Tri Rismaharini, Srikandi yang Membenahi Negeri

0
271
Foto: Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini (Sumber: Olahan Penulis)

Oleh: Pelangi Rizqia, Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, Universitas Indonesia.


IndependenNews.com | Tri Rismaharini, merupakan sebuah nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ibu Tri Rismaharini atau yang lebih familiar kita sapa dengan panggilan Ibu Risma ini lahir di Kediri, Jawa Timur pada tanggal 20 November 1961. Nama beliau mulai merebak ketika beliau menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya dan berhasil mempercantik sudut-sudut kota Surabaya dengan tanaman-tanaman yang asri. Kemudian nama Bu Risma semakin santer kita dengar semenjak terpilihnya beliau pada Pilkada Surabaya dan menjabat sebagai Walikota Surabaya selama dua periode kepemimpinan. Selama beliau menjabat sebagai Walikota Surabaya maupun ketika menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota, banyak sekali kinerja yang beliau jalankan untuk membenahi Kota Surabaya sekaligus membuat Kota Surabaya memperoleh cukup banyak penghargaan di kancah Internasional. Setelah banyaknya prestasi dan kemajuan yang beliau berikan kepada Kota Surabaya, akhirnya beliau dipercaya oleh Bapak Presiden Jokowi mengemban amanah sebagai Menteri Sosial pada periode ini.


Gaya Kepemimpinan Tri Rismaharini

Kepemimpinan merupakan sebuah proses dimana seorang pemimpin dapat menggerakkan anggotanya untuk mencapai tujuan atau target yang telah ditetapkan. Dalam kepemimpinan Ibu Risma yang berhasil menorehkan banyak prestasi dan juga membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi Kota Surabaya dapat terlihat bahwa beliau mengadopsi salah satu gaya kepemimpinan yang disebutkan oleh Tambunan (2015) yaitu kepemimpinan karismatik. Gaya kepemimpinan karismatik ini dapat terlihat kita Ibu Risma secara terang-terangan menegur jajaran Dinas Sosial Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang terkesan lamban dalam mendistribusikan bantuan sosial bagi warga yang sudah terdaftar dalam program keluarga harapan. Selain itu, Ibu Risma juga tidak segan untuk meluapkan amarahnya kepada salah satu petugas dinas sosial Gorontalo di hadapan Wakil Gubernur Gorontalo, Bapak Idris Rahim. Kemarahan Ibu Risma ini ditimbulkan karena adanya ketidaksinambungan data penerima bantuan sosial di Kota Gorontalo. Dua kasus yang telah disebutkan ini merupakan sedikit contoh dari banyaknya kemarahan ataupun teguran langsung yang beliau sampaikan di depan publik. Ketegasan yang beliau tampilkan di depan publik bahkan hampir sudah menjadi ciri khas dalam kepemimpinan beliau. Karisma yang ditunjukkan beliau ini memang tidak jarang menuai pro kontra dari masyarakat, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ketegasan yang beliau terapkan dalam kepemimpinannya ini dapat menggerakkan anggotanya untuk dapat bekerja lebih baik lagi, terutama dalam hal memberikan pelayanan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.


Selain mengadopsi gaya kepemimpinan yang karismatik, Ibu Risma juga dapat dikatakan sebagai bureaucratic entrepreneur. bureaucratic entrepreneur sendiri menurut Teske dan Schneider (1994) didefinisikan sebagai seseorang yang berperan penting dalam memperbaharui ataupun mengubah sebuah kebijakan sekaligus mampu melahirkan program-program pemerintah yang lebih efisien. Bureaucratic entrepreneur ini terlihat dalam kepemimpinan Ibu Risma terutama ketika beliau menjabat sebagai Walikota Surabaya dan berhasil membawa banyak perubahan ke arah yang lebih baik bagi Kota Surabaya. Salah satu contoh konkret bahwa beliau merupakan seorang bureaucratic entrepreneur adalah ketika Ibu Risma melokalisasi tempat atau wilayah prostitusi yang sudah ada sejak 1967 di Surabaya, yaitu Gang Dolly. Beliau melokalisasi wilayah ini karena merasa miris dengan apa yang terjadi di daerah tersebut. Di wilayah tersebut beliau melihat bagaimana seorang wanita berusia senja yang masih bekerja sebagai PSK dan hanya dibayar seadanya. Selain itu yang menjadi pendorong Bu Risma untuk melokalisasi wilayah ini adalah karena memikirkan bagaimana kegiatan-kegiatan di wilayah tersebut dapat mempengaruhi psikologis dari anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut dan sehari-harinya harus menyaksikan kegiatan yang tidak sepantasnya disaksikan oleh anak-anak di bawah umur. Dari dua alasan tersebut Bu Risma semakin yakin untuk melokalisasi wilayah tersebut. Penutupan wilayah Dolly ini bukanlah sesuatu yang mudah. Terdapat beberapa oknum yang biasa memperoleh keuntungan dari bisnis yang berjalan di Gang Dolly ini tidak setuju akan rencana penutupan wilayah tersebut. Meskipun begitu, Bu Risma tetap berhasil melokalisasi Gang Dolly ini serta memberikan perbekalan bagi para PSK berupa penyuluhan dan juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat menjadi ladang pendapatan baru. Agar kedepannya mereka dapat tetap memiliki penghasilan dan pekerjaan yang lebih layak.


Teori Kepemimpinan Tri Rismaharini

Ibu Tri Rismaharini dalam kepemimpinannya sangat bertekad untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Baik itu ketika beliau menjadi Walikota Surabaya hingga ketika beliau menjabat sebagai Menteri Sosial. Tekad kuat yang dimiliki Bu Risma untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera sejalan dengan salah satu teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh Robert Greanleaf (1970), yaitu servant theory atau kepemimpinan yang berfokus terhadap pemberian pelayanan. Servant theory ini terlihat ketika Bu Risma berusaha untuk menyediakan lahan pekerjaan baru dan memberikan penyuluhan bagi para PSK di Gang Dolly sebagai bentuk kepeduliannya terhadap warga di wilayah tersebut. Selain itu Ibu Risma juga menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat, ketika beliau memberikan pelatihan bagi para pengemis di Surabaya agar mampu memperoleh pekerjaan yang lebih layak serta memberikan gaji sebesar Rp 2.500.000 kepada pengamen yang dijadikan musisi jalanan di satu titik tertentu. Dari kedua contoh tersebut sudah dapat terlihat bahwa Ibu Risma sangat berupaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang sejalan dengan servant theory ini.

Referensi:
Ferdinandito, A., & Haryani, T. N. (2021). Gaya Kepemimpinan Servant Leadership dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik. Jurnal Mahasiswa Wacana Publik , I, 190-202.
Maichal, & Urbanus, C. B. (2014). Karakteristik Bureaucratic Entrepreneur pada Walikota Surabaya. Entrepreneur dan Entrepreneurship , III, 13-24.
Pitasari, E. (2018). Kisah, Perjuangan, & Inspirasi Tri Rismaharini. Yogyakarta: Checklist.
Ramdhani, L. E. (2015). Fenomena Kepemimpinan Fenomenal. Jurnal Borneo Administrator , XI, 268-296.

Riwayat Hidup Penulis :
Nama : Pelangi Rizqia
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 02 Desember 2002
Alamat : JL. M1 NO.2A RT 010 RW 03, Tebet, Jakarta Selatan, 12830
Status sebagai Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, Universitas Indonesia
Alamat email : pelangi.rizqia@ui.ac.id
Nomor HP : 089521152205

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here