Edukasi Stunting, Kader Posyandu Dilatih Fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

Independennews.com | NTT – Suasana pertemuan di Pustu Penfui Timur antara dosen Poltekkes Kemenkes Kupang dengan para kader posyandu tampak penuh semangat.

Para kader duduk berderet rapi, menyimak dengan antusias materi yang disampaikan tim dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang.

Kegiatan bertajuk “Pelatihan Kader Posyandu dengan Menggunakan Modul Stunting” ini merupakan bagian dari program Pengabdian Masyarakat yang rutin digelar untuk memperkuat peran kader kesehatan di desa.

Koordinator kegiatan, Loriana L. Manalor, SST., M.Kes., menegaskan pentingnya pemahaman menyeluruh bagi kader dalam upaya pencegahan stunting.
“Edukasi ini bukan hanya tentang teori, tetapi juga membekali keterampilan praktis agar kader lebih efektif membantu keluarga di desa. Materi yang kami sampaikan mencakup penyebab, dampak, hingga langkah-langkah pencegahan stunting. Harapannya, kader dapat menjadi ujung tombak dalam memastikan generasi anak tumbuh sehat dengan gizi seimbang,” ujarnya kepada media, Senin (22/9/2025).

Loriana juga menekankan perhatian khusus pada 1000 hari pertama kehidupan—mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun—yang dinilai sangat krusial bagi tumbuh kembang fisik dan kognitif anak.
“Kami berharap kegiatan ini berkelanjutan, sehingga semakin banyak kader terlatih yang siap menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat desa,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Mareta B. Bakoil, SST., MPH., yang hadir sebagai fasilitator, menyoroti pentingnya peran aktif kader dalam mendampingi keluarga.
“Salah satu tugas utama kader posyandu adalah memberikan edukasi tentang pola asuh dan gizi yang baik. Pemantauan pertumbuhan anak harus dilakukan secara rutin melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Dengan pendampingan konsisten, angka stunting di komunitas ini dapat ditekan bersama,” jelas Mareta.

Sementara itu, Koordinator Lapangan, Ummi Kalstum S. Saleh, SST., M.Keb., menekankan pentingnya strategi komunikasi sederhana dan empatik.
“Kami membekali kader dengan keterampilan komunikasi efektif agar informasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat dapat tersampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan pendekatan empatik, masyarakat akan lebih termotivasi mengadopsi pola hidup sehat. Harapannya, kader posyandu Penfui Timur dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi desa,” ungkapnya.

Selama pelatihan, terlihat interaksi hangat antara dosen, mahasiswa, dan para kader posyandu. Sejumlah kader aktif bertanya seputar pola makan anak, cara mendeteksi risiko stunting, hingga strategi memberikan edukasi bagi ibu hamil di lingkungan mereka.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama penuh keceriaan. Senyum para kader posyandu mencerminkan semangat baru untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. Dukungan Poltekkes Kemenkes Kupang melalui kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat barisan kader kesehatan desa, demi terwujudnya generasi bebas stunting dan lebih berkualitas di masa depan.(Marchello)

You might also like