1 Petrus 3:9
Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat
Rasul Petrus melalui renungan ini, ia ingin menunjukkan beberapa langkah praktis untuk mempraktekkan kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Salah satu ciri anak Tuhan adalah tidak membalas ketika diperlakukan secara jahat dan mengutamakan perdamaian.
Kita merenungkan kebaikan-Nya dan mengungkapkan kebaikan-Nya itu kepada sesama. Yang memampukan dan menguatkan kita mempraktekkan kasih itu tidak lain adalah penyertaanNya:
“mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong” (ay. 12).
Dengan gaya hidup yang penuh kasih itu, kita dapat menjadi saluran berkat bagi sesama, kita dapat memperkenalkan kasih-Nya kepada jiwa-jiwa yang belum mengenal Dia. Saat kita melangkah dalam kerendahan hati dan kelemahlembutan, kiranya orang-orang di sekitar kita dapat merasakan kasihNya yang mengalir melalui kehidupan kita.
Beberapa langkahpraktis seperti dikatakan di atas ialah:
a). Memberkati. Bila setiap orang kristen menjadi berkat (memberkati/=saluran berkat) itu berarti sebagai orang Kristen kita mendoakan supaya Tuhan mendatangkan berkah dan mendatangkan kebaikan/keselamatan, bagi kita dan juga orang lain.
Dari pengertian tersebut sangat jelas bagi kita bagaimana kita melakukan perintah Tuhan dalam hal “saling memberkati”. Memberkati orang lain atau saudara-saudara kita adalah ketika kita mendoakan yang baik buat mereka, ketika kita mendatangkan kebaikan atau keselamatan buat hidup mereka.
Kita sedang memberkati saudara kita ketika kita sedang memikir-mikirkan apa yang baik yang dapat kita berikan atau lakukan padanya. Ketika hati dan pikiran kita dipenuhi apa yang baik, kita akan menyampaikan apa yang baik dan melakukan serta mengupayakan apa yang baik untuk dia.
Hal ini sangat istimewa sebab ketika Tuhan memberikan perintah ini kepada kita, ujungnya adalah bahwa kita memperoleh berkat dan dinyatakan untuk itulah kita dipanggil. Dalam ayat renungan kita di atas, dinyatakan kepada kita “hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat”.Tuhan mau kita beroleh berkat, Tuhan juga mau kita memberkati.
b). Jangan/tidak saling membalas yang jahat, tidak saling mencaci. Mencaci adalah peranan mulut, kejahatan adalah peranan tindakan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ada peranan mulut dan tindakan kita. Dalam hal ini yang dimaksud adalah sebaliknya, mulut dan tindakan kita hendaknya mengeluarkan yang baik. Dengan begitu kita memberkati sesama kita.
c). Beberapa cara hidup yang menunjukkan hidup yang memberkati, yakni: pertama, kita harus mampu membina persatuan dalam kasih. Ini tidak mudah diperoleh, bersatu sehati dan seperasaan! Dibutuhkan kasih dan kerendahan hati.
Paulus berkata “kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol. 3:14). Adapun kasih yang dimaksud adalah “divine love”bukan human love. Kedua, kita harus mampu menjadi penyalur berkat-Nya.
“Hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (ay. 9). Perhatikan, panggilan kita untuk memberkati dan untuk itu kita memperoleh berkat.
Diberkati untuk memberkati! Tuhan Yesus menyatakan “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis. 20:35). Jadi ada kebahagiaan tersendiri jika kita mampu memberkati orang lain.
Pernyataan memberkati memiliki pengertian memberi sesuatu yang baik, yang positif dari sebab itu perikop ini mengingatkan “janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki” (ay. 9).
Paulus berkata “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Rm. 12:19). Jadilah penyalur berkat, “olehmu semua di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3).
Ketiga, kita harus mampu menikmati hidup dengan damai. “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik ia harus menjaga lidahnya … menjauhi yang jahat … mencari perdamaian …”. Ada yang harus dijaga agar hidup kita berarti dan selalu baik yaitu dalam tiga hal.
a). Harus menjaga lidahnya (jahat) .. bibirmu (menipu), karena “Lidahpun adalah api” (Yak 3:6) dan gunakan mulut untuk menyatakan kebenaran;
b). Harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, “tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim. 3:17)
dan c). Harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya, tidak mudah membutuhkan usaha karena kemanusiawian kita dan Tuhan Yesus menyatakan “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Karena itu, marilah membiasakan hidup untuk saling memberkati dan menjauhkan diri dari sikap dan karakter hidup yang saling mencaci.
d). Cintailah hidup. Artinya, mari membuang kejahatan dalam kata-kata dan tindakan, lakukan apa yang baik, berusaha untuk menegakkan dan memelihara hubungan yang damai dengan sesama adalah cara/jalan untuk menikmati kehidupan yang sejati dan memuaskan. “Mencintai hidup” (1 Petrus 3:10) sangat berbeda dengan “mencintai nyawa” (Yohanes 12:25), mencintai nyawa merupakan tindakan yang dikecam oleh Kristus.
Akhirnya, kiranya kesaksian kita dapat menggugah orang lain di sekitar kita untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Amen
tetap semangat dan selalu bertekun dalam doa (Pdt Sikpan Sihombing Sth)