Libur Panjang Selama 4 Hari Di Manfaatkan Para Pendaki Untuk Datang Ke Gunung Raung

Independennews.com | Banyuwangi – Long weekend dimanfaatkan betul oleh para penggila pendakian gunung. Selama liburan kenaikan Isa Almasih, ratusan pendaki dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan untuk naik ke Gunung Raung, Minggu(12/05/2024).

Selama libur panjang sejak Kamis (09/05/2024) hingga Minggu (12/05/2024), tercatat ada ratusan pendaki yang naik ke gunung berapi dengan ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu.

“Ada sekitar 500 pendaki,” kata petugas Sekretariat Pendakian Gunung Raung di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Eko Wahyudianto.

Menurut Eko, ratusan pendaki gunung itu tidak hanya berasal dari Bumi Blambangan, tetapi juga banyak dari berbagai penjuru kota di Indonesia

Puluhan pendaki di pos pendakian Gunung Raung jalur Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru Minggu (12/05/2024).

“Long weekend seperti ini paling banyak yang datang pendaki lokal, memanfaatkan waktu libur yang ada,” katanya.

Meski mayoritas pendaki lokal, terang dia, pendaki yang datang itu juga ada sejumlah warga negara asing (WNA) yang mencoba menaklukan puncak Gunung Raung. “Kemarin ada dua WNA dari Belanda yang ikut mendaki,” ucapnya.

Waktu yang paling digemari para pendaki lokal untuk mencapai puncak Gunung Raung, jelas dia, itu saat liburan, seperti cuti kerja, libur nasional, atau hari kemerdekaan.

“Pendaki lokal paling banyak memilih saat hari kemerdekaan, karena nanti bisa foto di atas puncak dengan membawa bendera merah putih,” cetusnya.Beda lagi dengan waktu yang digemari para pendaki dari luar negeri. Para bule biasanya memilih mendaki Gunung Raung saat musim kemarau. “Pendaki dari manca negara pasti bertanya musim dulu sebelum naik,” katanya.

Para pendaki dari luar negeri itu menimbang resiko yang mungkin terjadi, ketika mendaki gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa itu. “Sampai saat ini paling banyak pendaki dari Malaysia, yang lainnya biasanya dari Prancis dan Singapura,” paparnya.

Saat musim hujan, jelas dia, jumlah pendaki dari manca negara tidak ada. Dan itu membuat jumlah pendaki di Gunung Raung mengalami penurunan“Musim penghujan beresiko untuk mendaki, jumlah trip berkurang,” lanjutnya.

Eko menyebut, Gunung Raung itu lokasi pendakian terekstrem di Pulau Jawa. Oleh karena itu, saat akan mendaki sarana dan prasarana harus dipenuhi. “Jika di Gunung Semeru dan Rinjani tidak perlu alat clambing, kalau di Gunung Raung harus memakai alat clambing lengkap,” jelasnya.(Her/*)

You might also like