IndependenNews.com – Humbahas | Tragedi bencana alam yang meluluhlantakkan bumi Sumatera, sejak Selasa (25/11/2025), telah menyisakan luka dan penderitaan yang teramat berat terhadap masyarakat.
Bahkan, BNPB mengungkap jumlah korban meninggal akibat bencana banjir hingga longsor di Aceh, Sumatera Barat (Sumbar) hingga Sumatera Utara (Sumut) kini tercatat 442 orang. Sebanyak 402 orang masih dalam pencarian.
“Berdasarkan data sementara, total korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa, dan 402 jiwa masih dinyatakan hilang,” tulis keterangan BNPB kepada wartawan, Senin (1/12/2025).
Selain memakan korban jiwa, ganasnya tragedi alam tersebut telah merusak berbagai fasilitas umum, termasuk rumah penduduk, lahan pertanian, hewan ternak, dan lain-lain.
Pantauan media, sehari seusai bencana itu, laman media sosial Facebook, khususnya berbagai Halaman Grup Facebook Lokal langsung dibanjiri narasi dari netizen yang menyerukan stop pembalakan hutan.
Bahkan salah satu legislator di Kabupaten Humbang Hasundutan, yakni Maurip Hasiholan Lumban Gaol, secara terbuka melalui media, juga turut menyuarakan tentang harus berhentinya segala aktivitas illegal logging.
“Tak ada alasan untuk tidak menghentikan seluruh aktivitas pembalakan liar, kita harus waspada dan meminimalisir potensi bencana susulan”, ucap Maurip dengan tegas.
Tak hanya itu, netizen juga banyak secara terang-terangan menggaungkan narasi ‘tutup TPL’.
“Oknum tokke hau (toke kayu) alias mafia di Humbang jauh lebih jahat dan lebih bodoh dari TPL…dst…”, tulis akun Herbin Lumban Gaol pada Grup Facebook Kabar Humbang Hasundutan.
Sementara di Grup Kabar Kabari Humbang Hasundutan, akun Jawardi Marbun mengatakan, “Ulah TPL di bangsa Indonesia yang penuh dengan suka-suka, perusak alam lingkungan hidup”.
Akun Pardalan Dalan di Halaman Kabar Humbang Hasundutan menambahkan, “Molo so jadi be tutup TPL i, stop ma demo tu Pemerintah, langsung tu lokasi ma (Jika TPL tidak jadi tutup, stop demo ke pemerintah, langsung aja demo ke lokasi)…dst…”.
“PT TPL memanfaatkan situasi yang terjadi saat ini (bencana alam) di Tapanuli untuk menutupi pelaku perusak alam dengan alat berat yang berspanduk TPL. Padahal merekalah salah satu penyebab utamanya”, ucap akun Ronny Rade Pardede, seraya menyertakan visual alat berat bertempelkam spanduk logo PT TPL, yang tempatnya di duga di lokasi bencana.
Selain sejumlah pernyataan netizen tersebut, Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat dan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, pasca bencana itu, sudah mengeluarkan pernyataan serupa. Di mana, keduanya secara kompak mengatakan bahwa peristiwa itu ditenggarai karena adanya aktivitas pengerusakan lingkungan.
“Kami melarang keras segala bentuk pembalakan liar atau illegal logging di wilayah Tapanuli Utara. Larangan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk melindungi lingkungan hidup dan mencegah bencana alam, seperti banjir bandang dan tanah longsor, yang rentan terjadi”, tegas Jonius.
“Peristiwa bencana alam ini dipastikan karena ada pembalakan hutan. Itu ditandai dengan adanya kayu-kayu gelondongan yang ikut terbawa banjir”, ucap Masinton saat wawancara dengan media.
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan sendiri, hingga kini, belum memberikan tanggapan terkait penyebab bencana. Saat ini, Bupati Oloan Nababan masih fokus memberikan bantuan bersama jajaran pemerintahannya di lokasi bencana.
Sementara untuk diketahui, selain membawa material batu, tanah, dan lumpur, bencana banjir bandang dan longsor tersebut juga turut membawa ribuan kubik kayu gelondongan.
Dan paling mengejutkan, jutaan pohon yang terseret bencana itu terlihat banyak yang dipotong sedemikian rupa, sehingga menguatkan dugaan masyarakat kalau itu merupakan hasil olahan gergaji mesin.
PT TPL (Toba Pulp Lestari) sendiri adalah sebuah perusahaan industri pulp (bubur kertas) yang berlokasi di Sumatera Utara, Indonesia.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1983 dengan nama PT Inti Indorayon Utama Tbk dan merupakan bagian dari grup bisnis Sukanto Tanoto.
PT TPL bergerak dalam bidang produksi bubur kertas, bahan kimia dasar, produk kayu, serta pengembangan hutan tanaman industri (HTI).
TPL mayoritas melakukan aktivitas tanam panen kayu di hulu yang notabene lokasi kejadian bencana di 4 Kabupaten, yakni Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah.(Rachmat Tinton)