Independennews.com | Padang –
Suasana haru menyelimuti Aula Balai Kota Padang pada 20 Oktober 2025. Tepuk tangan, senyum bahagia, dan doa menggema saat Wali Kota Padang, Fadli Amran, resmi melantik dr. Lismawati R., M.Biomed., Sp.PA. sebagai Direktur RSUD dr. Rasidin Padang.
Di balik sorotan kamera dan ucapan selamat, wajah dr. Lismawati memancarkan ketenangan penuh makna — seolah menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan kebangkitan.
Lahir di Padang Pariaman dari keluarga sederhana, dr. Lismawati tumbuh dengan nilai kerja keras, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Sejak kecil, ia bermimpi menjadi dokter bukan karena ambisi, melainkan karena keinginan tulus untuk menolong mereka yang tak berdaya.
“Dulu saya sering ikut ibu ke puskesmas, melihat orang sakit datang dengan wajah cemas. Saya ingin membuat mereka tersenyum lagi,” kenangnya.
Dari ruang-ruang kecil puskesmas itulah pengabdian dimulai. Bagi dr. Lismawati, setiap pasien bukan sekadar angka di laporan medis, melainkan manusia dengan harapan, rasa sakit, dan cerita hidup yang perlu diperjuangkan.
Tahun 2017, kerja keras dan dedikasinya berbuah kepercayaan besar: ia diangkat sebagai Direktur RSUD Padang Pariaman.
Selama lima tahun (2017–2022) kepemimpinannya, rumah sakit tersebut mengalami banyak kemajuan — dari pembenahan pelayanan dan peningkatan kualitas SDM hingga pembangunan budaya kerja yang berbasis empati dan kedisiplinan.
Tahun 2022, dr. Lismawati kembali dipercaya memimpin sebagai Direktur RSUD Kota Padang Panjang. Sosoknya dikenal tegas namun penuh kasih, membawa perubahan nyata di dunia pelayanan kesehatan: rumah sakit menjadi lebih humanis, ramah, dan berdaya saing tinggi.
Namun, perjalanan tak selalu mulus.
Agustus 2025, masa jabatannya di RSUD Padang Panjang berakhir. Sebulan kemudian, ia ditempatkan sebagai staf di salah satu puskesmas. Banyak pihak menyebut keputusan itu bagian dari “gelombang politik” dalam birokrasi kesehatan daerah.
Namun, alih-alih larut dalam kekecewaan, dr. Lismawati kembali mengenakan jas putihnya setiap pagi, melayani pasien dengan senyum yang sama.
“Saya tidak kehilangan jabatan, saya hanya kembali ke akar pengabdian,” ujarnya lirih.
Baginya, ruang puskesmas bukan bentuk penurunan martabat, melainkan tempat menyucikan niat.
“Kalau seorang dokter kehilangan empati, apa artinya gelar panjang di belakang nama?” katanya pelan.
Takdir akhirnya berputar. Pada 20 Oktober 2025, Wali Kota Padang kembali memanggil namanya — kali ini untuk memimpin RSUD dr. Rasidin Padang, rumah sakit kebanggaan masyarakat kota.
“dr. Lismawati adalah sosok yang tahan ujian. Ia jatuh, tapi bangkit lebih kuat. Kita butuh pemimpin seperti beliau — berilmu, berintegritas, dan berhati lembut,” ujar Fadli Amran dalam sambutannya.
Senyum haru tersungging di wajah dr. Lismawati. Ia tak banyak bicara, hanya menunduk dan berbisik,
“Alhamdulillah… Tuhan menulis ulang takdir dengan tinta sabar.”
Keesokan harinya, tim Independennews.com berkesempatan mewawancarainya di ruang kerjanya yang baru. Di balik tumpukan berkas dan setangkai bunga melati di meja, dr. Lismawati tampak tenang — siap menata babak baru pengabdian.
Bagaimana perasaan Anda setelah kembali dipercaya memimpin RSUD dr. Rasidin?
“Rasanya seperti pulang. Ini bukan sekadar jabatan, tapi amanah. Saya ingin menjadikan rumah sakit ini tempat di mana pasien tidak hanya sembuh, tetapi juga merasa dihargai dan dicintai.”
Apa pelajaran terbesar dari perjalanan hidup Anda?
“Bahwa jabatan bisa hilang kapan saja, tapi pengabdian tidak akan pernah hilang. Saat saya kembali ke puskesmas, saya sadar bahwa pelayanan sejati justru terasa di tempat paling sederhana.”
Apa harapan Anda ke depan untuk RSUD dr. Rasidin?
“Saya ingin rumah sakit ini menjadi mercusuar harapan bagi masyarakat Kota Padang — tempat di mana ilmu, empati, dan inovasi berjalan beriringan. Teknologi boleh maju, tapi sentuhan manusia harus tetap hidup.”
Kini, dr. Lismawati kembali menakhodai kapal besar bernama RSUD dr. Rasidin Padang.
Dari puskesmas kecil hingga ruang direktur, langkahnya membuktikan satu hal: kekuatan seorang dokter tidak diukur dari jabatannya, melainkan dari ketulusan pengabdiannya.
Lorong-lorong rumah sakit mungkin akan kembali ramai, tapi di antara suara mesin medis dan langkah para perawat, akan selalu ada satu senyum yang meneduhkan — senyum seorang dokter yang pernah jatuh, dan kini bangkit dengan hati yang lebih kuat dari sebelumnya.
(Dioni / Independennews.com)