Renungan Firman Tuhan Kolose 3 : 17 “BERKATA DAN BERBUAT SESUAI KEHENDAK YESUS KRISTUS”

Foto : Ilustrasi

Kolose 3:17 “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”

Colossians 3:17
And whatever you do, whether in word or deed, do it all in the name of the Lord Jesus, giving thanks to God the Father through him.

Penjelasan ;

Pernyataan bijak mengatakan bahwa *fakta/bukti ucapan syukur atas kasih karunia Tuhan Allah dalam kehidupan kita ialah merespon positif terhadap setiap peristiwa (semua perkara) yang terjadi di dalam kehidupan kita. Maksud perkataan bijak di atas berhubung dengan tekanan ayat renungan ini, dapat digambarkan melalui cerita peristiwa di bawah ini.

Sepasang suami istri, pengkotbah pernah suatu saat mengunjungi restoran favorit mereka. Setelah memesan menu, seorang pelayan membawa baki berisi pesanan mereka. Tanpa disengaja baki itu tumpah dan isinya menimpa baju dan celana jas kesukaan sang suami yang saat itu dikenakannya.

Lalu sisuami yang sial itu tersenyum sambil berkata, “ohhh…tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja.” Si isteri turut membantu dan membereskan makanan dan minuman yang berceceran di lantai dan di tubuh suaminya, sambil tetap bersikap ramah.

Bukan hanya itu, mereka berdua menemui pemilik restoran, meminta agar ia tidak memecat pelayan yang baru saja bertindak ceroboh itu. Melihat tanggapan pasangan pengkotbah itu, sipelayan lalu membungkuk untuk meminta maaf dan berkata, “Saya sungguh-sungguh minta maaf. Saya baru bekerja di sini. Saya gugup dan merasa seperti bermimpi ketika bertemu langsung dengan Ibu/bapak. Saya selalu mengikuti khotbah Ibu di televisi setiap hari.”

Ya … kira-kira apa yang akan terjadi jika seandainya pasangan suami isteri pengkotbah itu bersikap sebaliknya (kasar)? Tentu semua khotbahnya yang didengar pelayan itu melalui televisi akan menjadi sia-sia.

Dan, si spelayan itu akan mengingat pasangan pengkotbah itu sebagai pengkhotbah yang munafik. Memang, sering Allah menguji integritas dan bobot perkataan kita melalui peristiwa yang tidak disangka-sangka.

Tanggapan kita terhadap peristiwa itu menunjukkan kualitas karakter kita yang sesungguhnya. Inilah yang diminta renungan ini yakni, “hendaklah kita melakukan segala sesuatu dengan mata yang tertuju kepada Allah, supaya kita tidak terpeleset ke dalam sikap yang memalukan.”

Inti tekanan dari renungan ini oleh pangajaran Paulus ialah “agar kita belajar mematikan diri dari segala tindakan/perilaku duniawi”.

Membuang segala bentuk kemarahan, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan dusta. Dengan kata lain Paulus sedang mengajarkan kita untuk menanggapi setiap persoalan dengan cara pandang positif. Mengenakan belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Ketika seseorang melakukan kesalahan, alih-alih mendendam kita mesti mengampuni, atas dasar pengampunan yang sudah lebih dulu kita terima dari Tuhan.

Saudara/i, lebih jelasnya renungan ini merupakan pengajaran rasul Paulus (ay. 15-17) kepada jemaat Kolose, dengan mengemukakan beberapa unsur persekutuan anak-anak Tuhan. Bahwa persekutuan anak-anak Tuhan (persekutuan orang pilihan yang dikuduskan/dikasihiNya):

“setiap pribadi harus mengalami pembaharuan mencakup segi moral, etika, dan spiritual yang telah diselamatkan, dengan meninggalkan kebiasaan hidup lama, sikap hidup yang buruk (ay. 5-9) ; mengenakan pakaian Hidup baru yakni Belas Kasihan, Kemurahan, Kerendahan Hati, Kelemah lembutan, dan Kesabaran, membuang sikap hidup lama yang masih menguasai diri, perlu menguji diri sendiri apakah sungguh pacaya pada keselamatan Tuhan Yesus ( 2 Kor 13:3-7 )”.

Persekutuan anak-anak Tuhan harus saling mengampuni seseorang dengan yang lain: membuang hal apa saja yang membuat sakit hati, tersinggung satu sama lain, oleh karena itu harus sabar terhadap yang lain dan mengampuni seorang akan yang lain.

“Hanya dengan sikap demikian persekutuan anak-anak di baharui dan damai Sejahtera sama seperti Tuhan telah mengampuni… kamu perbuat jugalah demikian“ (ayat 13c).

Tuhan Yesus sebagai teladan dalam pengampunan, maka persekutuan anak-anak Tuhan harus mengikuti jejakNya, Ampunilah mereka, Sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk23:24a).

Jika ingin membangun persekutuan anak-anak Tuhan, lakukanlah mengampuni seseorang akan yang lain, jangan menaruh dendam, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Sebagaimana dianjurkan Amsal 3:27-35: “Jangan menahan kebaikan dari orang yang berhak menerimanya, padahal engka mampu melakukannya”, Jangan menunda atau tangguhkan perbuatan kebaikan.

Sangat tepat pengantar ayat renungan ini, yakni: “hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya diam diantarakamu”

(ayat 16). Maka sebagai anak-anak Tuhan, harus terus menerus membaca Firman Tuhan. Sebab rasul Paulus juga menekankan, “bagamana kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat karena yang di ucapkan mulut meluap dari hati” (Matius 12 : 34-35 ).

“Firman Tuhan itu dekat kepadamu, yakni di dalam hatimu dan di dalam mututmu” (Roma 10: 8 + 10). Perkataan Kristus kita gunakan tiap hari dengan segala hikmat mengajar, menegur, seorang akan yang lain, dan sambil menyanyikan Mazmur, pujian dan nyanyian Rohani dan mengucap syukur pada Allah (ayat 16 ).

Hal itu terjadi jika benar-benar perkataan Krtstus diam di antara kita, berkuasa di antara kita akan tercipta persatuan yang kokoh. Tiap anggota tubuh wajib menjaga dan memelihara supaya hidup damai sejahtera kristus (ayat 15). Jadi, wujud dari transformasi hidup” ialah ”segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semua itu dalam nama Tuhan Yesus”* (ayat 17).

a). Transformasi hanya bisa terjadi bila terus menerus dengan Kristus, maka Transformasi semakin menyerupai Yesus Kristus. Artinya, bagaimana kita melihat: trasformasi itu di teruskan dan menetapkan tingkah laku yang mulia dan menumbuhkan karakter ilahi.

b). Sebagaimana karakter Yesus Kristus di praktekkannya sepanjang hidupnya dalam pelayananNya di dunia ini, sebagai Tuhan telah mengampuni, perbuatlah demikian (3:13c). Akhirnya, kenakanlah Kasih dan hendaklah Damai Sejahtera memerintah dalam hati (ayat 15). Menjadi seperti Kristus (Ef. 4:13, 1 Pet. 2:21).

c). Ketika diperhadapkan dengan seseorang yang pernah melukai hati kita, cobalah memandang mereka sebagai pribadi yang harus kita kasihi. Jika hal ini terasa sulit, cobalah kita melakukannya atas dasar kasih pada diri sendiri. Bukankah melepaskan pengampunan melegakan diri sendiri? Jika hal ini masih sulit, cobalah lakukan karena kita menaruh kasih kepada Tuhan! Bukankah Tuhan telah memberikan pengampunan atas kesalahan dan dosa kita yang begitu besar? Jika ternyata tidak bisa juga, tanyakan pada diri sendiri: Layakkah aku disebut pengikut Kristus? Amin

By : Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd

You might also like