Independennews.com | Kupang — Suasana penuh warna dan semangat kemerdekaan menyelimuti Kelurahan Kayu Putih, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia, warga bersama pemerintah kelurahan menggelar Festival Event Budaya selama tiga hari, mulai 11–13 Agustus 2025, di Lapangan Bola Kaki Mini Loka Du’u RT 19.
Dengan mengusung tema “Kelurahan Kayu Putih Berkibar” dan subtema “Melalui Event Budaya, Kelurahan Kayu Putih Ikut Melestarikan Kebudayaan Etnis NTT dan Memupuk Kebangsaan serta Nasionalisme Warga di Era Digital”, acara ini menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus perayaan persatuan warga.
Festival diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga warga antar-RT dan RW di wilayah Kelurahan Kayu Putih. Beragam lomba digelar, antara lain Fashion Show nuansa etnis NTT, tari tebe, catur, tarik tambang, futsal, hingga lomba kebersihan lingkungan.
Setiap perlombaan tidak hanya menghibur, tetapi juga memupuk rasa cinta terhadap budaya lokal dan memperkuat semangat gotong royong. Pertunjukan seni budaya yang melibatkan langsung masyarakat menjadi daya tarik tersendiri, menampilkan keindahan sekaligus kekayaan warisan leluhur NTT.
Ketua Panitia, Yernikay Lay, S.Pd., dalam laporan kegiatannya mengungkapkan rasa bangga dan haru atas antusiasme warga. Ia menegaskan pentingnya melestarikan budaya lokal sebagai upaya menjaga identitas bangsa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi dan pariwisata daerah.
“Di tengah arus modernisasi, kita ingin budaya lokal tetap hidup dan menjadi identitas kita. Festival ini adalah wujud kebersamaan warga Kayu Putih untuk melestarikan budaya, memperkuat persatuan, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini merupakan hasil gotong royong seluruh warga. Dana yang terkumpul sepenuhnya berasal dari swadaya masyarakat dengan total Rp31.495.000. Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar nominal, tetapi mencerminkan rasa memiliki yang kuat terhadap budaya dan lingkungan.
“Kami sadar masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki ke depan. Namun kami berharap festival ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, saling menghargai, dan membangun komunitas yang kuat serta mandiri,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Kupang yang diwakili Penjabat Sekretaris Daerah (PJ Sekda), Ignasius Repelita Lega, S.H., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya festival ini. Ia mengaku bangga melihat semangat warga yang berhasil menggabungkan keragaman budaya, kreativitas seni, dan partisipasi UMKM lokal.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa gotong royong dan pelayanan kepada masyarakat masih hidup. Di mana ada kegiatan yang mengumpulkan orang, di situ pula tumbuh geliat ekonomi—dari pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga jasa parkir. Inilah kekuatan kegiatan masyarakat, menghidupkan roda ekonomi dari bawah,” ungkapnya.
Ignasius juga menekankan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai jati diri bangsa. Menurutnya, kegiatan seperti ini mampu menanamkan kecintaan budaya lokal kepada generasi muda, mengajarkan toleransi, kearifan lokal, dan rasa kekeluargaan.
“Mari ikuti seluruh rangkaian acara dengan suka cita, dukung UMKM dengan membeli produk lokal, dan jadikan festival ini momen mempererat persaudaraan. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberkati langkah kita dalam menjaga persatuan dan budaya,” tutupnya.
Dengan semaraknya festival ini, Kelurahan Kayu Putih tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk melestarikan budaya NTT, meneruskan semangat perjuangan para pahlawan, serta memperkuat persatuan dan kesatuan.
Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut secara berkesinambungan, menjadi wadah silaturahmi dan hiburan, sekaligus ruang mempererat persaudaraan serta melestarikan budaya gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat NTT. Semoga di masa mendatang, partisipasi masyarakat semakin luas dan dukungan dari berbagai pihak semakin kuat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan warga. (Marcho)