Independennews.com | Banyuwangi – Kami apresiasi peran seniman dan budayawan yang cukup signifikan dalam mendukung pengembangan pariwisata di Banyuwangi,” kata Ipuk.
Ipuk mengatakan, kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi hanya bisa bertahan atas kerja keras para pelakunya. Seniman dan budayawan juga punya andil dalam nguri-uri tradisi Banyuwangi. Menurutnya, tanpa adanya mereka tentu saja para generasi penerus Banyuwangi tak mengenal seni budaya daerah mereka.
“Karena berkat seniman dan budayawanlah anak-anak masih bisa berpartisipasi dalam pengembangan seni dan budaya di Banyuwangi,” ucapnya.
Tak sampai disitu, ketika Banyuwangi mengalami kemajuan di bidang pariwisata, Ipuk berharap, hal tersebut tidak lantas merubah kehidupan atau kebiasaan masyarakat yang timbul akibat kontaminasi oleh budaya luar.
Untuk itu, Ipuk juga berpesan, kepada Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi untuk konsisten mengapresiasi pencapaian pelaku seni budaya dan jasa wisata di Banyuwangi.
“Maka kalau seniman dan budayawan tidak mengantisipasi hal itu, kita akan tergerus dengan budaya yang dibawa oleh orang luar, baik luar Banyuwangi maupun luar negara,” tandasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudpar Banyuwangi Taufik Rohman menerangkan, untuk bantuan tali asih yang diberikan ke seniman, budayawan, dan pelaku jasa wisata sebanyak Rp.500.000, per masing-masing orang.
Bantuan ini, masih Taufik Rohman, memang rutin diberikan setiap tahunya pada saat momen ramadan. Ia juga menegaskan, tali asih tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah Banyuwangi, terhadap kerja keras para seniman dan budayawan dalam mengembangkan tradisi di Banyuwangi.
“Kekayaan kesenian dan kebudayaan yang kita miliki inilah yang bisa membuat wisata di Banyuwangi berkembang seperti sekarang,” tutur Taufik. (15/5). (Har/*)