Independennews.com | Padang — Universitas Negeri Padang (UNP) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus pelopor gerakan literasi di Sumatera Barat melalui gelaran Ngaji Literasi x Semesta Buku 2025. Bekerja sama dengan Gramedia, kegiatan yang berlangsung pada 16–21 September 2025 di Auditorium UNP ini menjadi magnet bagi para pecinta buku dari berbagai daerah.
Puncak antusiasme terjadi pada hari keempat ketika UNP menghadirkan penulis nasional Jombang Santani Khairen, atau yang lebih dikenal dengan J.S. Khairen, pengarang muda inspiratif yang melejit lewat karya best seller Dompet Ayah Sepatu Ibu. Seminar bertajuk “Menulis dari Akar: Syair, Syiar, dan Sastra Masa Kini” itu disambut dengan antusias luar biasa. Auditorium dipadati mahasiswa dari berbagai kampus, menegaskan bahwa UNP semakin diakui sebagai pusat kegiatan literasi berkualitas di Indonesia.
Dalam materinya, J.S. Khairen memukau peserta melalui kisah-kisah personal yang menjadi fondasi lahirnya novel Dompet Ayah Sepatu Ibu. Ia mengungkap bahwa cerita tersebut terinspirasi dari perjalanan hidup kedua orang tuanya.
“Pengalaman mereka sangat berkesan, lalu saya tuangkan dalam cerita,” ujarnya, disambut tepuk tangan panjang peserta.
Penulis kelahiran Ranah Minang itu menjelaskan bahwa novel ini mengangkat perjuangan anak-anak miskin di Sumatera Barat yang tidak menyerah pada keadaan. Tokoh Asrul dan Zeena menjadi simbol tekad anak muda yang menembus batas keterbatasan melalui pendidikan—sebuah pesan yang selaras dengan misi UNP dalam menghadirkan pendidikan yang memerdekakan.
Khairen memaparkan bagaimana Asrul bekerja sebagai wartawan dan tukang kliping untuk membantu ibunya, sementara Zeena berjualan jagung sejak subuh sebelum berangkat sekolah.
“Keduanya melawan keterbatasan dengan tekad kuat,” jelasnya.
Novel tersebut menghadirkan 25 episode penuh nilai moral, yang menurut Khairen, ditulis untuk mengetuk kesadaran generasi muda bahwa pendidikan adalah jalan paling bermartabat untuk mengubah nasib.
Para peserta tampak terhanyut. Dina, salah seorang mahasiswa, mengaku sangat terinspirasi.
“Cerita ini membuat saya percaya bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia,” ungkapnya.
Kehadiran J.S. Khairen tidak hanya memperkaya wawasan sastra mahasiswa, tetapi juga membangkitkan keberanian untuk bermimpi dan berkarya. UNP kembali menunjukkan dirinya sebagai rumah besar literasi, tempat tokoh-tokoh nasional hadir untuk memperluas cakrawala intelektual generasi muda.
Menutup sesi, Khairen menyampaikan pesan yang menggugah:
“Tidak ada cita-cita yang mustahil jika kita berusaha keras. Semangat itu yang ingin saya tanamkan lewat karya.”
Pesan tersebut menjadi penegas bahwa UNP terus berada di garis depan dalam menumbuhkan budaya literasi yang mencerdaskan, membangun karakter, dan memantik harapan baru bagi bangsa.
(Dioni)