Renungan Firman : TIDAK JEMU-JEMU BERBUAT BAIK

0
164

Kalangan Kristen :

by : Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd

Bahasa Indonesia

Firman Tuhan : Galatia 6:1
“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” .

Bahasa Inggris

Galatians 6:1
“Brothers and sisters, if someone is caught in a sin, you who live by the Spirit should restore that person gently. But watch yourselves, or you also may be tempted.”.

Bahasa Batak 

Galatia 6:1
“Ale angka dongan, molo tung tarsomong jolma mardosa, hamu angka naung taruli di Tondi ma patureturehon ibana marhitehite tondi na lambok; alai matahon dirim, so tung dohot ho tarunjun!”

Penjelasan :

Dalam renungan ini, Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar menjaga diri supaya tidak jatuh dalam pencobaan dan mereka harus hidup saling memperhatikan dan saling menolong.

Nasihat memperhatikan saudara seiman tidak bertujuan untuk menghakimi atau menegur dengan kasar. Menurut Paulus, memperhatikan berarti menuntun kalau ada saudara seiman yang melakukan pelanggaran.

Ia harus dibimbing dengan kasih dan kelembutan. Cara memperhatikan bisa dilakukan dengan saling mengingatkan dan saling menolong. Jika sudah dilakukan, maka hidup mereka sebagai anak-anak Tuhan senantiasa sepadan dengan firman Tuhan.

Mempertimbangkan motivasi diri/menguji pekerjaan kita sendiri dalam perkataan dan perbuatan, inilah inti nasehat penting renungan ini.

Ketika kita sudah mengujinya, Paulus menguatkan kita untuk tetap bertekun: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang”.

Berdasarkan maksud renungan ini (rasul Paulus), prinsip hidup yang benar dengan berbuat baik kepada sesama berlandaskan kasih Kristus ialah:

1) *Memimpin orang yang salah ke jalan yang benar*. Memimpin menurut maksud ini ialah “memulihkan”. Maksudnya, “memimpin” menekankan makna tidak hanya memimpin seseorang yang salah untuk “tahu” jalan yang benar, tetapi sampai kepada tahap bahwa orang tersebut “hidup” di jalan yang benar dengan memiliki relasi kepada Kristus.

Orang-orang yang memiliki kehidupan rohani dengan relasi kepada Kristus, harus mempunyai keberanian untuk melakukan tindakan kasih, untuk membawa orang-orang yang belum mengenal Kristus dan merasakan kasih-Kristus kepada Kristus. Memimpin mereka untuk hidup di jalan Tuhan.

2) *Bertolong-tolongan menanggung beban*. Artinya bukan hanya menanggung beban yang ada pada kita, melainkan lebih daripada itu.

Kita sebagai anggota tubuh Kristus harus rela untuk menolong orang lain dengan merasakan dan membantu untuk mengurangi beban sesama kita, baik kepada sesama kita yang seiman, karena kita adalah anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:26), juga kepada sesama kita yang tidak seiman, karena kita diajarkan untuk mengasihi sesama sebagai wujud kasih kita kepada Allah.

Bertolong-tolongan artinya ada kegiatan serentak dari beberapa orang untuk mencapai tujuan saling melengkapi, saling membantu yang lemah dan kesusahan.

3) *Membagi segala sesuatu yang kita miliki*. Tidak mementingkan diri sendiri, sungguh sangat kontras dengan apa yang terjadi pada zaman ini, dimana orang-orang hanya hidup untuk kepentingan diri sendiri.

Rela berbagi apa yang kita punya kepada sesama kita. Suatu teladan yang baik di dalam hidup berjemaat dan bermasyarakat ialah rela berbagi (jemaat mula-mula: berbagi makanan bahkan yang mempunyai harta rela menjual hartanya dan dibagi-bagikan ke seluruh jemaat, segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (lih. Kisah 2:42-45). Ciri hidup yang akhirnya menjadi kesukaan bagi semua orang, dimana orang lain merasakan berkat melalui hidup orang Kristen.

Dalam prinsip hidup yang benar bahwa ketika kita melakukan suatu perbuatan baik, kita harus mewaspadai hal-hal ini:

1) *Pencobaan.* Seringkali ketika membantu orang yang lemah atau hidupnya salah, kita tidak sadar diri bahwa kita juga dulu adalah orang-orang yang demikian (bnd. Efesus 2:1-3). Pada akhirnya menimbulkan pencobaan bagi diri kita sendiri yang berakibat pada dosa yang mungkin kesombongan pribadi karena telah bias mengubah hidup orang lain, atau mungkin terjerumus kedalam kehidupan orang yang kita tolong.

Mengubah hati manusia, adalah pekerjaan Allah, orang percaya hanya alat untuk menyadarkan manusia lainnya yang hidupnya melenceng dari jalan Tuhan.

2). *Menyangka diri berarti/penting* (bnd. 1 Korintus 4:7). Kejatuhan orang percaya seringkali berada pada sikap ini. Karena terlalu sering membantu orang lain, merasa diri dibutuhkan dan merasa diri penting bagi orang lain, yang alhasil membuat ia jatuh pada memegahkan diri walau tidak diucapkan melalui bibir. Padahal orang Kristen adalah alat Tuhan untuk menyalurkan kasih-Nya kepada sesame dalam dunia ini.

3). *Bermegah atas orang lain.* Bermegah adalah suatu tindakan untuk membanggakan atau menyombongkan diri, atau berlaku ingin lebih megah dari yang lain. Kejatuhan membantu orang lain dengan hati yang tidak murni akan menimbulkan kesombongan dan membuat setiap orang mungkin bepikir: “karena dirinya, orang lain bisa tertolong”. Oleh karena itu, semua kita perlu menguji pekerjaan kita, apakah yang kita kerjakan dengan setulus hati atau tidak.

Inilah pesan renungan ini:
a). *“Jangan jemu-jemu berbuat baik”.* Perkataan ini artinya tidak bosan-bosannya untuk melakukan pekerjaan baik kepada sesama yang sudah Allah persiapkan sebelumnya (Efesus 2:10).

Kita dilayakkan Allah untuk menyalurkan kasih-Nya, karena kita sudah merasakan kasih-Nya terlebih dahulu dalam hidup kita. Janganlah jemu-jemu untuk menyalurkan cinta kasih Allah kepada sesama kita selama masih ada waktu dan kesempatan.

Allah ingin kita terus hidup bagi-Nya, dan itu termasuk mendoakan orang lain dan menceritakan tentang diri-Nya kepada mereka. Itulah artinya “berbuat baik”. Hasil dari perbuatan kita itu adalah urusan Tuhan.

b). Sikap yang sepatutnya/seharusnya kita lakukan di dalam hidup bersama dengan saudara seiman ialah “harus saling memperhatikan, saling menegur, saling mengingatkan, dan saling menolong dalam menanggung beban”. Karena tidak ada seorang pun yang lebih kuat daripada yang lain.
Adakalanya orang lain lemah dan kita harus menolong. Adakalanya kita lemah dan membutuhkan dukungan saudara yang lain. Jangan sampai kita merasa paling rohani dan benar sehingga menegur dengan arogan.

Kita juga jangan tidak acuh sehingga tidak mau tahu, apalagi menolong. Dengan rendah hati dan lemah lembut kita menegur saudara yang jatuh sembari terus mawas diri agar tidak terjatuh dalam dosa. Saat jatuh ke dalam dosa, kita wajib membuka diri terhadap teguran dari saudara seiman karena kita pun tidak luput dari berbagai kelemahan.

c). Siap diutus Tuhan untuk berbuat lebih banyak kebaikan, inilah kualitas dan bentuk nyata dari sikap kekristenan yang sejati. Berbuat kebaikan, beberapa caranya yakni, pertama: tidak menghakimi saudara yang sedang jatuh, sebaliknya ia akan mengampuni dan mengangkatnya (ay. 1) sebab sikap inilah sikap yang meneladani Kristus.

Kedua, menyadari diri lemah dan bisa jatuh sehingga akan selalu berjaga-jaga agar tidak jatuh. Dengan kesadaran seperti itu, terbangunlah sikap saling menolong di antara sesama anak Tuhan.

Ketiga, jangan menilai diri dengan memakai standar manusia melainkan standar Firman.

Kelima, semua dengan rendah hati mau menerima teguran firman dan bersikap hormat kepada yang menegur dengan kasih. Terus mendorong supaya orang yang jatuh cepat bertobat karena Allah tidak dapat dipermainkan dan selagi masih ada kesempatan, siaplah diutus terus menerus berjuang mewujudkan perbuatan-perbuatan baik, diutus menjadi berkat kepada semua orang. Amin

“Tetaplah semangat dan bertekunlah di dalam doa”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here