PKS dan PPP Kompak Menolak Rencana Anggaran Pembangunan Gurimdam 12 Masuk APBD 2018

0
558

TANJUNGPINANG, independennews.com — DPRD Kepri kritik Pemerintah Provinsi Kepri dalam menyusun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2018 dengan Nota keuangan yang dibacakan Gubernur Kepri Nurdin Basirun.

Tak hanya mengkritisi, PKS dan PPP juga menolak rencana prestisius Gubernur membuat Proyek Gurindam 12 di Tanjungpinang yang penganggarannya menggunakan skema multiyears.

“Terkait proyek multiyears yang menelan anggaran Rp 530 milyar, PKS-PPP meminta untuk menunda atau tidak dianggarkan,” kata juru bicara PKS-PPP, Suryani dalam Paripurna DPRD Kepri, di Ruang Rapat Utama DPRD Kepri, Tanjungpinang, Selasa (21/11/2017).

Penolakan ini bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah keuangan pemerintah provinsi Kepri yang saat ini masih rendah. Proyek Multiyears, dikhawatirkan akan membebani keuangan daerah dan membuat pembangunan yang direncanakan Pemprov Kepri tidak dapat berjalan.

“Alasan kami adalah kondisi fiskal daerah yang lemah. Dengan anggaran multiyear yang besar ini, akan menyedot dan mengurangi sektor lain,” kata Suryani.

Pendapat senada juga disampaikan Fraksi Golkar. Lewat juru bicaranya, Asmin Patros, Golkar meminta agar pembiayaan proyek Gurindam tidak bergantung seratus persen dari APBD.

“Kami mendukung pembangunan infrastruktur. Namun, pembangunan infrastruktur tidak boleh bergantung kepada APBD, karena dikhawatirkan memangkas kebutuhan dari masyarakat lain. Kami menawarkan agar pembiayaan juga dibantu oleh anggaran dari pusat,” kata Asmin

Kinerja tim keuangan Pemprov Kepri juga jadi sorotan dari Fraksi-Fraksi DPRD Kepri. Gubernur dituntut untuk melakukan evaluasi tim anggaran, karena realisasi penerimaan pemerintah Kepri selalu tidak tercapai.

“Semua rencana yang diajukan Pemprov Kepri harus didukung pembiayaan yang cukup. Namun, pada kenyataannya, pendapatan Pemerintah Provinsi Kepri selalu memprihatinkan, khususnya pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak sesuai dengan harapan,” kata juru bicara Hanura, Yusrizal.

Menurut Yusrizal, rata-rata realisasi Pemprov Kepri hanya sekitar enam puluh persen (60 %) dari target. Maka dari itu, Pemprov Kepri harus segera melakukan evaluasi dan bila perlu dilakukan reshuffle pada kabinetnya.

“Jika pendapatan hanya terealisasi 60 persen, kemana empat puluh persen (40 %) lainnya. Apa karena OPD tidak tegas, atau memang tidak mampu,” kata Yusrizal tegas.

Juru bicara dari Fraksi PDIP, Sahat Sianturi, mengatakan selain ketidakmampuan OPD, PDIP melihat penyebab lambatnya kinerja Pemprov Kepri ini, disebabkan Gubernur bekerja sendirian.

“Mengingat peran Wagub untuk pembangunan dan pengawasan, kami meminta agar pembahasan Wagub dapat diselesaikan tahun ini juga,” kata Sahat.

Dalam paripurna itu, Fraksi Kebangkitan Nasional yang terdiri dari PKB dan PAN tidak memberi pandangan.

Usai menutup rapat paripurna, Ketua DPRD Kepri, Jumaga Nadeak, meminta agar Pemprov Kepri yang diwakili Sekda Arif Fadillah, untuk memberikan tanggapannya pada paripurna selanjutnya.

(SK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here