Renungan IBRANI 6 : 10 ‘ALLAH ITU ADIL PADA SEMUA HAL PERKARA KEHIDUPAN’

0
242

Ibrani 6:10

*Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap namaNya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.*

Hebrews 6:10
* God is not unjust; he will not forget your work and the love you have shown him as you have helped his people and continue to help them.*

Heber 6:10
*Di bagasan lomo ni rohana i gabe angka na badia hita, binahen ni daging ni Jesus Kristus, naung pinelehonna, na sahali i.*

Untuk menekankan makna pesan renungan ini, ada dua contoh dapat dijelaskan, yakni:

a). “Mungkin” … keluhan terbesar banyak pelayan ketika di tengah masih aktif melayani jemaat ialah sering berkata sendiri dalam hatinya, “aku sudah bertahun-tahun (sejak lama) melayani jemaat Tuhan, mengapa hidupku tetap seperti ini yakni penuh dengan masalah dan tidak pernah mengalami perubahan apa-apa?”

Sedangkan sebagian orang lain (umumnya warga jemaat) yang tidak terlibat pada pelayanan jemaat, hidupnya lebih sejahtera dan terlihat tidak pernah berkekurangan (selalu berkecukupan kebutuhan/uang)? Lebih baiklah tidak melayani jemaat dan beralih professi menjadi pebisnis, atau (sambil melayani jemaat) setidaknya memikirkan bisnis/usaha sampingan lain? “Lebih baiklah berbisnis (mencari uang) daripada melayani jemaat Tuhan”, (pikirnya dalam hati).

Banyak pelayan berpikir bahwa Tuhan menutup mata atau melupakan segala jerih payah/pekerjaan (pelayanan) yang dilakukan untuk Tuhan. Banyak pelayan menjadi lemah, tidak lagi bersemangat melayani jemaat Tuhan (huria) dan secara perlahan “api semangat (Roh)” itu redup dan akhirnya menjadi benar-benar padam.

Bila gambaran ini mewakili sebagian besar orang Kristen/pelayan, maka renungan hari ini menegaskan bahwa Tuhan tidak diam saja di tengah keluhan/kejenuhan kita melayani Dia, dan bahwa Tuhan akan memperhitungkan segala yang kita lakukan untuk kemuliaan namaNya.

Apa pun yang kita lakukan dan korbankan pada pelayanan, “tidak satu pun yang terlewat dalam pandanganNya”. Amsal (14:23a) berkata, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan”. Inilah yang memotivasi Abraham tetap dapat menunjukkan kesungguhannya dan terus berpegang teguh pada pengharapan, di tengah melakukan perintah Tuhan kepadanya, *“ia menanti janji Tuhan dengan sabar, dan pada waktuNya (waktu Tuhan = Kairos) ia memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan baginya.*

b). Ada (dan mungkin banyak) orang yang pemikirannya, sikapnya, tindakannya menunjukkan ketidakpastian hidup. Seperti terlihat dari banyaknya manusia di sekitar kita yang meyakini dan meminta pertolongan dukun dan lain-lain karena mengalami kekosongan hati/harapan, krisis cita–cita/hati, putus asa, kehilangan semangat, *mengalami stress/depresi, yang tentunya semua itu menunjuk pada tidak dimilikinya kepastian hidup*.

Banyak orang lebih senang “mengambil jalan pintas“ dengan melakukan manipulasi, korupsi dan berbagai bentuk kejahatan yang lain, dan hal ini juga disebabkan oleh tidak dimilikinya kepastian hidup. Melihat kenyataan seperti itu, pertanyaan dan pergumulan yang lebih penting adalah: “benarkah hidup dan kehidupan itu serba tidak pasti?”

Nats renungan ini mengingatkan dan mendorong kita untuk menyadari bahwa di dalam menghadapi kenyataan kehidupan dengan ketidakpastiannya, perlu dipikirkan sikap dan tindakan benar dan tepat yang berpadanan dengan kehendak Tuhan dan mendorong kita bersikap optimis, aktif dan kreatif dalam menghadapi ketidakpastian itu sehingga kita tetap percaya akan penyertaan dan pertolongan Tuhan (Yesaya 41: 10).

Kehidupan orang Kristen yang normal adalah ketika ia menyadari panggilan Tuhan dalam hidupnya. Salah satu tujuan Tuhan memanggil kita adalah untuk melayani Dia. Jika sampai saat ini kita masih bersikap acuh tak acuh/apatis (sama sekali tidak terbeban untuk terlibat dalam pelayanan atau mendukung pekerjaan Tuhan), itu artinya kehidupan kekristenan kita ‘tidak normal’.

Sebab, bagi orang percaya, pelayanan seharusnya menjadi gaya hidup, bukan sekedar pilihan atau alternatif. Sebagai pengikut Kristus seharusnya kita memiliki hati yang terbeban untuk melayani, baik itu melayani sesama, terlebih-lebih melayani Tuhan. Sebab, Tuhan Yesus telah memberikan teladan hidup bahwa Ia datang ke dunia adalah untuk melayani dan memberikan hidup-Nya.

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28)

*Hati”*, adalah pusat keinginan, harapan, cita-cita, ambisi, impian, dan motivasi kita. Sikap hati kita dalam melakukan sesuatu akan menentukan hasil pekerjaan yang kita kerjakan.

Kita bisa saja tampak aktif dalam pelayanan, tetapi kalau hati kita tidak tertuju kepada Tuhan maka pelayanan yang kita lakukan tersebut tidak lebih dari sekedar rutinitas belaka, “sebab Tuhan menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.”

(1 Tawarikh 28:9). Sikap hati yang benar adalah modal dasar untuk melayani Tuhan. Hidup harus terus berjalan, meskipun berbagai kesulitan menghadang. Hidup harus terus bergulir sekalipun sesekali tergelincir.

Itu semua dimungkinkan terjadi apabila kita masih memiliki pengharapan dalam kehidupannya. Harapan itu yang membuat orang memiliki keyakinan bahwa masih ada kesempatan untuk suatu perubahan.

Bisa jadi keyakinan kita terhadap Kristus mulai luntur, dan bahkan kita mulai terpikat pada ajaran lain. Waspadalah agar kita tidak kehilangan iman dan pengharapan, melainkan masing-masing bertekun dalam kesungguhan hati untuk menjadikan pengharapan kepada Kristus sebagai kepastian keselamatan.

Akhirnya, bahwa dalam pemeliharaan/penjagaan bagi mereka yang mengeluhkan kehidupannya maka dalam Ibrani 6:10 ini disebutkan “kesetiaan dan keadilan Tuhan Allah”. Tuhan Allah tidak pernah melupakan umatNya (ay 10a). Karena umatNya adalah orang-orang yang ia maksudkan/tujukan ialah sebagai pemilik dari Perjanjian Kasih karunia Tuhan, dan Dia hanya berkenaan kepada umatNya.

Sejak ada perjanjian tentang kesetiaan dan kebenaran Allah untuk menjaga/memelihara orang-orangNya dari kemurtadan dan kehancuran; maka hubungan yang setara bagi semua orang mengisyaratkan bahwa kebenaran atau kesetiaan Allah dengan cara apapun dijanjikan memang hanya untuk pemeliharaan/penjagaanNya bagi mereka. Amin (sikpan sihombing)

*Tetap semangat dan selalu dalam Doa*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.