Penulis: Zhikria Azharah – Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia.
IndependenNews.com | Tri Rismaharini atau biasa disapa Bu Risma, sosok pemimpin perempuan dengan berbagai prestasi ini sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat. Saat ini Bu Risma menjabat sebagai Menteri Sosial menggantikan menteri sebelumnya yang tersandung tindak pidana korupsi. Keputusan Presiden Jokowi untuk mengangkat Bu Risma sebagai Menteri tak lepas dari prestasinya ketika memimpin kota Surabaya. Kepemimpinan seperti apa yang membuat Bu Risma diyakini mampu memegang jabatan sebagai Menteri Sosial? Yuk kita flashback kepemimpinan Bu Risma selama menjabat sebagai walikota Surabaya!
Keberhasilan Bu Risma ketika menjabat sebagai walikota Surabaya membawanya menjadi sosok pemimpin perempuan yang sangat menginspirasi. Ketika itu, Bu Risma merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai walikota Surabaya dan pastinya masyarakat sangat memperhatikan kepemimpinan Bu Risma ini. Masyarakat bertanya-tanya, apakah seorang wanita dapat memimpin salah satu kota besar di Indonesia yaitu Surabaya?
Isu kesetaraan gender seperti laki-laki yang lebih superior dan maskulin sehingga lebih cocok menjadi seorang pemimpin dan budaya patriarki masih menjadi perbincangan. Meskipun saat ini banyak perempuan yang berstatus sebagai pemimpin tetapi mereka masih dianggap lemah oleh sebagian orang. Nah, Bu Risma ini berhasil membuktikan bahwa kepemimpinan tidak bergantung pada gender.
Salah satu tantangan seorang pemimpin wanita adalah dianggap terlalu emosional karena seorang wanita yang biasanya lebih menggunakan perasaannya ini membuat keputusan yang diambil dikhawatirkan tidak profesional. Namun, Bu Risma justru mematahkan anggapan tersebut. Wanita dengan naluri yang kuat justru memunculkan sifat kepedulian yang tinggi. Bu Risma terkenal dengan kegiatan blusukannya. Blusukan ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi apa yang terjadi pada masyarakat dan dengan kepedulian yang tinggi Bu Risma selalu mencoba berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Selain itu, Pemkot Surabaya juga mengirimkan 300 anak untuk program magang di perusahaan Astra selama tiga bulan. Pada kesempatan Bu Risma untuk menyampaikan pidatonya, Bu Risma tak kuasa untuk menangis. Air mata Bu Risma ini bukan sebagai bentuk bahwa perempuan itu lemah tetapi sebagai bentuk syukur Bu Risma karena rasa cinta yang besar terhadap rakyatnya.
Bu Risma terkenal dengan ketegasannya dalam memimpin. Sifatnya yang tegas ini membuatnya menjadi pemimpin yang hebat. Hal tersebut merujuk kepada kepemimpinan klasik pada Trait Theory. Selain itu, kepemimpinan bukan hanya berasal dari sifat bawaan tetapi kepemimpinan juga dapat dipelajari oleh siapapun terlepas dari gendernya. Laki-laki maupun perempuan dapat membentuk dirinya sebagai pemimpin dimana perilaku dapat dipelajari, dilatih dan dikembangkan (behavioral theories). Dalam biografinya Bu Risma dahulu hanya salah satu pegawai negeri sipil (PNS) yang mengabdi di dinas tata kelola ruang kota Surabaya. Karena kerja kerasnya karier Bu Risma semakin meroket dan ditambah dengan prestasinya di birokrasi, akhirnya Bu Risma dicalonkan menjadi walikota Surabaya.
Dengan ini, pemimpin yang hebat memang harus memiliki skill dan rasa tanggung jawab tetapi kepemimpinan dengan hati juga dibutuhkan. Dengan perasaan dan kepekaan yang dimiliki perempuan membuat Bu Risma menjalankan tugas sebagai pemimpin dengan setulus hati.
Selama menjadi walikota Surabaya, Bu Risma memiliki visi yang besar untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat Surabaya sehingga akan memberi petunjuk bagi organisasi untuk bekerja mencapai visi yang telah ditetapkan yaitu mejadikan Surabaya menjadi kota yang lebih baik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Bu Risma adalah salah satu pemimpin visioner. Dalam kutipan Barbara Brow terdapat beberapa kunci kompetensi dalam kepemimpinan visioner. Dan Bu Risma telah memenuhi beberapa kunci kompetensi tersebut.
Bu Risma memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dicapai (visualizing) dan target yang ingin dicapai itu tidak hanya berimplikasi jangka pendek saja tetapi dapat bermanfaat sampai jangka panjang (futuristic thinking). Bu Risma membuat program penyediaan taman, penanganan banjir dan pembangunan infrastruktur. Kota yang hijau dan ramah lingkungan akan mengurangi polusi sehingga kebersihan dan kualitas udara kota Surabaya sampai masa depan nanti dapat terjaga. Ditambah dengan pengelolaan sampah yang baik bahkan ada program bank sampah membuat kota Surabaya berhasil meraih tujuh piala adipura berturut-turut dari tahun 2011 hingga tahun 2017. Untuk program penanganan banjir dilakukan melalui program box culvert yang bertujuan meningkatkan saluran air dengan volume besar agar air hujan dapat mengalir dengan baik dan tidak menyebabkan banjir.
Selanjutnya dalam program pembangunan infrastruktur dilakukan melalui kerjasama antara pemerintah kota Surabaya dengan pemerintah pusat seperti pembangunan jalan dan saluran air. Pembangunan jalan ini dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan. Kerjasama ini telah menunjukan adanya coalition building dimana Bu Risma mampu membangun hubungan yang baik dengan anggota dalam organisasi maupun luar organisasi. Kerjasama dengan pihak swasta seperti PT Astra dalam pemberian program magang juga dapat dikatakan bahwa Bu Risma memiliki coalition building yang baik.
Sebagai pemimpin, Bu Risma mengetahui bahwa perubahan menjadi suatu bagian penting bagi pertumbuhan dan pengembangan (embracing change). Bu Risma sangat sadar akan kemajuan teknologi yang menyebabkan organisasi perlu melakukan perubahan untuk menapaki dunia baru. Dalam lingkungan yang terus berubah pemimpin visioner harus memiliki (creative thinking) dan dapat berinovasi. Bu Risma merupakan sosok pemimpin yang inovatif yang menjadikan gaya kepemimpinan Bu Risma transformasional dimana karakter inovatif Bu Risma ini mendorong Bu Risma untuk melakukan banyak transformasi pada birokrasi pemerintahan kota Surabaya.
Banyak sekali bentuk program inovatif yang selaras dengan terwujudnya e-government. Inovasi yang digagas Bu Risma seperti sistem e-procurement dimana masyarakat dapat melihat, memantau, mengawasi pekerjaan yang dilelang Pemkot Surabaya dan masyarakat nantinya dapat mengetahui pemenang tender dan nilai proyek tersebut. Selanjutnya dalam rangka mewujudkan smart city, Surabaya perlahan mengubah layanan yang manual dan konvensional menjadi otomatis dan digital menggunakan Government Management Resource System (GMRS) untuk mengelola transportasi dan layanan publik serta mengembangkan aplikasi Matakota yang memuat informasi mengenai bencana akan, tindak kriminal, dan sebagainya.
Hubungan Bu Risma dengan pegawainya terjalin berdasarkan hierarki yang berlaku sehingga sikap Bu Risma terhadap bawahannya tegas dan rigid. Bu Risma mengarahkan organisasinya berdasarkan aturan yang ketat. Sehingga tipe dan gaya kepemimpinan Bu risma cenderung birokratis. Dapat kita lihat pada Bu Risma sendiri sering melakukan inspeksi mendadak atau pengawasan kerja para pegawai secara langsung. Bu Risma dapat menindak pegawai yang melakukan kesalahan saat itu juga.
Keberhasilan implementasi dari berbagai program inovatif Bu Risma tak lepas dari dirinya yang memberikan arahan secara baik terhadap bawahannya. Untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara yang lebih efektif dan efisien beliau menanamkan pola teamwork yang kuat di setiap SKPD. Meskipun tidak mudah dalam penerapannya karena ego sektoral setiap dinas sifat director, tegas, dan serius inilah yang membentuk budaya organisasi di lingkungan pemerintahan Kota Surabaya menjadi lebih profesional dan meningkatkan kedisiplinan.
Itulah sosok Bu Risma yang sangat menginspirasi. Sosok pemimpin visioner dengan tipe dan gaya kepemimpinan yang dimilikinya mengantarkan Surabaya menjadi kota yang maju. Bu Risma membuktikan bahwa perempuan juga dapat berperan sebagai pemimpin hebat. Dengan berbagai inovasi yang dicanangkan Bu Risma dapat meningkatkan transparansi pemerintah kepada masyarakat sehingga praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dapat dicegah.
Referensi:
Tuti, R. (2020). KEPEMIMPINAN WALIKOTA SURABAYA TRI RISMAHARINI SEBAGAI MODEL BIROKRASI EFEKTIF. Jurnal Ilmu Komunikasi Politik dan Komunikasi Bisnis.