Humbahas, IndependenNews.com | Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) masuk ke wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut IX untuk Pileg 2024 nanti. Dapil IX meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hasundutan, dan Sibolga.
Pendaftaran Calon Legislatif (Caleg) DPRD Provinsi untuk Pemilu 2024 sudah berjalan. Pendaftaran dimulai dari tanggal 1 hingga tanggal 14 Mei 2023. Sementara penetapan Daftar Caleg Tetap (DCT) dijadwalkan pada tanggal 11 Oktober 2023 nanti.
Hal itu berarti, tinggal sebulan lagi bagi para politisi untuk ditetapkan namanya di DCT. Dan hanya hitungan beberapa bulan lagi mereka akan bertarung di puncak pesta demokrasi pileg 2024.
Bagi politisi, kurun waktu beberapa bulan ibarat beberapa hari saja, mereka menganggapnya tidaklah lama. Mereka tentu saja sudah mulai melakukan sejumlah persiapan hingga nantinya diperoleh kematangan strategi.
Melalui spanduk atau baliho yang sudah ada terpasang di beberapa titik. Juga dari informasi di berbagai media online, platform media sosial, website parpol, dan juga desas desus para warga pelaku politik lokal, kita mendapat informasi bahwa saat ini ada beberapa kandidat yang akan ikut bersaing untuk memperebutkan kursi empuk di DPRD Sumatera Utara.
Sebut saja nama-nama yang tidak asing lagi bagi warga Kabupaten Humbahas misalnya Manaek Hutasoit dari partai Golkar dan saat ini aktif anggota DPRD Kabupaten Humbahas. Beliau saat ini ikut berjuang untuk mendapatkan singgasananya di kursi baru di DPRD Provinsi.
Selain itu ada nama yang cukup familiar, yakni Pantur Banjarnahor dari Partai PDI Perjuangan dan Irwan Simamora dari Partai Hanura. Saat ini, keduanya masih aktif sebagai anggota DPRD Sumatera Utara.
Ketiga nama di atas adalah putra terbaik kabupaten Humbahas ini. Berdasarkan data DC1 yang diunggah situs resmi KPU Sumut, di Pileg sebelumnya tahun 2019, Pantur Banjarnahor mendapatkan 43.273 suara. Sementara Irwan Simamora meraup 31.996 suara. Sedangkan Manaek Hutasoit mendapatkan suara 2.718 dari Pileg Kabupaten.
Kalau berdasarkan hasil perolehan suara tersebut, Pantur Banjarnahor adalah sosok peraup suara tertinggi.

Namun begitu, tiga nama besar putra terbaik Kabupaten Humbahas ini akan bertarung dengan beberapa nama putra-putri terbaik dari berbagai kabupaten tetangga di Dapil IX.
Berkaca dari Pileg sebelumnya, ada sejumlah nama besar dari berbagai kabupaten lain, semisal Jonius TP Hutabarat, Tangkas Manimpan Tobing, Victor Silaen, Rahmansyah Sibarani, Jubel, Tambunan, Pintor Sitorus, dan Tuani Lumban Tobing. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan akan muncul lagi nama dan sosok wajah baru setelah DCT ditetapkan.
Saat ini sudah banyak yang telah melakukan warming up alias pemanasan kepada publik. Bagi caleg yang memiliki syahwat politik, sejatinya untuk duduk menjadi seorang legislator waktunya dirasa sudah semakin dekat.
Yang menarik disimak kali ini adalah bagaimana peluang Pantur Banjarnahor untuk kembali memenangkan Pileg 2024 nanti?
Seyogianya, dari sudut pandang masyarakat dan dari kacamata kepentingan kedaerahan, siapapun caleg yang dirasa mampu untuk membawa kepentingan daerah, maka itu sangat menentukan untuk mengantarkan mereka menduduki kursi legislatif di DPRD Provinsi Sumut nantinya.
Kalau bisa, semakin banyak caleg dari daerah yang duduk di DPRD Provinsi, maka diharapkan akan semakin banyak kepentingan publik perhatian dan kegiatan serta alokasi dana pokir DPRD terakomodir. Dengan catatan jika setelah duduk mereka tidak lupa dengan komitmennya kepada daerah yang mendukungnya.
Kembali ke peluang Pantur Banjarnahor, bisakah dia menduduki kembali kursi DPRD Provinsi Sumut?
Jika ditelaah dari sisi jumlah pendukung militan, saat ini Pantur Banjarnahor memiliki sejumlah sokongan fanatik dari masyarakat yang tergabung dalam program dia yang cukup terkenal yakni “marpadot”. Komposisi masyarakat di dalam tubuh marpadot ini cenderung di isi oleh para petani lokal Humbahas. Ini menjadi sebuah modal penting bagi Pantur untuk kembali meraup suara dari masyarakat.
Sementara kalau dari sisi kepartaian, Pantur berpeluang besar masih mendapat dukungan dari partainya, PDI Perjuangan. Ia kemungkinan besar masih akan mendapat restu dari pimpinan partai pemenang Pileg 2019 nasional tersebut. Sehingga diharapkan juga mendapatkan dukungan dari pengurus untuk menggerakkan mesin partai untuk mendukung langkah Pantur hingga ke akar-akar partai.
Dari sisi kompetisi di internal partai, agaknya Pantur juga tetap masih menjadi “anak kesayangan”, karena diketahui, sejumlah elit politik yang saat ini menjadi kader PDI Perjuangan memiliki hubungan yang sangat baik dengan dia. Tentu hal itu begitu sangat berpengaruh terhadap kenyamanan posisi Pantur di internal partai.
Konstelasi politik dan elektabilitas Pantur dipengaruhi dinamika kebijakan partai di pusat akan turut berimbas.
Namun ada juga hal yang sangat menarik untuk diulik sedikit. Pantur Banjarnahor merupakan adalah Abang kandung dari Bupati aktif Humbahas saat ini, yakni Dosmar Banjarnahor. Dosmar Banjarnahor menduduki jabatan sebagai Kepala Daerah sebanyak 2 periode setelah memenangi dua kali Pemilukada.
Dosmar Banjarnahor diketahui sejak awal berkiprah di dunia politik adalah merupakan kader PDI Perjuangan. Pemilukada periode I dan periode II, PDI Perjuangan menjadi salah satu parpol yang paling berjasa membawanya ke kursi Bupati. Namun di akhir kepemimpinannya di Humbahas, secara mengejutkan, Dosmar malah berpindah partai menjadi kader Partai Golkar.
Apakah di pileg nanti Pantur Banjarnahor akan memiliki dampak Dosmar Banjarnahor effect? Sehingga orang-orang yang dekat dengan Dosmar Banjarnahor di internal Partai Golkar juga akan mendukung Pantur Banjarnahor secara masif? Tentu saja hasilnya patut ditunggu.
Lalu bagaimana dukungan keuangan dan dukungan koneksitas baik secara horizontal maupun secara vertikal? Karena hal ini turut memegang peranan penting. Jika caleg tidak bijak membelanjakan dana untuk kegiatan operasional di lapangan dan tidak pandai membina dan menjaga hubungan baik, maka niscaya dukungan secara kepartaian dan akar rumputnya akan sia-sia.
Meski sejumlah sokongan parpol dan materi sudah tersedia, lantas apakah perjalanan menuju kursi DPRD Sumut sudah terbuka lebar? Belum tentu, karena hasil survey publik juga sangat mendukung. Jadi haruslah objektif mengambil sikap sebelum sejumlah langkah dan materi terbuang sia-sia.
Tim Pantur Banjarnahor sebaiknya menggunakan atau melakukan survey secara berkala untuk mengetahui tren grafik turun naiknya elektabilitas dan publisitas sang caleg dan partainya dari rentang waktu yang berbeda. Jika hasilnya cenderung stagnan atau menaik dari waktu ke waktu, maka lebih baik mempertahankannya. Namun jika justru sebaliknya, lebih baik mundur daripada keuangan terkuras.
Mengukur berapa jaringan yang sudah di buat, terutama di tubuh kumpulan “marpadot”, sangat diperlukan. Kerja politik adalah kerja team work, bukan kerja pribadi, kerja jabatan, kerja profesional. Sehingga langkah dilakukan mengulang kembali mendapatkan kursi di DPRD akan tercapai.
Selamat berjuang Pantur Banjarnahor!
(Tinton)