JTP Resmikan Pembangunan Huntara di Kecamatan Adiankoting, Taput

Independennews.com | Taput — Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) secara resmi memulai pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat korban bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Peresmian dilaksanakan pada Rabu (24/12/2025) sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan pascabencana.

Peresmian pembangunan Huntara dilakukan langsung oleh Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, didampingi Wakil Bupati Tapanuli Utara Denny Lumbantoruan serta Sekretaris Daerah Taput Henry Sitompul.

Lokasi pembangunan Huntara berada di atas lahan milik Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di Dusun Sibalanga Julu, Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara. Kawasan ini dipilih sebagai lokasi hunian sementara karena relatif aman serta dekat dengan wilayah asal warga terdampak.

Pembangunan Huntara merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Taput dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai wujud sinergi pemerintah daerah dan pusat dalam menangani dampak bencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah kecamatan di Taput. Kecamatan Adiankoting dan Parmonangan tercatat sebagai wilayah terdampak paling parah, bahkan menelan korban jiwa dan menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal.

Dalam keterangannya, Bupati JTP menegaskan bahwa pembangunan Huntara merupakan bentuk nyata kehadiran dan tanggung jawab pemerintah daerah terhadap masyarakat korban bencana.

“Pembangunan Huntara ini adalah bentuk tanggung jawab dan kepedulian Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara kepada masyarakat korban bencana. Ke depan, apabila aturan memungkinkan, hunian ini tidak tertutup kemungkinan dapat ditingkatkan statusnya menjadi hunian tetap dan menjadi hak milik warga,” ujar Bupati JTP.

Pada tahap awal, pemerintah membangun sebanyak 30 unit Huntara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 kepala keluarga (KK) telah terdata dan mendaftar sebagai calon penghuni. Setiap keluarga disiapkan lahan seluas 6 x 6 meter, dengan luas bangunan Huntara 4 x 6 meter.

Huntara dibangun menggunakan teknologi Rumah Instan Sehat dan Aman (RISHAM) yang dirancang tahan gempa dan ramah lingkungan. Satu unit Huntara terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang utama, serta satu kamar mandi yang telah dilengkapi dengan septic tank, sehingga memenuhi standar hunian layak dan sehat.

Pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada PT Haza Kontraktor dengan menggunakan struktur rangka sebagai tiang utama, termasuk kerangka dinding dan atap. Material dinding menggunakan calsiboard, sementara pintu menggunakan bahan PVC yang ringan, tahan cuaca, dan minim perawatan.

Pembangunan Huntara ditargetkan berlangsung paling cepat lima minggu dan maksimal delapan minggu, bergantung pada kondisi lapangan dan cuaca. Pemerintah menargetkan seluruh unit Huntara sudah dapat ditempati warga terdampak pada akhir Januari 2026.

Sementara itu, Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB, Agus, menegaskan bahwa program Huntara ini merupakan wujud kehadiran negara secara terpadu, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah.

“Kita akan membangun Huntara ini secepatnya. Targetnya akhir Januari sudah siap digunakan. Sebelum warga menempati Huntara, pemerintah juga memberikan tunjangan hunian sebesar Rp600 ribu per bulan per KK,” jelasnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan proses pembangunan telah berjalan, dengan para pekerja saat ini tengah menyelesaikan dua unit Huntara pertama. Peresmian pembangunan turut dihadiri jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Taput, perwakilan BNPB, Camat Adiankoting, Kepala Desa Sibalanga, serta masyarakat calon penerima Huntara.

Perwakilan warga penerima Huntara menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Pemkab Taput dan seluruh pihak yang terlibat. Mereka menilai pemerintah bergerak cepat dan responsif dalam menangani dampak bencana, mulai dari masa tanggap darurat hingga penyediaan hunian sementara yang layak dan aman.

(Maju Simanungkalit)

You might also like