IDLH Minta DLH Pelalawan Investigasi Pencemaran Lingkungan

0
65

PELALAWAN, INDEPENDENNEWS.COM–Dugaan pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayah  PT. Serikat Putra di Kabupaten Pelalawan, disorot langsung oleh ketua Dewan Pimpinan Cabang Indonesia Duta Lingkungan Hidup (DPC IDLH) Kabupaten Pelalawan, Pranseda Simanjuntak SH.

Kepada media ini Pranseda mengatakan, pencemaran lingkungan yang terjadi disebabkan kolam aplikasi Limbah Pabrik Kelapa Sawit, PT Serikat Putra  meluber sampai ke sungai Kerumutan yang terletak di daerah Kecamatan Bandar Petalangan, Kab Pelalawan. Sehingga mengakibatkan sungai Kerumutan berubah menjadi berwarna hitam, dan mengeluarkan bau busuk.

BACA JUGA : Polres Kepulauan Anambas Melaksanakan Kegiatan Sosialisasi Stop Karhutla

Setelah mengetahui informasi tersebut, saya langsung  berkoordinasi dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pelalawan, melalui Kabid Penataan dan Pemeliharaan Hukum Lingkungan, Bapak Tohaji SP. Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pelalawan melalui Tohaji SP mengatakan, agar segera melakukan Investigasi langsung di lokasi yang tercemari tersebut,” jelas Pranseda Simanjuntak.

Pranseda juga menegaskan, “Kalau pencemaran lingkugan benar benar terbukti, maka perusahaan PT. Serikat Putra sudah melanggar Undang- Undang  PPLH  Nomor 33 tahun 2009 tentang perlindungan pengolahan lingkungan hidup. Selain pidana karena pembuangan limbah, ada beberapa pidana lain yang bisa dikenakan kepada perusahaan tersebut, anatara lain,
1. Jika pencemaran lingkungan tersebut terjadi, karena perusahaan sengaja melakukan perbuatan (misalnya membuang limbah) yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, yang mana hal tersebut mengakibatkan orang mati maka diancam pidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp5 miliar dan paling banyak Rp15 miliar.

2. Jika pencemaran lingkungan tersebut terjadi karena perusahaan lalai sehingga mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, yang mana hal tersebut mengakibatkan orang mati, maka dipidana dengan pidana penjara paling singkat paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling sedikit Rp3 miliar dan paling banyak Rp9 miliar,” pungkasnya.

Tohaji yang dikonfirmasi media ini melalui via telefon mengaku sudah  mengetahui informasi adanya dugaan pencemaran lingkungan oleh limbah perusahaan, PT. Serikat Putra.

“Tiga orang anggota sudah kita turunkan ke lokasi. Untuk sementara belum diketahui bagaimana dugaan tindakan pencemaran lingkungan tersebut, sebab anggota sedang berada di lokasi tersebut”, jelasnya. (Harris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.