Modus Penjualan Lahan Kavling, Beberapa Warga Sei Langkai Diduga Mengalami Kerugian Ratusan Hingga Miliaran Rupiah

0
208

BATAM, INDEPENDENNEWS.COM–Penjualan lahan kavling di Kelurahan Sei Langakai, Kecamatan Sagulung- Batam, diperkirakan merugikan warga ratusan hingga miliaran rupiah. Menurut informasi yang diterima wartawan media ini dari salah seorang korban Hutabarat, Senin (28/07/2020) ada sejumlah warga yang telah tertipu dengan penjualan lahan kavling tersebut.

Menurut penuturan Huta Barat, penjualan lahan kavling bodong tersebut dilakukan oleh sekelompok orang pada tahun 2016 lalu. Bahkan kepada dirinya waktu itu harga perkavling ditawarkan seharga 15 juta rupiah perkavling. Namun karena kawanan penjual kavling bodong tersebut adalah orang-orang yang kenal dekat dengan Huta Barat, dan juga berkat jurus tawar menawar yang dilakukan oleh Huta Barat, maka harga kavling tersebut turun menjadi 12,5 juta rupiah perkaveling-nya.

Maka dengan harga 12,5 juta rupiah perkavlingnya, waktu itu Huta Barat mengaku melakukan pembayaran sebesar 25 juta rupiah, untuk pembelian dua buah lahan kavling. Dimana waktu itu menurut Huta Barat, sejumlah uang tersebut diserahkan kepada M. Gultom, salah seorang dari kawanan penjual lahan kavling bodong tersebut.

BACA JUGA: Tahun ini BP Batam Kembali Raih Opini WTP

“Mereka atau kawanan penjual kavling bodong ini, sebenarnya masih kenal dengan saya. Makanya waktu itu saya gak ada curiga akan terjadi seperti ini,” ucap Huta Barat.

Lanjutnya, “Memang waktu itu yang menerima sejumlah uang dari saya, dan yang menanda tangani kwitansi pembayaran adalah saudara M. Gultom, yang sekarang sudah meninggal dunia. Namun pembayaran waktu itu juga disaksikan dan diketahui oleh rekan -rekan dari M. Gultom, yang juga sama-sama marketing penjualan lahan kavling bodong tersebut,” ucap Huta Barat.

Selain itu Huta Barat juga menjelaskan, bahwa ada juga beberapa warga lainnya yang dikenal oleh Hutabarat yang mengalami nasib yang sama dengan dirinya, atau yang menjadi korban dugaan penipuan dari sekelompok kawanan penjual lahan kavling bodong tersebut.

BACA JUGA : IDLH Minta DLH Pelalawan Investigasi Pencemaran Lingkungan

“Saya ada kenal beberapa orang yang juga menjadi korban dari penjualan lahan kavling ini. Bahkan salah seorangnya adalah Pendeta yang sekarang sudah pindah tugas di Sumatera Utara. Selain itu ada juga beberapa warga lainnya yang saat ini masih disini (Batam-red). Bahkan perkiraan saya masih ada belasan hingga puluhan warga lainnya yang juga menjadi korban penjualan lahan kavling yang dilakukan orang-orang ini. Karena menurut informasi dari mereka waktu itu, ada sekitar 80 buah lahan kavling yang siap diperjual belikan,” jelasnya.

Lebih jauh Huta Barat menyampaikan, bahwa dirinya akan berkoordinasi dengan warga lainnya yang juga menjadi korban dari penjualan lahan kavling ini. Dirinya berencana untuk mengumpulkan para korban dan juga bukti-bukti dari penjualan lahan kavling yang dilakukan oleh sekelompok orang yang diduga tidak bertanggungjawab tersebut. Sebab menurut Huta Barat, lahan yang tadinya akan diperuntukkan bagi dirinya dan juga korban lainnya, saat ini telah dikuasai oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilik sah dari lahan tersebut.

“Saat ini saya sedang mencoba mengumpulkan bukti-bukti dan juga menghubungi teman-teman yang menjadi korban dari penjualan lahan kavling tersebut. Dimana menurut saya kawanan penjual lahan kavling bodong ini tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan yang telah merugikan saya dan mungkin juga banyak warga lainnya. Bahkan setahu saya, saat ini lahan kavling yang tadinya diperuntukkan untuk kami tersebut, telah dikuasai oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilik sah dari lahan tersebut,” pungkasnya.

Mengenai informasi yang disampaikan oleh Huta Barat, sampai berita ini dipublikasikan belum ada pihak-pigak lain yang berhasil dimintai tanggapan. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.