Independennews.com | Kupang, NTT — Tawa riang anak-anak memenuhi ruang kelas TK Hindu Saraswati pada Jumat (24/10/2025). Dinding berwarna cerah menjadi saksi kegiatan penuh makna antara para guru, mahasiswa kebidanan, dan anak-anak usia dini yang tengah belajar mengenal dunia dengan cara paling indah: melalui bermain.
Di salah satu sudut kelas, seorang anak tampak serius menyusun balok angka warna-warni di atas meja. Tangan mungilnya bergerak penuh percaya diri, seolah menulis kisah tumbuh kembangnya sendiri. Tak jauh dari sana, beberapa mahasiswa dari Program Studi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang sibuk mencatat hasil pengamatan — bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat (pengabmas) untuk memantau tumbuh kembang anak di TK Hindu Saraswati.
Kepala sekolah Harlin Christin Mata, S.Pt., menyambut tim pengabdian masyarakat dengan antusias.
“Kami sangat senang dengan kegiatan seperti ini. Anak-anak tidak hanya belajar, tetapi juga dipantau kesehatannya dan perkembangannya secara menyeluruh,” ujarnya.
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pemantauan tumbuh kembang balita menggunakan kuisioner Denver Developmental Screening Test (DDST). Melalui kolaborasi antara kampus dan sekolah, pemantauan dilakukan guna mendeteksi sejak dini potensi maupun hambatan perkembangan anak, baik dari aspek motorik, sosial, bahasa, maupun kognitif.
Ni Luh Made Diah Putri Anggaraeningsih, dosen Poltekkes Kupang yang memimpin kegiatan, menuturkan bahwa pemantauan tumbuh kembang pada usia dini sangat penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Kegiatan sederhana seperti mengukur tinggi, berat badan, dan mengamati gerak anak dapat membantu mendeteksi adanya gangguan atau potensi perkembangan yang perlu perhatian lebih awal,” jelasnya.
Bidan Diah menambahkan bahwa pemantauan tumbuh kembang di TK Hindu selama ini telah dilakukan secara rutin oleh Puskesmas Pasir Panjang, terutama dalam bentuk penimbangan berat dan tinggi badan serta pemberian vitamin A dan obat cacing. Namun, aspek perkembangan anak — seperti kemampuan motorik halus, sosial, dan bahasa — belum dipantau secara khusus.
“Oleh karena itu, kami bersama mahasiswa D-III Kebidanan Poltekkes Kupang melakukan ceklist dengan kuisioner DDST untuk mengetahui perkembangan anak dari berbagai aspek,” paparnya.
Sementara itu, Bidan Dewa Ayu Putu Mariana Kencanawati menambahkan bahwa kegiatan di TK dapat menjadi sarana stimulasi efektif bagi anak.
“Melalui permainan sederhana, guru sebenarnya sedang membantu anak-anak melatih motorik halus, sosial, dan bahasa mereka. Dengan begitu, setiap anak bisa berkembang sesuai potensinya,” katanya.
Dari hasil pemantauan, mayoritas anak di TK Hindu Saraswati menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Mereka aktif, ceria, dan mampu mengikuti instruksi sederhana dengan mandiri — bukti bahwa pembelajaran yang menyenangkan dapat berjalan seiring dengan tumbuh kembang yang optimal.
Tim pengabdian masyarakat yang terdiri atas Ni Luh Made Diah Putri Anggaraeningsih, Dewa Ayu Putu Mariana Kencanawati, Martina F. Diaz, Nurlaela Al’Tadom, serta mahasiswa kebidanan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami ingin para guru dan orang tua mendapatkan pelatihan agar mampu melakukan pemantauan tumbuh kembang secara mandiri di rumah. Karena sejatinya, setiap langkah kecil anak adalah awal dari masa depan yang besar,” tutup Bidan Diah penuh makna.(Marchel)