Independennews.com | Toba – Penetapan tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap wartawan oleh dua orang terlapor berinisial LN dan PN hingga kini belum juga dilakukan oleh Polres Toba. Hal ini menimbulkan kekecewaan dari kalangan pers, khususnya dari Jurnalismedia Siber (PJS) Toba.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PJS Kabupaten Toba, Berlin, menyampaikan kekecewaannya melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Selasa (1/7/2025).
“Saya sangat kecewa terhadap Polres Toba atas lambannya penetapan tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap rekan kami, SJM, yang merupakan Sekretaris PJS Toba dan wartawan media Wartatoday,” ungkap Berlin.
Menurutnya, hingga saat ini kasus masih berada dalam tahap penyelidikan dan baru sebatas pemanggilan terhadap terduga pelaku. Akibatnya, kedua terlapor masih bebas tanpa status hukum yang jelas, meski dugaan kekerasan telah dilaporkan sejak beberapa waktu lalu.
“Kedua pelaku masih melenggang bebas setelah melakukan kekerasan terhadap wartawan, dan belum ada kejelasan dari pihak kepolisian,” tegas Berlin.
Lebih lanjut, ia mensinyalir bahwa proses hukum berjalan tidak transparan. Bahkan, menurutnya, terdapat dugaan bahwa kasus ini mulai “masuk angin” karena adanya upaya negosiasi dengan korban menggunakan “angka cantik” agar kasus tidak diproses secara tuntas.
“Kedua terlapor, LN dan PN, diketahui telah melakukan pertemuan dengan korban, SJM, di Kota Pematang Siantar pada Senin, 30 Juni 2025. Pertemuan itu disebut dimediasi oleh oknum aparat kepolisian,” jelasnya.
Berlin juga menegaskan bahwa pihaknya akan melayangkan surat resmi kepada Propam Polda Sumut dan Kapolda Sumut untuk menindaklanjuti kasus ini, sekaligus meminta penindakan terhadap aparat yang terlibat.
“Kami mendesak Propam Polda untuk memeriksa oknum-oknum yang patut diduga tidak profesional, termasuk yang diduga terlibat dalam pembiaran aktivitas Galian C ilegal di Silamosik,” katanya.
Sebagai penutup, Berlin mengungkapkan bahwa aktivitas Galian C ilegal berupa tanah uruk yang berlangsung di Desa Silamosik, Kecamatan Porsea, selama empat bulan terakhir, patut dicurigai mendapat “perlindungan” dari oknum aparat yang bermain mata dengan pengusaha,”imbuhnya (red)