IndependenNews.com – Humbahas | Harga cabai di Pasar Tradisional Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), terpantau, Jumat (27/3/2026), mengalami penurunan yang sangat signifikan.
Jika di minggu-minggu yang lalu, harga cabai merah masih berkisar Rp 20.000,- hingga Rp 22.000,- per kilo gram, hari ini harganya justru malah semakin ambruk di Rp 10.000,- hingga Rp 11.000,- per kilo gram.
Ironisnya lagi, tak hanya berlaku untuk cabai merah, cabai rawit juga ikut mengalami tren penurunan harga yang cukup signifikan.
Rudi Jules Lumban Gaol, seorang petani asal Humbahas mengaku, ambruknya harga cabai di Pasar Tradisional Doloksanggul sangat berdampak kepada para petani.
Harga pupuk dan pestisida yang tinggi sementara harga jual komoditas cabe yang rendah, membuat hampir keseluruhan masyarakat petani mengalami frustrasi.
Situasi tersebut, kata Rudi, membuat ekonomi petani akan terus mengalami kemerosotan dan keterpurukan.
“Harga pupuk dan obat-obatan untuk perawatan cabai terus melonjak naik. Tak pernah turun. Sementara harga cabai sudah lama turun. Bagaimanalah nasib kami para petani ini nanti”, tandas Rudi.
Rudi menambahkan, jika pun saat ini para petani yang tergabung dalam kelompok tani bisa membeli pupuk bersubsidi, rupa-rupanya hal itu belumlah cukup untuk menutupi kebutuhan pupuk para petani.
Petani masih akan tetap diharuskan membeli pupuk yang lain dengan komposisi berbeda untuk menjaga dan merawat pertumbuhan tanaman cabai.
“Jadi tidak cukup hanya Pupuk Bersubsidi yang diberikan pemerintah. Kita juga harus membeli pupuk lain. Dan juga kita harus mandiri membeli obat-obatan lain seperti pestisida, yang harganya tidak disubsidi negara”, terangnya.
Ia melanjutkan, jika fenomena ini berlanjut, kemungkinan ke depan, para petani akan mulai menurunkan perlakuan perawatan kepada tanaman cabai mereka.
Bukan tidak mungkin, hal itu nantinya akan berakibat semakin berkurangnya pasokan komoditas cabai ke pasar lokal. Hal itu disebabkan oleh banyaknya nanti tanaman cabai yang tidak terawat dan mengalami gagal panen karena minim perawatan.
“Harga bisa tak terkendali. Pasokan berkurang sementara permintaan banyak”, sambung Rudi.
Petani cabai asal Kecamatan Pollung itu pun berharap, Pemerintah Kabupaten Humbahas bisa mengambil peran di situasi saat ini.
Selain bisa menetralisir harga, Rudi meminta, pemerintah juga bisa mengawasi proses sistem jual beli komoditas cabai di pasar lokal. Sehingga kata dia, para toke dan tengkulak-tengkulak tidak sesukanya memainkan harga.
“Banyak tengkulak-tengkulak di Pasar Doloksanggul yang bebas memainkan harga. Saya kira, pemerintah berhak menindak ini”, pungkasnya. (Rachmat Tinton)