IndependenNews.com – Humbahas | Beberapa siswa di UPT SD Negeri 051 Pardomuan di Desa Pardomuan, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, mengeluhkan bobroknya pelayanan SPPG yang melayani pemasokan Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah mereka.
Informasi dari murid menyebutkan, bahwa petugas SPPG Aek Nauli I sudah tiba di sekolah untuk mengantar MBG pada pukul 08.00 WIB setiap harinya.
Hal itu berarti, masih ada rentan waktu 3 hingga 4 jam lagi, hingga MBG dibagikan. Karena pihak sekolah umumnya mengatur jadwal makan di Pukul 11.00 WIB atau Pukul 12.00 WIB.
“Makanan yang kami terima jadi dingin dan keras. Terkadang jadi banyak yang sisa”, ucap salah satu siswa yang identitasnya disamarkan.
Siswa lain menambahkan, akibat dari situasi tersebut, banyak di antara siswa yang menjadi hilang selera makannya, hingga berdampak banyaknya makanan sisa.
“Biasanya ada Guru kami yang mengumpulkan makanan sisa, katanya untuk di bawa pulang ke rumahnya dijadikan makanan hewan peliharaan”, ungkap siswa tersebut.
Masih menurut siswa, meski sudah mendapat MBG di sekolah, sepulang dari sekolah, hampir keseluruhan siswa akan tetap kembali makan siang di rumah masing-masing.
“Yang di sekolah tidak cukup. Tetap lapar. Karena makanannya sering dingin dan keras. Jadi sering sisa”, imbuh mereka.
Sementara, Kepala UPT SD Negeri 051 Pardomuan Sannuria Pane ketika dikonfirmasi wartawan di kantornya, Senin (9/3/2026), membenarkan perihal MBG sudah tiba di sekolah tersebut tiap Pukul 08.00 WIB pagi.
Hal itu kemungkinan, kata Sannuria, diakibatkan petugas SPPG mengejar jadwal untuk siswa PAUD di Desa Pardomuan.
“Jadi selain kami, ada PAUD yang ikut mendapat MBG, jadi kemungkinan mereka mengejar waktu ke sana, biar tidak bolak-balik mereka ngantarnya”, kata Sannuria
Namun, Kepsek tersebut membantah, jika MBG yang dihidangkan kerap menjadi makanan sisa meski sudah dingin akibat terlalu lama di simpan.
“Ga ada tuh. Ga ada masalah. Palingan sering ada sisa jika ikannya tidak cocok. Misalnya kalau lauknya berasal dari telur ayam bulat”, ucapnya.
Tetapi, ia mengakui, bahwa pengantaran MBG ke sekolah tersebut terbilang terlalu cepat. Dan hal itu memungkinkan, makanan yang disediakan sudah dingin.
Estimasi waktu pendistribusian MBG dari SPPG Aek Nauli I ke Desa Pardomuan diperkirakan memakan waktu hingga 30 Menit. Hal itu berarti, semua hidangan MBG tersebut sudah selesai disajikan sebelum Pukul 07.00 WIB.
Berarti, ada kurun waktu 5 jam hingga 6 jam makanan MBG dikonsumsi siswa jika proses penyajian dilakukan selesai pada jam tersebut. Dan bahkan kemungkinan, penyajian MBG tersebut diperkirakan bisa saja sudah rampung sebelum pukul 07.00 WIB.
“Sejak Oktober 2025. MBG ke sini selalu datang pagi. Sekitar pukul 08.00 WIB”, ujar Kepsek tersebut.
Dampak Pada Kesehatan
Lalu, apa dampaknya terhadap kesehatan jika MBG dikonsumsi setelah lebih dari 4 jam disajikan?
Dilansir dari media detik.com, Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Universitas Pasundan (Unpas), Yusman Taufik, beberapa waktu yang lalu menegaskan bahwa program MBG sejatinya membawa manfaat besar bagi anak-anak sekolah, namun sering kali aspek keamanan pangan tidak diperhatikan secara serius.
Yusman menekankan pentingnya prinsip Cook, Hold, Serve (CHS) dalam setiap proses penyajian makanan MBG. Makanan harus dimasak hingga matang sempurna, disimpan dengan cara yang benar, lalu disajikan maksimal empat jam setelah selesai dimasak.
“Jadi yang harus dilakukan ke depan adalah prinsip CHS (cook, hold, serve). Masak dengan sempurna, simpan dalam kondisi baik, dan sajikan maksimal 4 jam setelah dimasak. Jangan terlalu lama,” jelas Yusman.
Pria yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Unpas itu mengingatkan makanan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang sangat mudah terkontaminasi bakteri. Lauk bersantan, telur setengah matang, serta potongan buah menjadi contoh menu yang paling rentan rusak jika penyajian melampaui waktu ideal.
Selain itu, praktik memasak nasi dalam jumlah besar sehari sebelumnya juga dinilai berbahaya. Jika disimpan tanpa standar yang tepat, nasi dapat memicu pertumbuhan bakteri bacillus cereus yang berpotensi menyebabkan keracunan.
“Dalam proses penyimpanannya itu yang rata-rata kurang baik, suhu tidak sesuai waktu penyajian lama jadi bakteri cepat mengontaminasi, dapur kurang sanitasi, itu saja, sehingga makanan bisa cepat terkontaminasi,” ungkapnya. (Rachmat Tinton)