Ketua MPR RI Lepas Ekspor Perdana Buah Manggis Hasil Tani Bali ke Tiongkok

0
189

 

Bali, Bambang Soesatyo, selaku Ketua MPR RI melepas ekspor perdana dua ton buah manggis ke Tiongkok, yang diproduksi para petani manggis Bali, binaan Dewan Pimpinan Daerah Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Depidar SOKSI) Bali.

“Targetnya, satu kecamatan di setiap daerah bisa melahirkan minimal satu produk unggulan. Baik di bidang pertanian, kerajinan tangan, fashion, dan lain sebagainya, yang bisa menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Target tersebut sangat realistis, karena pengurus SOKSI dari tingkat pusat hingga daerah banyak diisi pejabat pemerintahan maupun wakil rakyat dari tingkat DPR RI, provinsi, hingga kabupaten/kota,” kata Bamsoet usai melepas ekspor manggis, di Bali, Minggu (31/01/21).

Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI, antara lain Ketua Dewan Pembina Bobby Suhardiman, Ketua Umum Ahmadi Noor Supit, Ketua Harian AA Bagus Adhi Mahendra juga turut hadir pada kegiatan ekspor perdana tersebut.

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, daya tarik buah manggis tidak sekedar dari rasanya yang manis dan kaya serat, tetapi punya banyak manfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

“Nilai ekspor manggis Indonesia masih fluktuatif, namun sudah mulai menunjukan tren positif. Sebagai gambaran, pada tahun 2018 Indonesia mengekspor sekitar 38.841 ton manggis, dan pada tahun 2019 mengalami penurunan menjadi sekitar 27.793 ton. Pada September 2020, totalnya meningkat signifikan menjadi sekitar 47.348 ton.

“Bali termasuk penyumbang terbesar ekspor manggis Indonesia, di tahun 2019 ekspornya mencapai 5.199 ton, meningkat dari tahun 2018 yang mencapai 4.051 ton” jelas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia mengungkapkan, sepanjang tahun 2020, Tiongkok tercatat sebagai tujuan ekspor ketiga Indonesia (sebanyak 10.355 ton), setelah Hong Kong (25.608 ton), dan Malaysia (10.694 ton).

“Menjelang tahun baru Imlek, kebutuhan buah tropis seperti manggis akan meningkat. Momentum ini harus dioptimalkan untuk meningkatkan nilai ekspor manggis Indonesia, dengan tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

“Meningkatnya permintaan pasar ekspor terhadap buah manggis juga harus disikapi dengan upaya memperbaiki iklim investasi pertanian. Antara lain dengan melakukan deregulasi, serta penyediaan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendorong tumbuhnya hilirisasi industri produk pertanian dan peningkatan nilai tambah (added value) komoditi. Selain memberi nilai tambah, ekspor produk dalam bentuk olahan juga memberikan keuntungan lain, yaitu tahan lama, kemudahan dalam pengemasan, menambah nilai devisa negara, dan tentunya berdampak bagi kesejahteraan petani manggis,” ujar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum SOKSI dan Wakil Ketua Umum DPP Golkar ini menjelaskan, peluang Indonesia memperluas pasar ekspor manggis maupun buahan tropis lainnya masih terbuka lebar. Tercermin dari aktivitas ekspor buah segar yang terus dilakukan selama pandemi hingga saat ini. Per Juni 2020, BPS mencatat pertumbuhan ekspor buah-buahan Indonesia mencapai 23.21 persen dengan nilai mencapai USD 430.4 juta atau setara Rp 6.25 triliun.

“Besarnya jumlah penduduk bumi yang mencapai sekitar 7 miliar jiwa, dimana sekitar 4,6 miliar diantaranya berada di Benua Asia, juga menandakan besarnya peluang pasar ekspor buah tropis Indonesia. Untuk menguasai pasar ekspor dunia memang tak mudah. Pengekspor perlu memperoleh berbagai sertifikasi, misalnya dari Global Good Agricultural Practices dan Social Responsibility Certified Exporter. Disinilah peran SOKSI sangat dibutuhkan,” ujar Bamsoet.(red/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here