Syukur Pentahbisan Imam Baru, Wali Kota Kupang Tekankan Pentingnya Pembangunan Jiwa

Independennews.com | Kupang — Wali Kota Kupang Christian Widodo menegaskan bahwa pembangunan kota tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata. Jalan yang mulus dan gedung yang megah, menurutnya, tidak akan bermakna tanpa pembangunan manusia dan penguatan spiritualitas warganya.

Penegasan tersebut disampaikan saat menghadiri Acara Syukur Pentahbisan Imam Baru, Christian D.J. Sogen, yang berlangsung khidmat di Gereja Paroki Santa Familia Sikumana, Rabu (7/1). Momen iman ini menjadi ruang refleksi bersama tentang makna pelayanan, persatuan, dan kolaborasi dalam membangun Kota Kupang.

Acara tersebut dihadiri Pastor Paroki Santa Familia Sikumana Sebast Wadjang, para imam konselebran, biarawan-biarawati, orang tua yubilaris, Dewan Paroki, para ketua wilayah dan KUB, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta umat Paroki Santa Familia Sikumana.

Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan bahwa kualitas sebuah kota juga diukur dari cara warganya saling menghormati dan hidup berdampingan dalam perbedaan.
“Membangun kota bukan hanya soal jalan yang bagus atau kantor yang mewah. Membangun kota berarti membangun rasa saling menghormati, menghargai perbedaan iman, serta memastikan setiap orang memiliki tempat ibadah yang aman dan nyaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi spiritual masyarakat berperan penting dalam membentuk wajah sosial sebuah kota. Karena itu, kehadiran imam baru dinilainya sebagai anugerah, tidak hanya bagi Gereja, tetapi juga bagi kehidupan sosial Kota Kupang.
“Bagaimana dengan spiritualitas penduduknya? Kehadiran imam baru adalah bagian dari jawabannya. Terima kasih, Kota Kupang kini memiliki satu imam lagi,” tuturnya.

Dalam refleksi tentang panggilan imamat, Wali Kota menyampaikan bahwa menjadi imam bukan soal status atau kedudukan, melainkan kerendahan hati dan pengabdian total.
“Menjadi imam bukan berarti menjadi lebih tinggi dari yang lain, tetapi justru turun lebih dalam—lebih dalam dalam doa, pengorbanan, ketulusan, pelayanan, dan keberanian. Meski jalannya kadang sunyi dan terasa berat,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada RD. Christian D.J. Sogen dan berharap panggilan imamat tersebut dijalani dengan keteguhan dan keikhlasan.
“Keberanian dalam panggilan sering kali berarti siap untuk tidak selalu disukai. Di situlah ketulusan diuji,” katanya.

Lebih lanjut, Wali Kota menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang untuk membuka ruang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas keagamaan.
“Pemerintah Kota Kupang tidak bisa berjalan sendiri. Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan semua unsur—agama, komunitas, LSM, partai politik, gereja, masjid, dan seluruh elemen masyarakat. Tantangan hanya bisa dijawab dengan kerja bersama,” tegasnya.

Ia mengibaratkan pembangunan kota sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kebersamaan.
“Kalau mau berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tapi kalau mau berjalan jauh, berjalanlah bersama. Yang satu capek, yang lain menggendong,” ujarnya, seraya menutup dengan pepatah Latin ubi concordia, ibi victoria—di mana ada persatuan, di situ ada kemenangan.

Sementara itu, RD. Christian D.J. Sogen dalam ungkapan syukurnya membagikan refleksi perjalanan panggilan imamat yang tumbuh sejak masa kanak-kanak—melalui pencarian jati diri, keraguan, dan mimpi-mimpi sederhana.
“Panggilan ini tidak datang tiba-tiba. Tuhan menuntun saya melalui proses yang sering kali tidak saya pahami, tetapi perlahan membentuk hati dan keberanian untuk melangkah,” ungkapnya.

Ia menuturkan, perjalanan imamat mulai diteguhkan sejak 2012 bersama puluhan rekan dalam masa formasi. Berasal dari latar belakang dan kisah panggilan yang beragam, mereka dipersatukan dalam proses pembentukan diri yang panjang.
“Kami belajar, jatuh, bangkit, dan dibentuk sedikit demi sedikit,” katanya.

Pada kesempatan itu, RD. Christian D.J. Sogen menyampaikan terima kasih kepada orang tua, keluarga besar, para pembimbing, rekan seangkatan, pendidik, panitia, serta seluruh umat yang setia mendoakan dan mendukungnya.
“Saya tidak berjalan sendirian. Tahbisan ini bukan hanya milik saya, tetapi milik kita semua,” pungkasnya dengan penuh haru.
(Marchellino)

You might also like