Hutang Piutang Biaya Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Tebo Berujung di Meja Hijau

0
882

TEBO, INDEPENDENNEWS.COM-Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tebo, priode 2011-2016 yang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun lalu masih menyisahkan polemik di tubuh tim pemenangan dari pasangan Dr.H.Sukandar, S.Kom, M.Si dan Hamdi, S.Sos, M.Si, atau yang akrab di sapa Suka-Hamdi kala itu.

Diketahui Pasang Dr.H.
Sukandar, S.Kom, M.Si dan Hamdi, S.Sos, M.Si, akhirnya keluar sebagai pemenang pada Pilkada kala itu, dengan mengalahkan pasangan lainnya yakni pasangan Yopi Muthalip, MBA dan Sapto Hati, ST.

BACA JUGA : Dampak Pandemi Covid-19, 37 Tenaga Kerja di Lingga di PHK

Namun meski telah lama berlalu dan sukses menjabat sampai akhir masa jabatan memimpin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tebo 2011-2016, namun rupanya konflik di internal dalam tubuh tim relawan yang turut berjasa dalam perjuangan memenangkan pasangan Suka-Hamdi, hingga saat ini belum terselesaikan.

Bahkan pesoalan dalam tubuh tim pemenangan Suka-Hamdi berlanjut hingga keranah hukum.

Dimana salah seorang relawan menggugat Fahrul Asri, yang juga relawan anggota tim Suka-Hamdi di Pengadilan Negeri Tebo dalam gugatan perdata perkara hutang piutang senilai, 100 juta rupiah dan telah di bayar 30 juta rupiah pada tahun 2017. Sedangkan sisanya senilai 70 juta rupiah belum dibayarkan hingga saat ini.

BACA JUGA : Komisi II DPRD Kota Tanjungpinang Berjanji Bantu Pasarkan Produk Unggulan dari Lingga

Dalam panggilan Sidang yang pertama tergugat berhalangan hadir dikarenakan ada urusan keluarga yang menurut tergugat tidak dapat ditinggalkanya.

Dan pada sidang kedua pada hari Kamis (10/06/2020) sidang kembali di gelar dimana kedua pihak hadir. Penggugat hadir melaui kuasa hukumnya, sementara tergugat Fahrul Asri hadir bersama sejumlah orang yang diketahui adalah mantan anggota tim sukses Suka-Hamdi, yang mengetahui tentang persoalan hutang piutang yang sedang diperkarakan tersebut.

Dalam sidang perkara hutang piutang yang dipimpin Sandru Candu simanjuntak, SH terlihat menjelaskan kepada tergugat mengenai pokok perkara dan jenis gugatan.

Hakim menjelaskan kepada tergugat bahwa tergugat di gugat dalam perkara perdata hutang piutang senilai 70 juta rupiah dengan gugatan sederhana.

Selain itu Hakim juga bertanya kepada tergugat. “Apakah saudara tergugat mengerti dan tahu kenapa di gugat, dan apakah juga tergugat akan menggunakan pengacara, dan apakah juga tergugat akan menjawab yang di tuduhhkan kepada tergugat secara tertulis atau dengan lisan saja, silahkan saudara tergugat sampaikan dan jelaskan,” papar Hakim kepada tergugat.

Fahrul asri menjelaskan kepada hakim bahwa dirinya akan mewakili dirinya sendiri dalam persidangan ini dan akan menjawab dan menyampaikan secara lisan saja apa yang di sangkakan tergugat kepadanya.

“Saya akui saya berhutang, tetapi itu untuk biaya operasional dan kegiatan pemenangan Suka-Hamdi untuk menjadi Bupati Tebo 2011-2016 ketika itu, dan sudah saya bayar 10 juta melaui saudara Nuar, dan 20 juta sudah dibayar Bupati kala itu,” jelas tergugat.

BACA JUGA : Walikota Rudi Beri Izin Potong Hewan Kurban, Wajib Ikuti Protokol Kesehatan

Lanjut tergugat, “Karena sudah di bayar dan ketahui juga oleh Bupati dan orang-orang terdekat dari Bupati terpilih kala itu, maka saya merasa hutang tersebut sudah menjadi tanggung jawab Bupati untuk menyelesaikannya.

Setelah saat itu Bupati Tebo terpilih melakukan pembayaran 20 juta, selanjutnya saya sudah tidak lagi mengikuti dan mengetahui perkembangannya atau sisa hutang tersebut. Sebab sejak saat itu saya sudah tidak lagi berkomuniksi dengan rekan tim mau pun Bupati Tebo saat itu, dan hingga saat ini,” jelas tergugat.

Lebih jauh tergugat menjelaskan, “Setelah saya bayarkan 10 juta melalui Nuar, dan 20 juta oleh Bupati, saya tidak pernah tahu lagi soal hutang tersebut sebab saya merasa semua akan di selesaikan oleh Bupati. Karena hutang tersebut untuk kepentingan Bupati Tebo sendiri. Dan bukan untuk kepentingan keluarga saya.

Tidak sampai disitu, tergugat juga menjelaskan pada Hakim bahwa dirinya baru tahu hutang tersebut masih ada setelah menerima surat panggilan dari Pengadilan Negeri Tebo terkait gugatan dari penggugat.

Masih menurut tergugat, akibat dari adanya surat gugatan tersebut istri dan keluarga menjadi gaduh. Bahkan menurut tergugat saat ini istri tergugat sedang sakit karena shok dengan adanya gugatan yang ditujukan kepada dirinya.

Mendengar keterangan dari tergugat, sebelum menutup sidang Hakim meminta pengacara penggugat untuk menghadirkan penggugat untuk dipertemukan langsung kepada tergugagat pada sidang lanjutan, Kamis tanggal 18 Juni 2020.(Hrf)

Editor : Lukman Sumanjuntak

BACA JUGA : Pimpinan Organisasi Wartawan dan Pekerja Pers Halal Bi Halal di Kediaman Tokoh Pers Sumatra Utara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here