Independennews.com | Solok – Di bawah langit senja yang lembut menaungi perbukitan, bunyi gandang tasa mulai menggema. Talempong berpacu memainkan nada-nada yang menggetarkan hati, seolah membangunkan kerinduan pada kampung halaman. Dari kejauhan tampak barisan warga berpakaian adat berjalan perlahan, mengusung tandu berhias — Sijujuang namanya. Di atas tandu itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehormatan, rasa syukur, dan kebersamaan yang hidup di dada setiap anak Nagari Bukit Kandung, Kamis (9/10).
Itulah “Arak Sijujuang”, tradisi tua yang kini kembali dihidupkan oleh masyarakat Nagari Bukit Kandung dalam gelaran Festival 5 Danau di Muaro Pingai. Sebuah persembahan bukan hanya untuk ditonton, tetapi untuk menyapa ingatan, membangkitkan kembali denyut adat yang nyaris terlupakan di tengah deru modernisasi.
Menurut penuturan para niniak mamak, dahulu Arak Sijujuang digelar saat nagari ingin mengungkapkan rasa syukur — pada alek besar, pengangkatan penghulu, atau penyambutan tamu kehormatan. Warga berarak mengelilingi kampung, mengiringi tandu Sijujuang yang dihias kain songket, bunga, serta berbagai simbol adat Minangkabau.
Bagi masyarakat Bukit Kandung, Sijujuang bukan benda mati, melainkan saksi hidup tentang rasa hormat, cinta kampung, dan semangat gotong royong yang menjadi urat nadi kehidupan nagari.
“Dulu, kalau Arak Sijujuang digelar, kampung seperti bernafas bersama,” tutur seorang niniak mamak dengan nada lirih. “Anak muda menyiapkan iringan, bundo kanduang menghias dulang, dan para tetua memanjatkan doa. Itu bukan sekadar acara — itu cara kami menyatukan hati.”
Kini, melalui Festival 5 Danau, Nagari Bukit Kandung menyalakan kembali bara lama itu. Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis akar budaya, masyarakat memilih untuk menegaskan jati diri: bahwa adat bukan sekadar peninggalan, melainkan napas kehidupan yang terus berdenyut.
Ketika arak-arakan memasuki arena festival, penonton terdiam sejenak. Kain adat berkibar, musik tradisi bergetar, dan mata banyak orang berkaca-kaca. Dalam langkah para perarak, tergambar kisah panjang tentang kampung yang setia menjaga marwahnya.
Bagi para perantau yang pulang menonton, pemandangan itu bak surat cinta dari masa lalu — sapaan lembut dari tanah kelahiran yang seolah berbisik:
“Pulanglah… adat masih hidup di sini. Kami masih menunggu dengan irama yang sama.”
Pesan untuk Generasi Muda
Kepala nagari bersama para tokoh adat sepakat bahwa Arak Sijujuang harus terus diwariskan. Tidak sekadar sebagai seremoni budaya, tetapi sebagai pendidikan karakter — tentang hormat pada yang tua, kasih pada sesama, dan semangat kebersamaan.
“Ini bukan hanya kebanggaan Bukit Kandung,” ujar seorang pemuda nagari dengan mata berbinar. “Ini adalah jiwa kami. Selama kami masih bisa mengarak Sijujuang, selama itu pula nagari kami hidup.”
Menjelang senja, ketika matahari mulai turun di balik bukit, irama gandang tasa perlahan melambat. Namun gaungnya tak pernah benar-benar berhenti. Ia tetap hidup — di dada, di ingatan, di akar setiap anak nagari yang tahu bahwa tradisi adalah cahaya yang tak boleh padam.
Dengan langkah anggun dan hati penuh syukur, Nagari Bukit Kandung menutup penampilannya di Festival 5 Danau. Namun sejatinya, itu bukan penutupan — melainkan pembuka babak baru, penanda bahwa dari bukit-bukit yang diselimuti kabut dan sejarah, adat Minangkabau masih berdenyut, masih hidup, dan akan terus diarak sepanjang masa.
(Dioni)