Renungan YAKOBUS 1: 22-25, “HIDUP BENAR SESUAI DENGAN HUKUM TUHAN”

0
10570
Foto : Ilustrasi

YAKOBUS 1:22-25
HIDUP BENAR SESUAI DENGAN HUKUM TUHAN
(GABE SIULAHON HATA I)

Pendahuluan

  1. Secara ringkas diberitahukan bahwa surat Yakobus adalah berisi tentang nasehat/bimbingan tentang kehidupan praktis Kristen. Bimbingan dimaksud sangat relevan untuk orang Kristen sepanjang masa karena kecenderungan orang untuk sekedar tahu, percaya tapi tidak melakukannya. Tanpa melakukan apa yang kita percaya hidup kita tidak akan diubah. Alkitab (terutama surat Yakobus) memerintahkan kita supaya menjadi pelaku Firman.

Penjelasan Teks

  1. Pada perikop sebelum kotbah ini (Yakobus 1:19-21) diberitahukan bahwa Yakobus mengingatkan orang Kristen agar memiliki sikap hati yang menghampiri Firman Allah. Di Yakobus 1:19-21, ada dua poin penting tentang bagaimana cara menerima Firman Allah, yakni pertama, “orang Kristen harus bertekad menyingkirkan segala kekotoran/kejahatan yang memenuhi hatinya.” Jika orang Kristen dipenuhi oleh keserakahan, berahi, rasa iri dan kebencian, maka ia tidak akan dapat menerima Firman Allah. Hati seorang Kristen akan menjadi semakin keras jika ia terus mendengar/membaca firman tetapi ia sambil tetap berpaut pada kejahatan. Dia harus memilih untuk lepas dari segala kekotoran/kejahatan itu jika ia benar-benar ingin mengalami kuasa dari Firman Allah. Hanya dengan demikian baru Firman Allah bisa mulai bekerja di dalam hatinya. Kedua, setiap orang Kristen harus terus menerima Firman Allah itu dengan lembut hati. Hati yang lembut adalah hati yang dapat diajar sepenuhnya, taat dan rendah hati. Secara umum, hal ini berarti bahwa ia bersedia mengijinkan kehendak Allah digenapi di dalam hidupnya. Semua itu menyatakan jenis sikap hati yang harus dimiliki di dalam menghampiri Firman Allah. Hanya orang semacam itu yang bisa menerima Firman Allah dan mengalami kuasa keselamatan.

Lalu, perikop kotbah ini ay. 22-25:
a). Ay. 22, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Perjuangan kita (sesuai ayat 22 ini) ialah “tidak semudah perkataan, bertindak tidak segampang menasihati.” Pepatah Indonesia, memanglidahtida bertulang (menasehati sangat mudah, tetapi melakukan sangat sulit). Sama halnya dengan firman Tuhan (yang sudah diberitakan sejak lama), jangan sampai menjadi seperti ahli Taurat, orang-orang Farisi dan Saduki yang hanya mendengar dan menghafal isi kitab Taurat, tetapi mereka tidak mendapat bagian dalam perkenanan Allah. Tuhan menghendaki kita bukan hanya mendengar firman-Nya, tetapi melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Ketika kita menunjukkan kesungguhan kita untuk mau mengubah diri dan keadaan kita, tentu Tuhan tidak akan diam saja. Dengan kasih setia-Nya, Tuhan akan mencurahkan favor(kebaikan)Nya, sehingga kita pun dapat mengalami transformasi (perubahan) di segala bidang kehidupan kita.

MENDENGAR ITU PENTING TETAPI TIDAK CUKUP MEMADAI Tidak cukup mendengar kotbah (misalnya menonton/mendengar kotbah di Yuotube/trend masa kini – oleh pengkotbah Youtuber) tetapi melakukannya. Yang jelas, rasul Yakobus memberitahu bahwa semangat yang sejati, hanya terwujud di dalam tindakan mendengar dan melakukan firman, sama sekali tidak cukup hanya sekadar mendengar kotbah (bahkan bisa membuat termangu-mangu/ekspressi wajah dan mulut saat mendengar kotbah). Pada ay. 22 ini, rasul Yakobus tidak menyangkal arti penting dari mendengarkan firman, tetapi sebaliknya mendengarkan firman itu merupakan syarat untuk dapat melakukan firman. Artinya jelas, bahwa Yakobus tidak mengatakan bahwa mendengarkan firman itu tidak penting. Yang Yakobus tegaskan ialah *“jangan hanya pendengar (yang termangu-mangu) saja.” Sebab, persoalan utama orang Kristen saat ini ialah ia menjadi hanya kegemaran mendengar tanpa melakukan Firman. Menjadi hanya sekedar menjadi pendengar, maka ini menjadi sangat parah. Bagaimanapun (melalui ayat 22 ini), rasul Yakobus menyuruh orang Kristen agar melakukan/mempraktekkan firman Allah yang telah didengarkan dan jangan begitu cepat melupakannya. Yakobus menyebut fenomena sikap seperti ini *“menipu diri sendiri”* (orang Kristen yang hanya mendengar firman Allah sampai termangu-mangu mendegarnya tanpa berusaha mempraktekannya, maka ia sebenarnya sedang menipu dirinya sendiri/=ist Batak, “paotootoon dirina”).

b). Ay. 23-24: Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Persoalan lebih luas dari kelanjutan dari ay 22. “Ada orang yang mendengarkan firman kemudian melupakannya.” Yesus mengajarkan, makna penting dari mendengar ada pada sikap hati di saat mendengar itu. Pada posisi ini, keprihatinan Yakobus sama dengan keprihatinan Yesus. Itu sebabnya, pada ay 23, Yakobus menganalogikan (mencontohkan) pada fungsi cermin. Ibarat seseorang yang sedang bercermin (ayat 23-24). Aktifitas rutin semua orang saat bagun tidur hingga kemudian melangkah keluar dari rumah di pagi hari, setiap orang harus menghadap sebuah cermin. Lalu, mengapa setiap orang selalu ingin bercermin lebih dulu? Setiap orang berharap, dengan bercermin, ia bisa melihat apakah penampilannya masih perlu dirapikan sebelum keluar dari rumah – agar ia tidak ditertawai orang karena terlihat aneh. Manfaat penting lain dari cermin adalah membantu setiap orang menjaga penampilan tetap baik (bagaimana misalnya akibat buruk yang akan timbul jika tidak ada cermin (misalnya air yang menjadi cermin, …dll)? Yang akan kelihatan ialah kejorokan dan keburukan diri sendiri dan orang lain yang tidak dapat terlihat, tanpa cermin, kita tidak akan bisa menjaga penampilan kita. Melalui mencontohkan inilah Yakobus ingin memberitahu kita bahwa Firman Allah itu seperti cermin yang dapat dipakai untuk membantu kita menjaga kebersihan batin kita.

c). Ay. 25, ”tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” Karena alasan (kesadaran Yakobus), ”tata nilai duniawi selalu berubah”, di mana semua orang dengan gampang menerima apa yang dulu dipandang sebagai hal yang tidak bermoral oleh generasi yang dulu, ini dapat berubah sesuai perjalanan waktu. Maka, bagi Yakobus, firman Allah adalah standar bagi moralitas. Firman Allah sama seperti cermin, yang membuat kita tahu apa yang benar dan yang kudus, dan apa yang kotor serta jahat. Firman Allah bisa membantu kita hidup dalam kekudusan. Jika kita memiliki sikap hati yang benar terhadap Firman Allah, maka ia akan berfungsi seperti cermin yang mampu mengubah segenap kehidupan kita, membuat kita meninggalkan kekotoran dan kejahatan, dan menjadi orang merdeka. Itu sebabnya mengapa di dalam ayat 25 Yakobus juga menyebut Firman Allah sebagai ”hukum yang memerdekakan orang”, karena Firman Allah dapat memerdekakan seseorang dari belenggu dosa dan menjadi orang yang benar.

Lalu, langkah serius pertama sekarang (ay. 25) ialah “meneliti hukum Allah.” Orang yang tidak serius menyimak Firman Allah tidak akan dapat mengalami kuasa yang mengubah hidup. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yakobus, orang ini seperti orang yang sedang bercermin, dalam sekejap dia sudah lupa bagaimana rupanya. Cermin itu tidak bermanfaat apa-apa bagi dia. Demikian pula, jika hati kita tidak serius pada Firman Tuhan, maka kita tidak akan menyimak dengan teliti dan akibatnya, kita akan segera lupa pada apa yang telah kita dengar. Oleh karena itu, kesigapan dalam menyimak dan meneliti Firman Allah adalah sikap hati yang sangat penting.

Pesan kotbah pada kehidupan kita

  1. Harus menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar (ini poin pentingnya kotbah ini). Maka, untuk dapat menjadi pelaku firman, ada beberapa langkah perlu diperhatikan:
    a). ”Taat kepada Firman”. Mendengar Firman penting tetapi itu tidak cukup; mendengar belum menaati Firman, dia baru tahu dan mungkin mempercaya apa yang kita dengar. “Menjadi pelaku Firman”, ini menjadi kalimat perintah bagi semua orang percaya (Kristen). Setiap orang percaya harus melakukan Firman. Kita dipanggil untuk ‘berbuat’ atas dasar Firman. Kita belajar secara utuh hanya dengan mempraktekkan apa yang kita pelajari. Dengan melakukannya, Firman mengubah pikiran, hati, karakter dan akhirnya hidup kita. Ketika kita melakukan Firman Tuhan, maka Firman itu akan lebih tertanam dalam jiwa kita. Kita bisa tahu Firman dalam pikiran kita dan tahu apa yang harus kita lakukan, tapi sebelum kita melakukan Firman itu tidak betul-betul berakar dalam hidup kita. Ketaatan melakukan Firman menjadikan Firman itu nyata.

b). – ”Hanya Pendengar Saja adalah Pengabai Firman” Kita perlu mendengar Firman sebagai permulaan. Kitab Roma 10:17 menyatakan: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Namun mendengarkan Firman saja tidak cukup. Dengan mendengar kita tahu dan percaya tentang apa yang kita dengar. Dengan tidak melakukan Firman kita telah mengabaikan Firman yang bersifat imperatif (perintah). Kita mungkin berpikir telah mendapatkan manfaat dari mendengarkan Firman, tapi sebenarnya mereka kehilangan kesempatan mendapatkan berkat Tuhan dari melakukannya.

  • ”Hanya Pendengar Saja berarti ‘Menipu diri sendiri”. Jika kita hanya mendengar tapi tidak melakukan Firman maka dikatakan kita ”menipu diri sendiri”. Misalnya, semua orang tahu berzina/selingkuh adalah salah tetapi tetap saja ia melakukannya. Maka, yang melakukannya (walau ia tahu tindakan itu salah) adalah korban penipuan dengan akibat hidup dan keluarganya menjadi rusak (jelas menipu diri sendiri). Contoh lain, banyak orang mengetahui, “lebih baik (lebih diberkati) memberi daripada menerima”, tetapi ia tetap saja tidak mau memberi, akhirnya ia tetap menjadi korban penipuan diri sendiri sehingga tidak mengalami berkat dari memberi itu.

c). Pelaku Firman Diberkati. Yakobus mengatakan kalau kita mendengar Firman dan melakukannya, tidak mengabaikan, kita akan diberkati: mendapatkan perkenanan Allah atas kita, baik secara umum, yaitu berkat dan perlindungan; kesukaan kepada kita; kemurahan; perkenanan; dan damai sejahtera-Nya; maupun secara khusus sehubungan dengan apa yang kita lakukan terhadap Firman-Nya itu (Bilangan 6:24-26; Amsal 13:13). Mendengar Firman dan tidak melakukan membawa kepada penipuan diri sendiri, sebaliknya mendengar Firman dan melakukannya membawa berkat bagi kita. Hanya dengan melakukan Firman maka hidup kita mengalami transformasi. Amin

selamat mempersiapkan diri untuk pelayanan ibadah di minggu septuagesima, tetap semangat dan selalu bertekun dalam doa

By : Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here