Karo Multimedia Mabes Polri, Pelaku Kejahatan Dunia Maya Meski Akun Palsu Bisa Dilacak

0
35

Jakarta, independennews.com -Kepala Biro (Karo) Multimedia Mabes Polri, Brigjen Pol. Yanfitri Halimansyah mengatakan dunia digital sangat berbahaya dan beragam dengan senyapnya, dimana pengguna, penjual dan pembeli bersifat Anonymous.

kejahatan dunia maya atau cyber crime sangatlah beragam. Mulai dari kejahatan penipuan, berita hoax dan juga berita berkonten mengadu domba Dan ujaran kebencian.

Hal tersebut,  disampaikan Yanfitri ditengah Musyawarah Bersama Ikatan Wartawan Online bertema Membangun Peradaban Pada Era Digital, di Hotel Puri Mega, Jakarta, Jumat  8 september 2017.

Yanfitri mengaku, saat ini aparat penegak hukum terus berupaya meminimalisir potensi cyber crime melalui berbagai langkah seperti preventif (upaya-upaya pencegahan dan penanggulang) maupun upaya edukatif. Jika upaya edukasi ini tidak berhasil maka Kepolisian akan melakukan upaya penegakan hukum.

Mantan Wakapolda Kepri ini menjelaskan, upaya penegakan hukum dilakukan karena berita tersebut dinilai terlalu membahayakan persatuan dan kesatuan di tengah  masyarakat.

“Bahkan sudah menjatuhkan harga diri seseorang. Jadi jika menyangkut hak-hak orang, tentu hak-haknya orang lain itu membatasi hak-hak kita. Nah yang harus diwaspadai menggunakan media sosial yang tanpa menggunakan etika dan norma itu sangat memiliki resiko,” katanya

Yanfitri menegaskan bahwa pelaku mencoba untuk mengelabui petugas dengan memakai nama ataupun akun samaran, tetap saja masih bisa terlacak. Jadi kalau pake akun, tidak ada yang anonim, semuanya bisa kita lihat.

 

“Kalau dia mau tulis namanya siapa saja, pakai akun apa saja, semuanya bisa dilihat, tidak akan lari ke mana, karena kan jejak digitalnya tidak akan bisa dibohongi,” ungkapnya.

Sementara ahli Cibercrime atau Keamanan Informasi, Gildas Deograt Lumy, mengatakan bahwa kejahatan Siber bisa terintegrasi kepada Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (TPPT) dan Darkweb atau web gelap.

“TPPU (Money Laundering/pencucian uang), menyembunyikan sumber dana, TPPT (Terrorism Financing), menyembunyikan tujuan dana dan tidak semua TPPU adalah TPPT. Kebanyakan TPPT adalah TPPU,” ungkap dia.

Menurut Yanfitri,  bahwa Keberadaan UU ITE diharapkan semakin tajam dan fokus membasmi tindak kejahatan di dunia maya.

Bahkan, baru-baru ini kepolisian berhasil meringkus jaringan SARACEN yang komoditi utamanya memproduksi ujaran kebencian khususnya terkait SARA.

Kali ini, kepolisian berhasil meringkus jaringan serupa dengan nama akun instagram @warga_biasa. Apabila ditelisik isi postingannya sungguh menyedihkan, dimana hanya berupa cacian, hinaan, makian, propaganda, hasutan dan isu bohong berbau negatif.

Berkat adanya laporan informasi dari sejumlah masyarakat yang merasa terganggu dan risih perihal keberadaan akun tersebut, kepolisian melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap pelaku penyebar ujaran kebencian tersebut.

Pelaku berinisial DI (21) yang merupakan pemilik akun instagram @warga_biasa, mahasiswa kelahiran 1996, asal Kota Palembang, ” demikian kata Yafitri  pagi ini melalui whatapps yang diterima redaksi,  selasa (12/09/1017).

(red/08*)

LEAVE A REPLY