuturkan beberapa hal yang harus dilakukan HKBP bersama NU dalam menangkal semua ancaman yang datang.

“Yakni meningkatkan kedewasaan beragama, menolak politisasi agama dan memperbanyak aksi bersama,” tuturnya.

NU juga dikatakan Robinson sudah tidak asing lagi bagi HKBP karena sudah sering melakukan kerja sama.

“Kami mendoakan NU untuk selalu menjadi “kakak” kami dalam menjaga keberagaman di Indonesia, menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang Tuhan ciptakan, agar menjadi berkat bagi rakyatnya, dan dunia ini. Kiranya Tuhan menguatkan kita,” tutupnya.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here