Namun, dalam beberapa tahun terakhir, popularitas ulos tenun tangan mulai menurun seiring maraknya ulos hasil pabrikan dan printer yang dijual dengan harga lebih murah. Kondisi ini membuat para pengrajin ulos tradisional kesulitan menjual hasil karyanya.
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) berkomitmen mengangkat kembali martabat ulos gedogan sebagai ikon identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Ketua Dekranasda Taput, Neny Angelina Purba, menggandeng 11 pengusaha ulos untuk meningkatkan kualitas dan inovasi motif ulos khas Taput.
Dalam momentum Hari Ulos Nasional, Jumat (17/10/2025), Neny memperkenalkan berbagai inovasi pemanfaatan ulos, baik dari sisi desain motif maupun penggunaan dalam busana modern seperti jas, outer, dan pakaian harian.

Siswa siswa peragaan Busana tenunan Ulos Pada perayaan Hari Ulos Nasional 17/10/2025
“Kita patut berbangga dengan generasi muda Taput yang terus melestarikan warisan leluhur. Saya mengajak seluruh ASN dan masyarakat untuk bangga menggunakan tenun gedogan, bukan hasil mesin. Ini karya kita sendiri, kebanggaan yang belum tentu dimiliki kabupaten lain di Sumatera Utara,” ujar Neny Angelina Purba.
Neny juga menyebutkan dukungan sejumlah lembaga keuangan seperti Bank Indonesia, BNI, dan Bank Sumut dalam upaya meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing ulos Taput.
Sementara itu, Sekretaris Dekranasda Taput, Pardomuan Hutabarat, menambahkan bahwa pihaknya telah menempuh berbagai strategi agar ulos tetap eksis di tengah gempuran zaman. Salah satunya dengan mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk berbagai motif khas seperti Ulos Ragidup, Namarsimata, Mangiring, Jugia, dan Arguan Muara. Sertifikat HKI tersebut telah resmi diserahkan pada HUT Kabupaten Taput, 5 Oktober 2025.

Vera Sinaga pengusaha Ulos di Kab.Taput bersama sekretaris Dekranasda Taput
Selain perlindungan hukum, pembinaan terhadap para penenun juga menjadi fokus utama. Pembinaan dilakukan mulai dari peningkatan kualitas benang dan pewarna, desain motif, kombinasi warna, hingga kreativitas dalam menciptakan produk turunan seperti busana, jas, outer, dan aksesori berbahan ulos.
“Dari hasil survei kami, justru ulos gedogan memiliki nilai jual tinggi. Beberapa pengusaha bisa menjualnya hingga Rp8 juta bahkan Rp12 juta per lembar. Dengan pembinaan yang baik, nilainya bisa meningkat lebih tinggi,” jelas Pardomuan.
Ia menambahkan, saat ini terdapat sekitar 6.500 kepala keluarga di Taput yang menggantungkan hidup dari menenun ulos, namun baru sekitar 1.500 penenun yang mendapat pembinaan langsung dari pengusaha lokal.

Sebagai langkah strategis, Dekranasda bersama Pemkab Taput juga meluncurkan program “Beta Marulos”, yaitu gerakan mengenakan motif ulos untuk pakaian ASN dan pelajar SD–SMP di Taput. Program ini diperkuat dengan Surat Edaran Bupati Taput Dr. Jonius Taripar Parsaoran (JTP) Hutabarat tanggal 17 Oktober 2025 yang mewajibkan penggunaan pakaian khas daerah berbahan tenun ulos gedogan setiap hari Kamis bagi seluruh ASN.
Terpisah, Vera Sinaga, pemilik Vera Galeri Ulos, menyebut bahwa harga ulos tenun sejatinya stabil, namun kualitas dan disiplin penenun menjadi kunci agar nilainya terus meningkat.
“Yang paling penting adalah kualitas. Penenun harus mengikuti selera pasar — dari kombinasi warna, motif, hingga promosi online. Tapi juga harus disiplin. Banyak penenun yang kurang fokus karena faktor ekonomi, sehingga pembinaan SDM sangat penting,” ujar Vera.
Ia menambahkan, pelatihan tentang Harga Pokok Penjualan (HPP) juga perlu digiatkan agar penenun memahami perbandingan biaya bahan dan harga jual, serta menjaga standar ukuran dan simetri hasil tenunan.
“Selendang harus simetris dan tegak lurus. Kalau tidak, harga otomatis turun. Pemerintah dan Dekranasda harus terus mendorong pelatihan pewarnaan alami dan peningkatan kualitas tenun,” tutup Vera.
(Galery Foto/ Maju Simanungkalit)




