Independennews.com | Padang Panjang — Udara dingin menembus sela-sela tembok tua Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Padang Panjang, Sabtu malam (11/10). Di halaman depan, barisan petugas berseragam berdiri tegap di bawah cahaya lampu yang redup. Di antara mereka, tampak Kepala Rutan Padang Panjang, Torkis Freddy Siregar, S.H., M.Hum., memberikan arahan singkat — suaranya tenang, tapi tegas.
Malam itu bukan malam biasa. Ia adalah bagian dari gerakan nasional Implementasi 13 Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) — langkah nyata mewujudkan sistem pemasyarakatan yang aman, bersih, dan bermartabat.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penegasan komitmen moral dan profesional dalam menjaga integritas lembaga pemasyarakatan. Petugas Rutan Padang Panjang bersinergi dengan personel Polres Padang Panjang dan Detasemen B Pelopor Brimob Polda Sumbar, turun langsung menyisir blok-blok hunian warga binaan.
Razia diawali dengan apel gabungan di halaman depan — simbol kolaborasi antarinstansi penegak hukum. Setelah arahan diberikan, barisan petugas bergerak menuju blok-blok tahanan.
Pintu demi pintu dibuka. Setiap kamar diperiksa menyeluruh: kasur dibalik, lemari dibuka, dan setiap barang diperiksa satu per satu.
Semua berlangsung tanpa kekerasan, tanpa intimidasi. Pendekatan dilakukan secara humanis namun disiplin, dengan menjaga martabat para warga binaan.
“Razia ini adalah langkah preventif. Kami ingin memastikan keamanan, sekaligus menegakkan ketertiban di dalam Rutan,” ujar Karutan Torkis Freddy Siregar, usai kegiatan.
“Terima kasih kepada Polres dan Brimob atas sinerginya menjaga lingkungan pemasyarakatan agar tetap kondusif dan bebas dari gangguan.”
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan barang terlarang. Namun, nilai utama dari kegiatan ini justru terletak pada pesan integritas dan pembaruan sistemik di baliknya.
Razia malam itu mencerminkan pergeseran paradigma pemasyarakatan: dari sekadar fungsi pengawasan menuju tata kelola modern yang menekankan profesionalitas, transparansi, dan kemanusiaan.
Program 13 Akselerasi Menteri Imipas mencakup banyak dimensi — mulai dari penguatan keamanan, peningkatan kompetensi SDM, pembenahan tata kelola lembaga, hingga transformasi digital layanan pemasyarakatan.
Dalam kerangka itu, kegiatan razia menjadi bagian penting dari gerak serentak nasional untuk menegaskan:
tidak ada ruang bagi penyimpangan, penyelundupan, ataupun kompromi terhadap aturan.
Menjelang tengah malam, setelah blok terakhir diperiksa, para petugas kembali berkumpul untuk apel penutupan. Wajah-wajah lelah tampak lega, namun penuh rasa bangga.
Di bawah cahaya lampu yang mulai meredup, Karutan Torkis Freddy Siregar menutup kegiatan dengan kalimat yang menancap di hati:
“Ketertiban bukan tugas segelintir orang, tapi tanggung jawab bersama.”
Razia malam itu pun berakhir dalam suasana damai, namun pesan moralnya bergema kuat:
keamanan tidak akan tegak tanpa ketertiban, dan ketertiban tidak akan hidup tanpa kejujuran.
Di Padang Panjang, semangat itu kini mulai tumbuh — pelan tapi pasti — sebagai bagian dari langkah besar menuju pemasyarakatan yang bersih, aman, dan manusiawi.
(Dioni | Redaksi)