Independennews.com | Kupang – Di sebuah Posyandu yang berada di wilayah kerja Pustu Penfui Timur, sejumlah ibu duduk berjejer sambil memangku bayi mereka. Di sisi lain, para tenaga kesehatan bersama dosen dari jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang tampak aktif berbagi pengetahuan. Senyum dan anggukan kecil sesekali muncul dari wajah para ibu, seolah mereka menemukan jawaban atas kecemasan yang selama ini mereka rasakan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat dengan tema “Pemberdayaan Keluarga dalam Upaya Meningkatkan Efikasi Diri Menyusui.”
Sekitar 20 ibu menyusui bersama keluarga mereka hadir, didampingi tim pengabmas yang diketuai oleh Hasri Yulianti, SST., M.Keb, bersama anggota tim Ignasensia Dua Mirong, SST., M.Kes, Tirza V.I. Tabelak, SST., M.Kes, dan tiga mahasiswa.
Melalui penyuluhan yang disampaikan dengan cara sederhana, para ibu mendapatkan edukasi mengenai ASI eksklusif, tantangan menyusui, pentingnya dukungan keluarga, serta teknik menyusui yang benar.
Dalam kesempatan itu, Hasri Yulianti menegaskan bahwa menyusui bukanlah hal yang mudah bagi sebagian ibu.
“Menyusui adalah anugerah sekaligus tantangan bagi seorang ibu. Meskipun alami, banyak ibu yang merasa cemas, lelah, bahkan ragu pada kemampuan diri mereka sendiri. Pada saat inilah, dukungan keluarga menjadi faktor yang sangat menentukan,” ujarnya kepada media, Selasa 30/9.
Menurut Hasri, efikasi diri—keyakinan seorang ibu terhadap kemampuannya menyusui—sangat mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI. Ibu yang percaya diri akan lebih konsisten memberikan ASI eksklusif hingga enam bulan pertama kehidupan bayi.
Namun, rasa percaya diri itu tidak muncul begitu saja. “Kehidupan keluarga, terutama suami dan orang-orang terdekat, menjadi fondasi penguat,” tambahnya.
Hasri juga menjelaskan bahwa dukungan keluarga dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana, seperti menemani ibu saat menyusui, membantu pekerjaan rumah, menyiapkan makanan bergizi, hingga memberikan kata-kata semangat.
“Perhatian kecil ini mampu mengurangi stres, menumbuhkan rasa nyaman, dan memperkuat keyakinan ibu bahwa ia mampu memberikan yang terbaik bagi bayinya,” jelas Hasri.
Sayangnya, masih ada anggapan bahwa menyusui sepenuhnya adalah tanggung jawab ibu. Padahal, tanpa dukungan emosional dan praktis dari keluarga, ibu lebih rentan menyerah dan beralih ke susu formula.
Karena itu, Hasri menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa menyusui adalah perjalanan bersama, bukan tugas seorang diri.
“Dengan dukungan keluarga, efikasi diri ibu akan semakin kuat. Dan di balik setiap ibu yang berhasil menyusui, ada keluarga yang menjadi kunci keberhasilannya,” pungkasnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menjadi ruang bagi ibu-ibu untuk berbagi pengalaman. Suasana hangat dalam foto yang terekam menggambarkan kebersamaan: bahwa perjuangan seorang ibu tidak harus dilalui sendirian, melainkan menjadi gerakan bersama keluarga.(*)