Independennews.com | Kupang – UNICEF Field Office Kupang bersama Dinas Kesehatan Kota Kupang menggelar Pertemuan Penguatan Implementasi Gender dalam Program Imunisasi Tingkat Kota Kupang, Jumat (13/3/2026), di Aston Hotel Kupang.
Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat penerapan pendekatan gender dalam program imunisasi, termasuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan anak di tingkat keluarga.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Kes, dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan sektor kesehatan, di antaranya para kepala bidang terkait, kepala UPTD Puskesmas se-Kota Kupang, pengelola program imunisasi dan KIA, tim imunisasi provinsi, serta perwakilan lembaga perencanaan pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, drg. Retnowati menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah indikator penting dalam program imunisasi yang memerlukan perhatian serius. Menurutnya, meskipun Kota Kupang memiliki potensi besar, capaian imunisasi saat ini masih belum optimal dibandingkan beberapa daerah lainnya.
“Jika dibandingkan dengan 22 kabupaten/kota dengan capaian terbaik, posisi Kota Kupang saat ini masih berada di peringkat dua atau tiga, padahal secara potensi seharusnya mampu menempati posisi pertama,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa cakupan imunisasi Polio dosis pertama (Polio 1) di Kota Kupang saat ini baru mencapai sekitar 71 persen. Angka tersebut menunjukkan perlunya upaya lebih intensif di lapangan untuk meningkatkan cakupan imunisasi di masyarakat.
Menurut Retnowati, setiap program kesehatan harus direncanakan secara matang, memiliki target yang jelas, serta dilaksanakan melalui tahapan kerja yang terukur. Ia mencontohkan bahwa kegiatan seperti sweeping imunisasi harus dilakukan berdasarkan analisis data yang kuat, bukan sekadar untuk memenuhi rencana kerja.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa cakupan imunisasi minimal harus mencapai 80 hingga 85 persen untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Tanpa capaian tersebut, risiko munculnya kembali penyakit menular dapat meningkat dan berpotensi menimbulkan beban kesehatan yang lebih besar di masa mendatang.
Dalam kesempatan yang sama, Retnowati juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam keberhasilan program kesehatan anak, khususnya keterlibatan ayah dalam proses pengambilan keputusan terkait imunisasi.
“Dalam sebuah keluarga, peran ayah dan ibu sama-sama penting. Kesehatan anak bukan hanya tanggung jawab salah satu pihak, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi, terutama di era media sosial yang sering kali memunculkan informasi yang tidak akurat mengenai imunisasi.
“Kesehatan adalah hal yang paling berharga. Harta, jabatan, dan prestasi tidak akan berarti ketika seseorang kehilangan kesehatan. Karena itu paradigma hidup sehat harus menjadi fondasi kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Health Officer UNICEF dalam sambutannya menyoroti bahwa Kota Kupang masih menghadapi sejumlah tantangan dalam meningkatkan cakupan imunisasi, khususnya pada indikator yang belum memenuhi target nasional.
Ia berharap melalui evaluasi implementasi pendekatan gender ini dapat diidentifikasi berbagai hambatan di lapangan, sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis yang lebih efektif untuk meningkatkan cakupan imunisasi secara merata dan berkelanjutan.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang berbagi praktik baik mengenai keterlibatan ayah dalam mendukung program imunisasi anak. Pengalaman di berbagai wilayah menunjukkan bahwa dukungan ayah sangat berpengaruh terhadap keputusan keluarga dalam membawa anak ke fasilitas kesehatan serta memastikan keberlanjutan jadwal imunisasi.
Pembelajaran tersebut diharapkan dapat direplikasi untuk memperkuat peran keluarga dalam memastikan setiap anak memperoleh imunisasi lengkap dan tepat waktu.
Pendekatan gender dalam program imunisasi juga diarahkan untuk mengurangi ketimpangan relasi kuasa dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga, sehingga keputusan terkait kesehatan anak dapat diambil secara bersama demi kepentingan terbaik bagi anak.
Selain itu, peningkatan pengetahuan seluruh anggota keluarga menjadi faktor penting untuk mengatasi keraguan masyarakat serta menghilangkan persepsi keliru yang kerap memicu sikap anti-vaksin.
Lebih lanjut disampaikan bahwa karakteristik Kota Kupang sebagai pusat mobilitas penduduk juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program imunisasi. Banyak keluarga yang datang dan tinggal sementara sehingga tidak seluruhnya tercatat dengan baik dalam sistem pendataan kesehatan.
Kondisi tersebut berdampak pada upaya memastikan bahwa setiap anak mendapatkan imunisasi secara lengkap.
Selain faktor mobilitas, keraguan sebagian orang tua terhadap imunisasi juga masih menjadi hambatan utama. Di beberapa komunitas, masih beredar persepsi yang keliru, seperti anggapan bahwa imunisasi dapat menyebabkan autisme atau membuat anak sering sakit.
Karena itu, pendekatan kepada masyarakat perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga melalui pendekatan sosial dan budaya.
Tenaga kesehatan didorong untuk menggunakan strategi komunikasi yang tepat, termasuk memanfaatkan media digital serta melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang memiliki pengaruh kuat di lingkungan sosial.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan dukungan UNICEF, diharapkan cakupan imunisasi di Kota Kupang dapat terus meningkat, jumlah anak zero-dose dapat ditekan, serta setiap anak memperoleh perlindungan kesehatan yang optimal sejak dini.
(Marchelino)