Yesaya 48:10
Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.
Isaiah 48:10
See, I have refined you, though not as silver; I have tested you in the furnace of affliction.
PENJELASAN Ayat renungan hari ini merupakan ucapan Tuhan Allah sendiri yang dengan jelas mengatakan bahwa “kita dimurnikan tetapi bukan seperti perak, melainkan dimurnikan dalam dapur kesengsaraan.” Perlu mendapat perhatian kita pada proses pemurnian dimaksud, “dimurnikan bukan dengan perak, melainkan dengan kesengsaraan” (artinya: penderitaan, kemalangan, kemelaratan). Diuji bukan hanya dalam kemelaratan, tetapi juga diuji dalam panasnya api penderitaan!
Mengapa (sesuai nubuatan Yesaya) Tuhan mengatakan ini kepada umatNya Israel? Benar Tuhan pernah menguji bangsa Israel dengan menggunakan berbagai penderitaan, seperti tekanan dari bangsa kafir, beberapa kali periode/jaman pembuangan Babel, penawanan, hingga kemusnahan bangsa Israel. Pada semua pengalaman penderitaan itu, sesungguhnya Allah mengasihi umat-Nya walau sebenarnya kehidupan iman umat Israel tidak tulus (48:1).
Allah mengatakan bahwa mereka tegar tengkuk, keras kepala, kepala batu. (48:4) Melalui para nabi, telah Allah menyampaikan nubuat tentang hal-hal yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya untuk menegaskan bahwa nubuat itu benar-benar berasal dari Allah karena tidak ada berhala yang bisa melakukan hal seperti itu (48:3-7).
Nubuat yang menunjuk kepada hukuman pembuangan umat Yehuda ke Babel dan pemulangan ke Yerusalem yang bersifat memurnikan iman melalui ujian dalam dapur kesengsaraan (48:10). Jadi, Allah melakukan semua hal di atas, karena sesuatu yang dilakukan umatNya yakni “karena namaNya dinajiskan”. Tegas, bahwa Tuhan melakukan itu karena umatNya telah menajiskan nama Tuhan.
Selain memurnikan umatNya, Allah juga menjanjikan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Jika Allah memberi tahu apa yang Ia lakukan pada masa lampau (48:13). Oleh karena itu, wajar bila Allah mengatakan, “Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian!” (48:12).
Allah itu tidak berubah karena Ia itu kekal, selalu ada. Allah bukan hanya mencipta pada masa lalu, tetapi Ia juga merancang masa depan, sehingga masa depan bukanlah suatu kebetulan! Masa depan dirancang oleh Allah dan Allah telah merancang masa depan untuk memurnikan iman umat-Nya. Dan pada 2 Timotius 2:19 dikatakan bahwa “dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya” dan setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” Jadi orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan. Kalau masih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan maka akan tetap ada dalam dapur penderitaan.
Lalu, bagaimana sikap kita sekarang? Ada bebrapa pesan dari renungan ini, yakni:
a). Pekalah terhadap petunjuk Allah tentang jalan yang harus kita tempuh. Kepekaan terhadap tuntunan Allah dan ketaatan terhadap pimpinan Allah itulah yang akan membuat kita bisa selalu memiliki damai sejahtera (48:17-18). Sebaliknya, orang fasik yang tidak peduli terhadap kehendak Allah, ia tidak akan memiliki damai sejahtera (48:22). Mengapa demikian? Karena Tuhan akan selalu menggunakan berbagai macam kesukaran untuk menguji/memurnikan kita, agar kita menjadi alat yang berkenan dan dapat dipakai oleh Tuhan.
Namun, ujian dari Tuhan masih belum mencapai tahap pengujian semurni perak, Tuhan akan menghentikan pengujian untuk sementara waktu, karena khawatir tingkat kepanasan untuk menguji perak itu akan membuat kita meleleh dan hancur terbakar. Jadi, segala pengujian yang Tuhan berikan kepada kita sesungguhnya dapat kita tahan, maka waspadalah jangan sampai kita kehilangan iman dan bersungut-sungut.
b). “Jika Tuhan menggunakan kesengsaraan untuk menguji kita agar menjadi emas yang murni,” maka dengan mengingat kasih kemurahan Tuhan jangan takut terhadap dapur kesengsaraan itu karena itu adalah penderitaan yang harus diterima untuk masuk ke dalam pintu Sorga. Ia tidak akan menguji kita seperti perak untuk kita mengalami menderita terlalu lama di dalam dapur kesengsaraan itu, kita tidak tahan terhadap banyaknya sengsara yang membuat kita kehilangan pengharapan dan iman.
Jadi, hai anak-anak Tuhan, janganlah takut kepada ujian karena Tuhan Bapa kita senantiasa menyertai kita. Kesengsaraan tidak akan berlangsung lama, asalkan bersabar dan menanti maka pasti akan datang suatu hari yang terang itu. Meskipun terkadang ujian terlalu hebat, namun semua itu tidak akan melampaui kekuatan kita. Tuhan pasti tidak akan meninggalkan kita di saat kita berada dalam pengujian. Kita adalah umat yang telah ditebusNya yang mahal, kita sangat berharga tiada taranya. Inilah kemuliaan dan kebahagiaan bagi kita.
c). Bila sedang menghadapi kesulitan ekonomi atau menghadapi masalah apa pun, jangan kecil hati. Tetaplah waspada agar tidak kehilangan iman! Sampai masa kini pun, Allah tetap bisa memakai penderitaan sebagai sarana untuk memurnikan (menuntun) iman kita menuju kepada keadaan yang lebih baik. Saat menghadapi masalah/penderitaan, kita harus berusaha memahami kehendak Allah bagi diri kita serta mengikuti pimpinan Tuhan.
Bila kita hidup dalam ketaatan kepada Tuhan, kita akan memiliki damai sejahtera yang akan memberi kita kekuatan dalam menghadapi masalah atau penderitaan yang sedang kita hadapi. Sebaliknya, bila kita menjauh dari Tuhan, kita akan kehilangan sumber kekuatan dalam menghadapi masalah. Jadi, mendekat kepada Tuhan.
d). Jangan tegar tengkuk. Sehingga sekonyong-konyong Tuhan menghukum kita. Allah selalu rindu untuk memberkati kita. Namun serigkali kita yang membuat Tuhan tidak memberkati kita, oleh karena itu perbaikilah hubungan kita dengan Tuhan. Di saat memperbaiki hubungan dengan Tuhan, bersamaan dengan datangnya penderitaan, kita dapat menyadari bahwa Tuhan mau kita hidup seperti Dia. Tuhan mau agar hidup kita itu kudus dan berkenan kepadaNya.
Oleh karena itu bertobatlah apabila kita diperingatkan olehNya. Tinggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya. Ketika kita mau tinggalkan semua hal itu maka kita tidak akan masuk dalam dapur penderitaan. Seperti di atas, mengapa Tuhan membawa kita masuk dalam dapur penderitaan? Jawabannya karena kita yang seringkali mencoreng nama Tuhan lewat sikap hidup kita. Maka cerminkalah kemuliaan Tuhan dalam setiap hidup kita sehingga hidup kita ini menjadi berkat bagi orang lain dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin
Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd