Diduga Developer PT Mattiro Kanja Lakukan Penipuan, Edu Silalahi Akan Buat Laporan ke Kepolisian

0
252
Foto : Edu Silalahi

Independennews.com, Batam – Salah seorang konsumen developer PT Mattiro Kanja, Edu Silalahi mengeluhkan tindakan semena-mena yang dipertontonkan oleh manajemen PT Mattiro Kanja, Chandra Ng terkait ruko miliknya.

Pasalnya, ruko miliknya yang beralamat di Plaza Buana telah dialihfungsikan menjadi gedung Sekolah Permata Harapan Indonesia tanpa sepengetahuannya.

“Dengan dialihfungsikannya ruko tersebut, saya tidak bisa mempergunakannya untuk pengembangan usaha,” ujarnya kepada media Independennews.com, Rabu (02/06/21) di Bilangan sekitaran Sukajadi, Batam Center.

Edu mengisahkan bahwa rencana awal pembelian ruko tersebut pada akhir tahun 2011 karena tertarik dengan ruko di Plaza tepatnya blok C No. 17, Plaza Buana, Barelang, Kelurahan Tembesi Kecamatan Sagulung.

“Saya tertarik membeli ruko itu karena ingin memiliki investasi tempat usaha, karena ruko tersebut dipromosikan untuk pasar menjual bahan sembako dan pasar basah,” terangnya.

Ia mengatakan bahwa beberapa tahun ruko tersebut berjalan sesuai kesepakatan. Namun pada Februari 2020 ruko tersebut dialihfungsikan tanpa sepengetahuannya.

“Pak Chandra kemudian meminta istri saya untuk menandatangani surat kesepakatan tanpa ada surat kuasa dari saya, karena waktu itu saya masih di Kalimantan untuk bekerja,” ujarnya.

Surat tersebut kata Edu, bertujuan untuk menggantikan ruko miliknya Blok C No. 17 ke Blok A No. 19, namun dengan kondisi yang sangat parah.

“Pak Chandra menyuruh isteri saya menandatangani surat itu tanpa melakukan peninjauan terlebih dahulu. Dan setelah dicek, kondisi ruko Blok A No. 19 tersebut sangat parah,” tuturnya.

Edu mengaku, awalnya Chandra berjanji untuk memperbaiki ruko yang rusak parah tersebut, namun sampai saat ini belum juga dilakukan perbaikan.

“Pak Chandra kemaren janji akan memperbaiki ruko tersebut, namun sampai saat ini belum juga diperbaiki,” akunya.

Edu juga mengaku kesal dengan sikap yang ditunjukkan Chandra, pasalnya selama setahun lebih dialihfungsikan, pembayaran listrik tetap ditangguhkan kepada dirinya.

“Dalam 1 tahun 4 bulan, pihak PT Mattiro Kanja telah memanfaatkan ruko Blok C No. 17 untuk di kontrakan ke gedung Sekolah Permata Harapan Indonesia, sementara beban tagihan listrik saya yang bayar,” kesalnya.

Merasa buntu, Edu kemudian menyerahkan masalah ini dengan memberikan surat kuasa kepada Gusmanedy Sibagariang yang merupakan pimpinan redaksi media ini.

Usai menerima surat kuasa tersebut, Gusman kemudian mengirimi Surat Permohonan Mediasi pertama (I) kepada Chandra melalui admin nya, Wella dengan harapan mendapat tanggapan untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

“Surat pertama yang saya berikan tidak mendapat tanggapan, lalu pada 11 Mei 2021 saya mengirimkan lagi surat yang kedua dan lagi-lagi tidak mendapat tanggapan,” jelasnya.

Kemudian Gusman kembali mengirimkan surat yang ke-3 (tiga) dengan harapan mendapat tanggapan dari Chandra untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Namun hingga surat ketiga juga tak mendapat tanggapan.

“Saya sangat menyayangkan sikap yang ditunjukkan oleh Chandra, saya menilai dengan tidak ditanggapinya ketiga surat yang disampaikan tersebut, Chandra telah menunjukkan sikap arogannya. Niat baik yang saya lakukan dianggapnya sepele,” imbuhnya.

Dengan sikap yang dipertontonkan oleh PT Mattiro Kanja Chandra, Gusman mengatakan akan membawa masalah ini ke ranah hukum.

” Saya akan mendampingi saudara Edu Silalahi melaporkan persoalan yang tengah dialami oleh Saudara Edu Silalahi, karena saya melihat ada unsur penipuan dalam pesoalan yang dihadapi saudara Edu Silalahi,” tegasnya (red/SOP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here