INDEPENDENNEWS.COM | SUMATERA UTARA — Seruan profetik para pemimpin Gereja tentang kerusakan alam akibat eksploitasi hutan yang dilakukan PT Toba Pulp Lestari (TPL) selama bertahun-tahun akhirnya menampakkan kebenarannya. Peringatan yang berulang—bahkan disebut sebagai pesan kenabian—tidak digubris oleh pemerintah pusat, meski suara moral masyarakat adat, tokoh gereja, dan aktivis lingkungan terus menggema agar perusahaan tersebut ditutup.
Hari ini, alam seolah menjawab sendiri. Serangkaian bencana di wilayah Tapanuli Utara, yang kemudian merembet ke Tapanuli Tengah, bukan lagi fenomena biasa. Luapan air, banjir, longsor, dan rusaknya ekosistem hulu–hilir menjadi bukti telanjang bahwa hutan ekologis dari pembabatan hutan kini ditagih secara brutal.
Para pemimpin gerejawi sudah berkali-kali memperingatkan bahwa kerusakan hutan di kawasan Tapanuli adalah bom waktu. Mereka menyebutnya tanda zaman—peringatan keras agar manusia menghentikan praktik perusakan alam. Namun seruan tersebut diabaikan, dianggap berlebihan, bahkan dipinggirkan oleh kepentingan industri.
Ironisnya, suara gereja justru sejalan dengan sikap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Gubernur Bobby Nasution sendiri secara terbuka memberi sinyal mendukung penghentian izin PT TPL, menyebut perusahaan tersebut gagal menjaga keseimbangan ekologis dan telah menimbulkan konflik sosial berkepanjangan.
Kini, setelah bencana demi bencana datang bertubi-tubi, publik kembali bertanya:
Berapa banyak lagi korban, kerugian, dan kerusakan yang harus terjadi sebelum pemerintah pusat mengambil langkah tegas menutup PT TPL di Porsea, Kabupaten Toba?
Alam sudah berteriak.
Gereja sudah bersuara.
Rakyat sudah menderita.
Tidak ada lagi alasan untuk menunda.
Penutupan PT TPL bukan hanya tuntutan ekologis—tetapi tuntutan moral dan kemanusiaan.