Amsakar–Li Claudia, Menjahit Harapan Baru Batam Menuju Kota Investasi Modern

Foto : Gusmanedy Sibagariang, Pemred Independennews.com

Kota Batam adalah beranda terdepan Indonesia. Ia bukan sekadar kota industri, bukan hanya kawasan perdagangan bebas, dan bukan semata daerah administratif di gugusan Kepulauan Riau.

Batam adalah wajah Indonesia yang setiap hari berhadapan langsung dengan denyut kemajuan Singapore dan Malaysia.

Karena itu, Batam tidak boleh berjalan lambat. Batam dituntut bergerak cepat. Batam dituntut modern.

Batam dituntut bersih, tertata, ramah investasi, namun tetap humanis bagi masyarakatnya.

Dalam konteks itulah, kilas balik kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra patut dilihat bukan hanya dari hitungan waktu, tetapi dari semangat kerja yang mulai menampakkan arah perubahan.

Kurun satu tahun terakhir, Batam tidak sekadar berjalan. Batam mulai berlari

Iklim investasi bergerak positif, pertumbuhan ekonomi menunjukkan penguatan, pelayanan publik mulai disentuh dengan ritme percepatan, dan wajah kota perlahan diarahkan menuju tata kelola yang lebih modern.

Namun dari pasangan kepemimpinan ini, masyarakat Batam merasakan satu energi yang sangat menonjol: energi kecepatan, ketegasan, dan respons lapangan yang melekat kuat pada sosok Li Claudia Chandra.

Di tengah birokrasi yang selama ini kerap dicap lamban dan terlalu administratif, kehadiran Li Claudia membawa warna berbeda.

Ia tampil sebagai pemimpin perempuan yang tidak nyaman duduk terlalu lama di belakang meja.

*Ia memilih turun, Ia memilih melihat, Ia memilih mendengar langsung, dan yang lebih penting, ia memilih bertindak cepat.

Dalam banyak momentum, masyarakat menyaksikan sendiri bagaimana Li Claudia merespons persoalan lingkungan, ketertiban kota, kebersihan, infrastruktur, hingga penataan kawasan dengan refleks seorang pemimpin yang memahami bahwa Batam tidak punya kemewahan untuk menunda.

Sebab kota yang sedang berebut perhatian investor global tidak bisa dipimpin dengan pola menunggu masalah membesar. Masalah harus disambut di depan pintu

Itulah yang membuat kehadiran Li Claudia menjadi sangat penting dalam konstruksi kepemimpinan hari ini.

*Ia bukan sekadar pendamping pemerintahan, Ia adalah motor percepatan, Ia adalah denyut responsif, Ia adalah wajah ketegasan yang dibalut kesantunan.

Di saat Amsakar Achmad menghadirkan pengalaman, komunikasi birokratis, dan jejaring kebijakan yang matang, Li Claudia hadir membawa energi baru: gerak cepat, keberanian mengambil keputusan, serta sensitivitas tinggi terhadap wajah kota.

Keduanya membentuk kombinasi yang saling melengkapi: yang satu menata fondasi, yang satu mengakselerasi langkah. Batam memang membutuhkan itu, karena Batam tidak sedang bersaing dengan kota biasa.

Batam sedang bersanding di halaman depan dengan Singapore yang dikenal sebagai kota modern paling efisien di Asia, serta Malaysia yang agresif membangun kawasan industrinya.

Investor dunia menilai Batam bukan hanya dari regulasi, tetapi dari kebersihan kota, dari ketertiban jalan, dari kecepatan pelayanan, dari rasa aman, dari kepastian tata ruang, dari wajah modern sebuah kota perbatasan.

Karena itu, ketika Li Claudia berkali-kali menunjukkan ketegasan pada persoalan lapangan, sejatinya ia sedang menyampaikan pesan yang lebih besar:

Batam harus berubah dari kota yang sekadar tumbuh menjadi kota yang tertata, batam harus naik kelas dari kota industri menjadi kota investasi modern.

Dan perubahan itu tidak akan lahir hanya dari pidato, perubahan lahir dari pemimpin yang mau hadir di tengah masalah.

Tentu pekerjaan rumah masih banyak, persoalan banjir, sampah, pelayanan air, penataan buffer zone, ketertiban usaha, kemacetan, hingga kesenjangan pembangunan hinterland masih membutuhkan kerja panjang.

Tetapi masyarakat Batam setidaknya mulai melihat adanya kesungguhan, ada denyut kepemimpinan , ada kesan bahwa pemerintah sedang bergerak sungguh-sungguh.

Dan harapan itu adalah modal sosial yang sangat mahal, pada titik inilah seluruh elemen masyarakat Kota Batam harus mengambil peran, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri.

Dunia usaha harus mendukung, tokoh masyarakat harus menyejukkan, pemuda harus ikut menjaga kota, akademisi harus memberi gagasan, media harus menjadi pengontrol yang jujur sekaligus mitra pembangunan.

Batam ini rumah bersama, Batam ini etalase Indonesia, Batam ini titipan masa depan anak-anak kita. Maka jangan biarkan pemerintah bekerja sendirian sementara masyarakat hanya menjadi penonton yang gemar mengkritik tanpa ikut merawat.

Mari kita jaga semangat kolaborasi ini, mari kita dukung setiap langkah baik dari Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, khususnya kepada Ibu Li Claudia Chandra, teruslah menjadi pemimpin yang cepat mendengar, cepat melihat, dan cepat bertindak.

Sebab Batam membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang masa depan, tetapi pemimpin yang berani menjemput masa depan itu mulai dari hari ini.

Tajuk : Redaksi
Penulis: Gusmanedy Sibagariang

You might also like